DEMON SERIES | 2nd First Wish

DEMON SERIES

Tittle      : 1st Wish For Demon

Cast       : Kim MyungJin, Choi JunHong, Kim MyungSoo, Moon JongUp

Cameo  : EXO member’s, Infinite member’s, Cho KyuHyun, CN Blue member’s, F(x) member’s

Genre   : Fantasy, Fluff, Alternative Universe, Li’l Bit Romance, Family

Rated    : General

Length  : Chaptered

Disc        : This FanFiction is Originally Mine, I own the Plot and Story, The cast too ^^

Preview : 1st Wish For Demon

2nd First Wish

The shooting star that you see

It’s me

MyungJin mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia berguling kesamping sebelum akhirnya bangkit untuk duduk. Tangan kanannya meraih remote AC yang tergeletak di atas nakas. Menekan tombol off lalu berjalan menuju pintu balkon, menggeser pintu kayu itu. Membiarkan hawa pagi masuk kedalam kamarnya. Suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin menyapa pendengarannya begitu kakinya melangkah ke balkon. Ia meregangkan tangannya lebar-lebar sembari menghirup oksigen banyak-banyak. Ritual pagi hari yang jarang dilewatkannya.

Setelah cukup dengan ritualnya, ia kembali masuk kamar. Menyambar handuk yang tergantung di pintu kamar mandi dan melesat ke balik pintu bergambar awan itu.

15 menit setelahnya, ia sudah siap dengan seragam sekolah berwarna biru langit dan rok biru tua diatas lutut, menuruni tangga rumahnya setengah berlari. Samar-samar ia bisa mendengar suara MyungSoo sedang berbicara.

Oppaa, annyeong.” MyungJin menuruni anak tangga terakhirnya.

“Oh, selamat pagi… Aku baru saja akan ke atas.” MyungSoo tersenyum, ia mengenakan kemeja motif kotak-kotak merah dibalik apron hitamnya. “Ayo cepat kemari! JunHong sudah menunggumu dari  tadi.” MyungSoo melemparkan seutas senyum sambil menuangkan susu hangat ke mangkuk yang berisi sereal. MyungJin mengernyit, bingung.

JunHong?

Seingatnya ia tidak kenal seseorang bernama JunHong.

“Siapa JunHong, oppa?” MyungJin merapikan dasinya sambil berjalan pelan menuju dapur.

“Aku!” Seorang laki-laki berambut blonde, berkulit putih pucat, mengenakan seragam sekolah yang sama dengan murid laki-laki di sekolah MyungJin menoleh. “Astaga, kau pura-pura lupa Jinni-ah.”

“OMO!” MyungJin berjingkat. Wajah itu familiar.

Aku, demon yang kau panggil.”

Bibir tipisnya melengkung keatas, mata hazelnya berbinar.

“Kenapa kau bereaksi berlebihan seperti itu? Ayo cepat duduk dan habiskan sarapanmu.” MyungSoo meletakkan segelas susu cokelat ke meja makan.

MyungJin melangkahkan kakinya dengan perlahan, seolah ada barbell berat yang terikat di pergelangan kakinya. Jantungnya berdegup kencang.

Demon itu, sedang apa disini?

“Kenapa? Kau ada disini?” MyungJin menatap demon yang juga menatapnya dengan ekspresi datar.

MyungSoo menaikkan sebelah alisnya. “Tentu saja dia menunggumu, kalian kan selalu berangkat bersama.”

“Ye?”

“Apa ini semacam lelucon april mop?” JunHong kembali menampakkan senyumannya.

“Aku? Dan dia?” MyungJin bergeming, mengurungkan niatnya untuk menarik kursi dan duduk di sebelah JunHong. “Bagaimana bisa?”

“Kalian berteman sejak kecil, kalau kau perlu kuingatkan.” MyungSoo menggigit ujung sandwichnya. “Sudahlah Jinni, cepat sarapan dan berangkat. Kau mau dihukum Han ssaem?”

Ragu-ragu MyungJin menarik kursi disamping JunHong. Tempat biasanya ia duduk. JunHong menatapnya masih dengan seringai yang sama, pipinya menggembung karena dipenuhi sereal. MyungJin balas menatapnya dengan tatapan-Apa-yang-kau-lakukan-pada-kakakku?-nya.

Kim MyungSoo sangat overprotektif pada Kim MyungJin, bukan berita baru. Ia bahkan tidak segan-segan memarahi laki-laki yang berani mendekati adiknya. Tidak terkecuali Moon JongUp. Tapi pagi ini, seorang laki-laki berkulit pucat dengan seringaian jenaka membuat MyungJin hampir mati berdiri. Dan kakaknya bilang mereka teman sejak kecil? Berangkat sekolah bersama? Lelucon apa yang sedang dimainkan demon itu?

MyungJin merasakan denyutan aneh di kepalanya. Pusing. Ia buru-buru memakan serealnya dan meneguk habis susu coklat hangatnya. Tidak ingin berlama-lama dengan situasi aneh ini, terjebak dengan dua orang laki-laki yang sekarang saling bertukar cerita tentang musisi kesukaan mereka.

“Aku sudah selesai.” MyungJin beranjak dari kursinya, menyampirkan ranselnya asal.

Kedua laki-laki itu menoleh-sedikit mendongak.

“Aku juga, baiklah kami berangkat dulu hyeong.” JunHong ikut bangkit dari kursinya, membungkuk pada MyungSoo lalu mengikuti MyungJin yang sudah berjalan cepat menuju garasi rumahnya.

First Wish

“Aku ingin mendapatkan nilai sempurna di ulangan matematika besok.” MyungJin mengucapkannya dengan mantap.

“Call.” Laki-laki didepannya menjentikkan jari.Seketika semuanya berubah gelap.

Kim MyungJin sudah berada di dalam kelasnya bersama dengan murid-murid lain. Tangan kirinya bergerak lincah diatas kertas note, menuliskan penjelasan Cho ssaem yang menurutnya penting. Sedangkan laki-laki didepannya sudah asik tertidur. Kepala blondenya tergeletak manis diatas meja. Tidak sadar bahwa tatapan seluruh penghuni kelas tertuju padanya. Laki-laki yang kemarin malam mengaku sebagai demon itu ternyata satu kelas dengannya. Lebih parahnya lagi, ternyata laki-laki jangkung itu duduk tepat di depannya. MyungJin sendiri malas memikirkan bagaimana cara laki-laki itu melakukannya. Ia sudah cukup dikagetkan dengan penjelasan kakaknya mengenai JunHong pagi ini.

“Apa yang sebenarnya dilakukan laki-laki ini?” MyungJin mendesah pelan sambil mengusap pelipisnya. Cho ssaem yang terkenal killer itu sedang berjalan mendekati bangkunya, ah lebih tepatnya bangku didepannya.

“Choi JunHong!” Suara bariton Cho ssaem terdengar menggelegar, seperti petir. MyungJin pura-pura sibuk dengan catatannya, tidak berani memandang wajah galak itu. Ia takut kena imbasnya juga nanti. Kebiasaan Cho ssaem ketika marah, siapapun yang ada di dekat si korban maka dia akan jadi sasaran berikutnya.

Perlahan JunHong mengangkat kepalanya. Sepasang mata kecilnya mengerjap, bibirnya otomatis membentuk lengkungan. Sebuah senyum menawan.

“Choi JunHong! Tolong perhatikan ketika gurumu sedang menerangkan!”

Begitu saja, dan Cho ssaem berlalu dari hadapan JunHong. MyungJin hampir saja menjatuhkan rahangnya kalau saja tidak ada tulang yang menyangganya. Ia pikir Cho ssaem mungkin akan menyuruhnya keluar kelas atau paling tidak memberikan ceramah super panjang seperti yang biasa dilakukannya pada murid yang tertidur ketika beliau mengajar.

“Apa yang barusan?” Gumamnya sambil menunjuk Cho ssaem yang sudah kembali ke depan dan menuliskan beberapa soal matematika di papan.

“Menurutmu?” JunHong menoleh kebelakang, mengerling lalu kembali fokus pada soal di papan tulis.

“Keluarkan selembar kertas, kita akan mengulang pelajaran hari ini.” Suara berat itu kembali terdengar. “Waktunya 30 menit dan jangan ada yang mencoba curang!”

Seketika keringat dingin membasahi telapak tangan MyungJin. Ia benci matematika. Ia selalu mendapat nilai sempurna di semua pelajaran, kecuali matematika tentu saja.

Dengan malas ia mengambil selembar kertas dari dalam tasnya. Menuliskan namanya dengan malas juga. Dalam hati ia merutuki demon yang sekarang sedang duduk tenang di kursinya, tangannya seperti menuliskan sesuatu, mengerjakan soal mungkin.

Nilai sempurna? Sepertinya tidak mungkin

“Kerjakan saja sebisamu Jinni-ah.” Suara cempreng itu terdengar, seolah menjawab apa yang dipikirkan gadis itu.

“Kau bilang akan membantuku?” MyungJin berbisik. Matanya memandangi soal di papan tulis, mencoba memahaminya.

“Tentu, nilai sempurna kan?” JunHong kembali menyahut tanpa menoleh.

MyungJin berdecak kesal, tangannya sibuk mencoret-coret kertas dengan berbagai rumus. Mengerjakan yang menurutnya mudah.

Tapi, yang benar saja? Dari 10 soal, ia hanya mampu menjawab 3 soal. Yang lainnya, ia sama sekali tidak mengerti. MyungJin menggigit bibir bawahnya, gugup. Matanya melebar tiap kali jarum menit pada jam dinding diatas papan tulis bergeser. Waktunya akan segera habis dan dia baru mengerjakan 3 soal.

Ini kiamat kedua!-setelah insiden salju di musim panas kemarin malam.

“Satu menit lagi!”

Mati aku!

MyungJin semakin gelisah di bangkunya. Matanya memandangi sekeliling, teman-temannya sudah mulai mengumpulkan hasil kerjanya di meja guru.

Selamat tinggal matematika

MyungJin menumpukan dagunya pada meja. Memandangi kertas jawabannya yang baru terisi 3 nomor.

“Nilai sempurna apanya?”

“Sudah kubilang untuk mengerjakan sebisamu kan?” JunHong tiba-tiba berbalik dan mengambil kertas jawaban milik MyungJin. Menukarnya dengan kertas jawaban miliknya.

“Apa yang kau?”

“Nilai sempurna, ingat?” JunHong tersenyum. MyungJin mengerjap, mendadak debaran jantungnya seperti meningkat 2 kali lipat. Dan sebelum MyungJin sempat berkata lagi, JunHong sudah bangkit dari kursinya. Mengumpulkan kertas jawaban miliknya yang berisi 3 nomor, 3 Nomor!!!

“Apa?” MyungJin memekik tertahan, ia membaca lembar jawaban JunHong. Tulisan dan nama itu miliknya. Persis sama dengan tulisan tangannya. Ragu, ia akhirnya ikut bangkit dari kursinya. Meletakkan kertas jawaban miliknya lalu berbalik menuju bangkunya di pojok ruangan.

Ia memandangi JunHong yang sedang bergurau dengan teman sekelasnya dengan tatapan malas.

Apa lagi yang dia lakukan sekarang?

Seharian ini ia sudah mengalami kejadian mengejutkan secara bertubi-tubi. Kepalanya berdenyut lagi, ia meraih botol air minum miliknya. Meneguk isinya sampai habis.

“Kau kenapa?” Tiba-tiba wajah jenaka JunHong sudah muncul di hadapannya, memandangnya serius. “Wajahmu, kelihatan pucat.”

“Tidak ada, aku hanya sedikit lelah.” Elak MyungJin, mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Mm… kau mau ke UKS?” Tawar JunHong, “Aku bisa mengantarmu kalau kau mau.”

“Tidak, terimakasih.”

“Atau kau mau kusembuhkan?” Tawar JunHong lagi.

MyungJin balik menatapnya dengan penasaran.

“Bagaimana?”

“Tidak, terimakasih.” MyungJin menggelengkan kepalanya.

“Mmm… aku hanya ingin membantu.”

Demon ini keras kepala sekali

“Bukan aku yang keras kepala.”

Aish

“Jangan mengumpat.”

Jangan membaca pikiranku, babo!

Mian.

Pergi sana! Kau membuatku semakin pusing

“Ara, kalau kau membutuhkanku panggil aku tiga kali.” JunHong menepuk kepala MyungJin sambil  tertawa lalu melesat keluar kelas.

“Memangnya kau hantu?” Gumam MyungJin. “Ah, dia kan demon.” MyungJin hampir terkekeh ketika Krystal menatapnya.  Ia berdehem lalu kembali sibuk dengan note yang tergeletak di mejanya.

Tapi kemudian ia memegang kepalanya, denyutan itu hilang.

Suara keramaian yang riuh rendah terdengar dari arah lapangan basket didekat taman. Setelah jam istirahat berbunyi, MyungJin memutuskan untuk pergi ke taman hanya sekedar bersantai sambil mendengarkan musik dari IPodnya. Tapi suara teriakan dari lapangan itu menggagalkan rencana indahnya. Ia menyerah, melepas sepasang headset dari telinganya, pandangannya beralih ke lapangan basket yang dipenuhi para siswa jangkung yang berebut bola. Samar-samar ia bisa melihat Lee JeongShin melakukan lay up.

Ya! Sedang apa kau disini?” Sebuah suara terdengar, mau tidak mau MyungJin menoleh dan mendapati BaekHyun sedang memandanginya dengan alis terangkat.

“Mmm… tidak ada.” MyungJin menatapnya dengan ekspresi datar. “Jangan pasang ekspresi sok serius itu Byun BaekHyun! Tidak cocok.”

BekHyun menurunkan alisnya lalu terkekeh. “Kenapa kau disini?”

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” MyungJin memasukkan IPodnya ke saku lalu menumpukan tangannya pada meja , posisi favoritnya. “Kenapa kau kesini? Kau tidak ikut main basket dengan soulmate mu?”

“Eyy… kau tidak lihat bagaimana para raksasa itu bermain? Aku bisa saja cedera atau yang lebih parah salah satu tulangku patah.”

“Berlebihan.” MyungJin terkekeh, memandangi lapangan yang memang dipenuhi para raksasa di sekolahnya itu. Ia bisa melihat siluet Park ChanYeol-Soulmate Byun Baekhyun-sedang mendribel bola sambil menghindar dari Kris Wu yang berusaha merebut bola.

“Memang.” BaekHyun ikut memandangi lapangan basket. “Aku boleh duduk disini kan?”

“Eumm? sejak kapan kau minta izin sebelum melakukan sesuatu?”

“Ah, benar juga.” BekHyun melemparkan seulas senyum lalu meletakkan kepalanya ke meja. Perlahan, mata kecilnya mulai tertutup. MyungJin menatapnya sebentar sebelum pandangannya kembali ke lapangan basket.

MyungJin memicingkan matanya, demon itu sedang tertawa senang sambil memeluk rekan se timnya ketika ia berhasil memasukkan bola ke ring.

Kurasa, dia terlalu baik sebagai demon

Menurutmu begitu?

MyungJin tersentak, suara itu terdengar lagi. Ia bisa melihat JunHong tersenyum padanya sambil mengerling.

FIN

Next Part             : 3 A Long Journey

Advertisements

5 thoughts on “DEMON SERIES | 2nd First Wish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s