FLUFF | 3 Thing’s I Loved

3 Things I loved are

Ballad Song

Sweet Story

And Rain

Kuamati tetesan-tetesan air yang semakin banyak jatuh di seberang jendela kamarku. Langit yang berubah gelap dan udara yang semakin dingin. Lagu-lagu ballad masih setia mengalun dari mp3 yang kusetel, novel tentang cerita cinta yang romantis masih tergeletak dihadapanku. Untuk sesaat aku lupa kalau aku berada didalam kamarku, suasana yang membuatku nyaman. Rintik hujan yang terdengar seperti simfoni yang dimainkan alam, suara daun yang bergesekan dan suara bel angin yang bergemerincing. Semuanya terdengar dan terlihat begitu sempurna diluar sana. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, aku mengalihkan pandanganku kearah pintu yang berderit terbuka diikuti sesosok laki-laki yang muncul dibelakangnya.

Ia berjalan kearahku sambil mengulum senyum. Kedua tangannya menenteng dua tas belanjaan.

“Annyeong.” Sapanya lalu melebarkan senyum, senyum seperti magnet selalu berhasil membuatku ikut  menarik sudut bibirku keatas. Ia menaruh tas belanjaannya di kursi lalu duduk di tepi ranjangku.

“Kau sudah makan?” Tanyanya, pertanyaan yang sama setiap harinya.

Aku menggeleng untuk menanggapi pertanyaannya. Seketika wajahnya berubah heran.

“Kenapa belum makan?” Tanyanya lagi.

Kali ini aku hanya tersenyum sambil menatapnya.

“Kau menungguku?”

Aku mengangguk.

“Ah, kau bisa sakit karena telat makan kalau menungguku.” Dia mulai mengomel lagi, seperti biasa. Kalau sudah begitu, aku hanya perlu tersenyum sambil menatapnya, memelas.

“Aku akan membuatkanmu makanan, tunggu disini.” Diapun beranjak lalu mengambil tas belanjaan yang diletakkannya di kursi tadi kemudian menghilang dibalik pintu kamarku.

“Memangnya aku bisa kemana?” kualihkan pandangaku keluar jendela, hujan masih turun namun tidak sederas tadi. Aku bisa melihat gerombolan anak SMA yang pulang dengan seragam basah kuyup, ransel tahan air mereka gunakan sebagai pengganti payung. Meskipun dingin, mereka tetap tertawa senang menikmati setiap tetes bening yang berjatuhan dari awan hitam di langit sana. Tiba-tiba terdengar suara Guntur menggelegar, membuat gerombolan anak SMA tadi berlarian.

“Kau sedang melihat apa?”

Aku menoleh, laki-laki itu sudah kembali dengan sepiring pasta dan mug berisi coklat panas. Asapnya mengepul dari permukaannya. Menyebarkan aroma pahit dan manis ke penjuru ruangan.

“Ayo makan.” Dia meletakkan mug berisi coklat panas di meja lalu duduk disebelahku.

Dia kemudian mengulurkan sesendok pasta ke depan bibirku.

aku menatapnya sebentar, perlahan kubuka mulutku melahap sesendok pasta itu.

“Bagaimana?”

Kuacungkan jempolku sambil mengunyah pasta buatannya.

“Syukurlah, kukira aku tadi memasukkan garam terlalu banyak.” Dia tersenyum kembali menyodorkan sesendok pasta.

Min YoongI adalah sesosok malaikat yang menjelma menjadi laki-laki berumur 20 tahun dan memiliki wajah seperti pangeran negeri dongeng yang tampan. Laki-laki yang mempunyai senyum semanis gula dan mata yang selalu terlihat berbinar seperti bintang.

7 tahun yang lalu, dia secara sengaja masuk ke rumahku untuk bersembunyi dari gerombolan anak SMA yang mengejarnya. Dan dia menemukanku, sedang berbaring di ranjangku yang nyaman sambil menatap langit-langit kamarku yang dicat serupa dengan langit diluar sana. Ekspresi terkejutnya terlihat amat manis ketika ia membuka pintu. Kepalanya tersembul diantara dinding dan pintu sambil berkali-kali mengucap maaf. Aku hanya menatapnya mencoba menahan tawa tanpa suara yang mungkin akan terlontar kalau aku tidak mencengkeram selimutku erat-erat.

Pertemuan itu seperti sudah menjadi takdir. Setelah mengetahui kondisiku, dia akhirnya menceritakan tentang dirinya dan aku hanya mendengarkan dengan seksama. Besoknya ia kembali datang setelah meminta ijin padaku. Kukira ia tidak akan datang, namun ia benar-benar datang sambil membawa satu tas berisi belanjaan. Setelah hari itu, setiap hari dia selalu datang dengan tas belanjaannya dan memasak untukku.

Hujan sudah berhenti turun, dan aku sudah menghabiskan pasta juga coklat panasku.

Wajah YoongI terlihat lelah, kedua matanya terpejam erat. Laki-laki itu tertidur setelah menyuapiku. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya.

“CheonSa.”

Gerakanku terhenti, tubuhku membeku.

Dia mengerang pelan sambil menggerakkan kepalanya namun dengan mata yang masih terpejam erat.

Aku menghela napas, lega. Kuulurkan kembali tanganku untuk menyentuh wajahnya. Kusingkirkan beberapa helai rambut halus yang menutupi keningnya dengan hati-hati. Bergerak sepelan mungkin agar dia tidak menyadarinya.

“Yoong~ Kau tidak tahu kan? kalau aku menyukaimu lebih dari lagu ballad, cerita yang manis dan hujan.”

-FIN-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s