DEMON SERIES | 1st Wish for Demon

DEMON SERIES

Tittle      : 1st Wish For Demon

Cast       : Kim MyungJin, Choi JunHong, Kim MyungSoo, Moon JongUp

Cameo  : EXO member’s, Infinite member’s, Cho KyuHyun, CN Blue member’s, F(x) member’s

Genre   : Fantasy, Fluff, Alternative Universe, Li’l Bit Romance, Family

Rated    : General

Length  : Chaptered

Disc        : This FanFiction is Originally Mine, I own the Plot and Story, The cast too ^^

1st Wish For Demon

Tell me what your wish

I’ll grant it for you

Kim MyungJin baru saja menyelesaikan piket hariannya ketika semburat jingga menutupi langit kota Busan. Semua teman sekelasnya sudah pulang. Perlahan ia menggeser pintu kelas dan berjalan menyusuri koridor, menuruni tangga, melewati pekarangan dan akhirnya sampai di parkiran. Ia mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju rumah.

Setelah 15 menit mengayuh sepedanya dengan santai menyusuri gang-gang kecil. Ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah mewah bergaya minimalis. Ia lalu turun dan menuntun sepedanya menuju garasi.

“Aku pulang…” MyungJin menggeser pintu utama. Seketika aroma pedas gochujang menyerbu indra penciumannya. Refleks ia terbatuk sembari berjalan pelan menuju dapur. Kakaknya, Kim MyungSoo sedang memasak makan malam rupanya.

Oppa, aromanya menusuk sekali.” MyungJin menutupi hidungnya dengan tangan. Kakaknya itu memang suka sekali masakan pedas. Ia bahkan seringkali menambahkan saus gochujang dua kali lipat dari masakan biasanya. Dan anehnya, masakan buatannya tetap saja enak, meskipun MyungJin harus meneteskan air mata ketika memakannya.

“Kau sudah pulang.” Kim MyungSoo menyeringai, ia melepas satu headset yang terpasang di telinganya. “Apa yang kau katakan tadi? Maaf aku sedang mendengarkan lagu baru, kami akan tampil malam ini di dekat Dongdaemun.”

Aniya, kau akan meninggalkanku lagi malam ini?” MyungJin membuka lemari es dan mengambil sebotol air di pintunya, menaiki meja pantry lalu meneguk isi botolnya pelan-pelan sampai tersisa setengah.

“Oo, akhir-akhir ini band kami mendapat banyak pekerjaan. Itu juga bagus untukmu kan?” MyungSoo mematikan kompor, lalu menuangkan Meuntang buatannya ke dalam pot keramik.

“Apa bagusnya kalau kau selalu meninggalkan adik perempuanmu sendirian di rumah setiap malam?” MyungJin mengerucutkan bibirnya, pura-pura marah.

“Ini kan juga demi kita, memangnya kau mau makan apa kalau oppa tidak bekerja hmm? Kita tidak bisa menggunakan uang saku dari eomma, kau tahu keadaan ekonomi keluarga menurun setelah appa tidak ada.”

“Kalau begitu ajak aku, aku bosan di rumah sendirian.” MyungJin menunjukkan aegyonya, terhitung sudah sepuluh kali ia mencoba merayu kakaknya agar diperbolehkan ikut. Tapi tentu saja Kim MyungSoo selalu menolak, dengan alasan yang sama.

Aniya! Kau harus belajar! Oppa lihat ujian matematikamu kemarin benar-benar mengerikan, kau harus memperbaikinya.”

“Kau selalu menyuruhku belajar matematika.”

“Karena kau hanya lemah di pelajaran itu..” MyungSoo mencubit ujung hidung MyungJin.

Arasseo, aku akan belajar.” MyungJin menyerah, kakaknya memang bukan tipe orang yang mudah luluh dengan aegyo ataupun gwiyoumi. Sebenarnya MyungJin juga heran, kenapa otaknya tidak sama dengan milik MyungSoo. Kakak laki-lakinya itu selalu mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran semasa SMA-nya.

“Good girl.” MyungSoo mengacak rambut MyungJin pelan. “Cepat mandi, dan kita makan bersama.”

MyungJin mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan tergesa.

15 menit kemudian keduanya sudah duduk berhadapan di meja makan. Menikmati meuntang buatan MyungSoo bersama.

“Apa yang kau lakukan akhir pekan ini?” MyungSoo membuka suara.

“Mmm… tidak ada, aku hanya akan di rumah dan belajar.” MyungJin menekankan setiap kata-nya.

“Hahaha, kalau begitu kau mau melakukan variasi?” MyungSoo mengerling.

“Variasi?” MyungJin menelan kuah meuntang sambil mengernyit,  “Try me!”

“Dengar! Kami, maksudku aku dan para anggota band yang lain akan mengadakan perjalanan singkat keluar kota. Tepatnya kami mendapat undangan tampil di acara prom salah satu SMA di Incheon, acaranya sabtu malam. Jadi kami juga memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar pada hari minggunya. How it’s sounds?”

Mata MyungJin seketika berbinar. Ia bahkan lupa menutup mulutnya karena terlalu terkejut. Kakaknya ini memang jarang sekali mengajaknya jalan bersama dengan teman-temannya. Overprotektif, mungkin.

“Sounds great!” MyungJin berteriak saking senangnya. Bibirnya juga tidak bisa berhenti tersenyum. Ini akan jadi akhir pekan yang indah.

“Bagus! Kau bersemangat sekali rupanya.” MyungSoo ikut tersenyum.

Oppa adalah kakak terbaik di dunia.” MyungJin beranjak dari kursi dan memeluk kakaknya dari belakang. Membenamkan kepalanya di pundak MyungSoo. MyungSoo tersenyum seraya mengusap lengan adiknya yang melingkar di pundaknya

“Aku saaangat menyayangimu oppa.”

Nado.”

MyungSoo sudah berangkat ke Dongdaemun 4 jam yang lalu. Lagi-lagi Kim MyungJin harus melewatkan malam sendirian. Rumahnya memang tidak terlalu besar. Tapi kalau hanya sendiri, kadang ia merasa takut. Ia baru saja menyelesaikan tugas rumahnya untuk lusa. Terlalu rajin, memang. Gadis ini tidak mau menyia-nyiakan waktu belajarnya sama sekali. Ia tidak ingin membuat kakaknya kecewa. Satu-satunya hal yang melintas di pikirannya, satu-satunya cara yang mungkin membuat MyungSoo semakin menyayanginya.

MyungJin menggeser pintu balkon, melangkahkan kakinya keluar. Angin malam musim panas bertiup, membawa aroma tanah basah. Hujan sudah berhenti turun, jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 10, tapi kakaknya belum juga pulang. MyungJin berniat menungguinya di balkon sambil memandangi jalanan di bawahnya yang masih ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar kaca sambil menumpu dagunya dengan dua tangan.

Aroma hujan membuat ingatannya kembali ke masa lalu. Mengingatkannya pada seseorang yang pernah membuat jantungnya berdetak abnormal ketika melihat wajahnya. Seseorang yang berhasil membuatnya menjadi bulan-bulanan kakaknya karena menyukai teman sekelasnya di kelas sepuluh. Moon JongUp.

MyungJin duduk di kursi dengan mata terpejam. Mengingat kisah cinta monyetnya dengan JongUp memang sedikit menyesakkan. Terlebih karena kakaknya yang menyuruhnya untuk berhenti mencintai laki-laki itu. Kakaknya memang terbilang sangat overprotektif terhadapnya. Kim MyungSoo memang bukan laki-laki berhati dingin dan jahat. Dia hanya terlalu menyayangi adiknya.

“Aku benci kalau harus menyakiti oppa, jadi lebih baik sampai disini saja JongUp-ah.”

Ingatan ingatan menyedihkan itu kembali melambung, membuat dadanya sesak.

“Arra, aku tahu kau sangat menyayangi kakakmu.”

Bulir bening itu akhirnya jatuh.

“Mianhae, kita masih bisa berteman kan setelah ini?”

Cinta pertama yang berakhir menyedihkan.

“Tentu, kita akan tetap berteman.”

MyungJin tersenyum hambar. Menjadi teman, ternyata tidak semudah mengatakannya. Nyatanya ia begitu tersiksa tiap kali JongUp dekat dengan gadis lain. Hatinya selalu tidak pernah rela.

MyungJin membuka matanya. Menghapus sisa air mata yang sudah berhenti mengalir. Ia menyadari kalau terlalu larut dalam nostalgia.

“Apa yang sedang kulakukan?” MyungJin hendak beranjak dari duduknya ketika tanpa sadar matanya menangkap setitik cahaya yang jatuh di langit.

Bintang jatuh

“Ah! Aku harus mengucapkan permohonan.”

MyungJin menangkupkan tangannya sambil memejamkan mata.

Wish for the Demon

“Jinni-ah..”

“Jinni-ah ireonna!”

“Mm… lima menit lagi oppa.”

“Siapa yang kau panggil oppa?” Ucap suara itu lagi. Seketika MyungJin mengerjapkan matanya, menyadari bahwa suara yang membangunkannya bukan suara cempreng Kim MyungSoo, kakaknya. Suara ini sedikit lebih berat, meskipun sama cemprengnya.

“S-siapa kau?!” MyungJin hampir melompat dari kursinya ketika matanya sudah terbuka sepenuhnya. Dihadapannya berdiri seorang laki-laki berkulit pucat, berambut blonde dengan pakaian aneh tengah menyeringai padanya.

“Aku, demon yang kau panggil.”

“Demon?” Bulu kuduknya meremang begitu mendengar kata demon. Kata-kata itu tidak asing di telinganya. MyungJin sempat membaca buku tentang makhluk mitos beberapa hari yang lalu di perpustakaan. Di buku itu juga dijelaskan tentang demon.

Demon, bukankah makhluk jahat?

“Ya, dan aku datang untuk mengabulkan semua permohonanmu.”

“Jangan bercanda! Siapa kau? Kau pencuri?” MyungJin memicingkan matanya.

“Hahaha, untuk apa aku mencuri di rumahmu yang kecil ini Kim MyungJin?”

MyungJin berdecih kesal, “Lalu, apa maumu?”

“Sudah kubilang, aku datang untuk mengabulkan permohonanmu.”

“Kau… akan mengabulkan permohonanku? Bagaimana caranya?”

“Sudah kubilang aku ini demon, cepat ucapkan satu permohonan dan aku akan mengabulkannya.”

“Wow wow, tunggu…jadi kau ini semacam jin lampu?”

“YA! Jangan samakan aku dengan makhluk itu! Aku ini demon!”

“Bukankah demon itu makhluk yang jahat?”

“Tidak semua, aku ini baik. Buktinya, aku mau datang jauh-jauh kesini untuk mengabulkan permohonanmu.”

MyungJin mengusap pelipisnya, berpikir satu cara agar ia tahu kalau laki-laki didepannya tidak sedang mengerjainya. “Aku ingin melihat salju.”

MyungJin tertawa dalam hati. Sekarang sedang musim panas, tidak mungkin salju turun di musim panas. Itu…

Pluk

Butiran putih mendadak jatuh ke permukaan wajahnya. Butiran itu memberikan efek dingin sebelum meleleh dan menghilang. MyungJin menengadahkan tangan dan mengerjapkan matanya berkali-kali.

Ini kiamat?

Laki-laki berkulit pucat didepannya menyeringai senang.

“Sekarang kau percaya?”

MyungJin meremas ujung piamanya, bimbang. “Tapi aku tidak memanggilmu.”

“Kau ingat bintang jatuh yang tadi?” Demon itu tersenyum, “Itu aku.”

FIN

Next Part             : 2nd First Wish

Advertisements

7 thoughts on “DEMON SERIES | 1st Wish for Demon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s