[FF] LOVE NEEDs MONEY

Tittle     : Love Needs Money

Scriptwriter        : azuream8

Main Cast            : Park Chan Yeol (EXO), A Girl (OC)

Support Cast      : Kris Wu (EXO)

Genre   : Fluff, Romance, Comedy

Duration              : Chapters

Rating   : PG

Copyright © 2014 azuream8

All rights reserved

Summary

Once I falling love

I gave him my heart

And my platinum card

***

Park Chan Yeol. Terdiri dari 3 kata dan 12 huruf. Tapi, ada banyak kata yang bisa mendeskripsikannya.

Tampan, ya dia sangat tampan. Sepasang mata yang lebar, hidung mancung, kulit seputih susu, lesung pipi samar, rambut berombak warna coklat gelap dan bibir yang selalu mengulas senyum jenaka.

Lucu, dia lucu dengan segala tingkah konyolnya yang kekanakan dan kadang tidak masuk akal di usianya yang menginjak 22 tahun. Pernah satu kali aku memergokinya sedang membalut kepalanya-termasuk wajahnya-dengan aluminium foil yang harusnya kami pakai untuk memasak lasagna. Dan dia terlonjak ke belakang karena aku tiba-tiba muncul di sampingnya, menatapnya dengan sebelah alis terangkat sebelum meledak dalam tawa.

Romantis, yah harus kuakui dia romantis, terutama pada saat-saat tertentu. Tolong garis bawahi saat-saat tertentunya.

Serba bisa, karena dia memang sangat bisa diandalkan dalam segala hal. Memasak misalnya. Dia jago memasak, dan aku suka itu.

Mata duitan, yah, dia mata duitan. Dan yang terakhir ini, yang membuatku jatuh cinta padanya. Percaya atau tidak.

Biar kuceritakan awal pertemuan kami yang…err sedikit dramatis.

Kalau kau mungkin berharap pertemuan dengan calon kekasihmu adalah momen romantis, maka begitu juga denganku. Tapi, semua bayangan indahku sirna begitu saja ditelan Park Chan Yeol.

Dia mengambil dompetku diam-diam ketika aku sedang mengantre membeli tiket pertunjukan band underground kesukaan temanku. Temanku yang rocker wannabe itu sedang tidak bisa membelinya, maka aku yang kesana, mengantre, berdesak-desakan dengan gerombolan orang bertindik dan bertato menyeramkan. Oh, jangan lupakan kalau itu sudah jam 11 malam lewat. Dan aku sendirian. Sendirian di tempat asing dan dikelilingi orang-orang menyeramkan, sungguh aku akan memastikan orang suruhan ayahku membunuh temanku itu kalau sampai ada sesuatu yang buruk menimpaku. Err, itu sedikit kejam.

Baiklah, kembali ke topik!

Aku sedang mengantre dan akhirnya tiba giliranku membeli tiket. Seorang gadis SMA, ya! Gadis berseragam SMA duduk dibalik loketnya. Dia tersenyum ramah padaku ketika aku menyebutkan “Tolong, 2 tiket.”

Dia menyobek 2 lembar tiket dan menyerahkannya padaku. Sedangkan aku merogoh tasku untuk mengambil dompet. Dan aku hampir memekik ketika dompetku tidak ada didalam sana. Oh Tuhan! Apa lagi ini?

Aku menatap gadis loket didepanku dan tiket di loket bergantian, dengan raut super panik. Lalu memejamkan mata, menghela napas panjang, dan meremas jariku. Aku panik, ok! Aku sangat panik!

“Hei! Kau sedang apa sih?!” orang di belakangku berteriak kesal karena aku sudah berdiri di depan loket terlalu lama. Tidak sabaran sekali orang ini.

Aku menggigit bibir bawahku, gugup “Maaf, aku kehilangan dompetku.. bisakah, bisakah kau menyimpan tiketnya dulu? Aku janji akan kembali lagi dan membayarnya, eum.. tiga kali lipat dan kau bisa menyimpan sisanya. Bagai-mana?”

Gadis loket didepanku menaikkan sebelah alisnya, lalu menarik tiket yang sudah disobeknya tadi. “Pastikan kau kembali eonni!” dia berucap penuh penekanan. Dan aku mengangguk pelan sebelum menarik diriku keluar dari antrean.

“Uh, kemana dompetku?” Aku mengobrak-abrik isi tasku. Mencarinya sekali lagi. aku berdiri di bawah lampu di gang. Tidak cukup terang, tapi cukup membantuku melihat keadaan tasku. Selain dompet, isi tasku yang lain masih ada di sana.

“Dimana?” Aku menoleh, menatap sekeliling gang yang diterangi lampu temaram.

Oh oh! Aku melihat sekelebat bayangan orang berlari di perempatan gang.

Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengejarnya. Rasa ingin tahu dan rasa marah mengalahkan ketakutanku berada di tempat asing. Mengabaikan kemungkinan aku diculik, dianiaya, di.. aku tidak sanggup mengatakannya.

Aku mengikutinya. Sosoknya amat tinggi berlari seperti bayangan di jalanan sempit. Dan aku melihatnya, benda persegi berwarna coklat dengan motif kulit ular asli keluaran J.estina, pin golden crown-nya mengkilat terkena sinar lampu.

YA! Berhenti disana!” aku berteriak sekuat tenaga.

Langkahku kecil-kecil dan aku mulai lelah.

YAAAA!!!!! KEMBALIKAN DOMPETKU!!!” Aku berhenti, membungkuk sambil bernapas pendek-pendek. Perutku kram dan kakiku sakit karena terlalu semangat berlari. Mataku memanas, dan dalam sedetik genangan air muncul menghalangi pandanganku.

“Kembalikan! kau dasar pencopet sialan!”

Aku menangis, terduduk di jalanan sempit sambil memeluk lutut.

“Kembalikan..” Gumamku lagi.

Suara langkah kaki-sedang melangkah kearahku-terdengar jelas di gang yang sepi dan kecil ini. Aku ingin mendongak, tapi tiba-tiba rasa takut kembali menyergapku.

“Nona… kau tidak apa-apa?” Tanyanya, suaranya berat. “Nona?” Dia menarik lengan hoodie-ku. Sopan sekali dia!

Taku-takut, aku menggerakkan kepalaku untuk melihatnya.

Matanya yang lebar menatapku ingin tahu. Dia… masih muda? Dan tampan!

Aku mendongak.

“Kau menangis?” Ucapnya. Aku menatapnya dengan mata melebar. Pertanyaan macam apa itu? dan, hey! Kau mengambil dompetku!

Pandanganku mengarah ke tangannya yang menggenggam dompetku.

“Kembalikan dompetku!” Suaraku sedikit parau.

Dia bergeming, menatapku dengan sepasang mata besarnya. Oh oh, apa ini?

Mendadak jantungku berdetak lebih cepat.

“Kembalikan! Sebelum aku menelepon polisi!” Ucapku lagi.

Kali ini dia menatapku dengan alis menyatu, dengan gerakan pelan dia menyodorkan dompet itu padaku.

“Aku-aku-aku belum mengambil apapun.” Cicitnya. Dia, laki-laki jangkung itu berjongkok di depanku.

Heh? Tunggu! Apa yang dia katakan?

“KAU!” Aku menarik napas dalam-dalam. “Ceritakan alasanmu kenapa mengambil dompetku! Dan aku benar-benar melepaskanmu.”

Dia mengerjap dua kali sebelum bercerita.

Pertemuan yang aneh. Dan biar kupersingkat.

Dia membutuhkan uang untuk membeli gitar baru. Dia sudah meminta pada orangtuanya yang melarangnya bermusik, tapi tentu saja tidak diberi. Dia bisa saja kerja sambilan, tapi dia membutuhkan uang itu, segera! Lagipula, ayahnya sendiri yang membanting gitarnya dan memukulkannya ke lantai sampai menjadi kepingan-kepingan kecil. Dia membutuhkan gitar baru untuk tampil di kafe bersama band-nya. Dia bilang itu sangat penting, dan teman-temannya bisa membunuhnya kalau dia tidak datang bersama gitarnya.

Pada akhirnya, aku memberinya 50000 won untuk beli gitar baru. Aku luluh karena tatapan memelasnya, oke. Dan aku tidak bisa menghentikan desiran halus yang membuat jantungku berdetak lebih kencang ketika menatapnya.

Dan tiket pertunjukan itu? yah aku kembali ke loket dan membelinya dengan harga 3 kali lipat, membuat gadis SMA di balik loket berteriak kegirangan. Aku memberinya 100000 won, nol-nya ada lima. Dan 15 menit kemudian Kris Wu datang menatapku dengan raut terpolosnya. Mengambil tiket dari tanganku dan melenggang masuk bersama kekasih premannya.

Begitulah,

Dan Park Chan Yeol. Disinilah dia. Dibalik meja pantry dengan celemek biru langit dengan gambar Pororo. Tangannya cekatan memotong kimchi untuk membuat kimchi jigae. Dia, ahli memasak. Seperti yang kukatakan tadi.

Rambutnya yang coklat gelap bersinar diterpa sinar lampu, dia terlihat amat serius tapi membuatnya semakin tampan. Dia mengenakan kaos lengan panjang garis-garis putih biru dibalik celemeknya dan celana denim beige.

Dwesse(baiklah).. kita hanya perlu menunggunya matang.” Chan Yeol tersenyum riang, menatapku dengan mata berbinar sambil melepas celemeknya dan menyampirkannya di pintu kulkas.

Aku mengekorinya. Aku suka memandanginya seperti ini.

“Apa? Apa ada yang aneh?” Tanyanya. Dia berjalan mendekatiku yang duduk sambil menumpukan dua tangan di meja makan. Ada, kau.

Aku meggeleng. “Tidak, hanya… kau terlihat tampan sekali Chan-nie.” Aku menarik ujung bibirku keatas.

Dia menyergapku, memelukku dari belakang. Menumpukan dagunya di pundakku.

“Kau membuatku malu.” Ucapnya pelan. “Aku suka aroma rambutmu.” Ucapnya lagi. aku terkekeh demi mendengar ucapannya barusan.

Aku mengangkat tangan, mengelus rambut Chan Yeol. Halus dan lembut sekali.

“Chan-nie…” Panggilku.

Dia bergumam “Heummm” sebagai jawaban. Masih menenggelamkan wajahnya di bahuku, menghirup aroma stroberi yang menguar dari rambutku.

Kimchi jigae-nya sudah matang, sepertinya.” Ucapku. Dan Chan Yeol langsung menarik kepalanya, melepaskan pelukannya, dan berlari menyeret kakinya menuju dapur.

Dia membuka tutup panci lalu mematikan kompor, mengambil sendok dan mengecap kuah buatannya, lalu tersenyum dan mengerjap satu kali sebelum mengatakan, “Ini enak.”

Dia memuji masakannya sendiri. Dan kembali menghampiriku. Memelukku dari belakang dan menumpukan dagunya di pundakku (lagi).

“Kau akan datang ke kafe kan?”

“Entahlah.

“Ayolaah.. datang heum?”

“Biar kuperiksa jadwalku dulu.”

“Kau sok sibuk.”

“Itu juga karenamu.” Chan Yeol mengerucutkan bibirnya, lucu. “Mana ada gadis 23 tahun yang mencari uang untuk kekasihnya?” lanjutku.

Dia menoleh, mengecup pipiku kilat.

Aku sedikit tersentak. Tidak siap dengan serangan mendadaknya.

“Datanglah..”

“Memangnya kenapa kalau aku tidak datang?”

Chan Yeol mengerutkan keningnya, lalu tersenyum penuh arti.

“Belikan aku piyama motif leopard yang kulihat di Hongdae kemarin ya.” Ucapnya, kali ini alisnya naik-turun.

Aku menghela napas. Lihat! Memangnya aku ibunya? Seenaknya minta dibelikan barang-barang. Salahku juga kenapa harus mencintai laki-laki mata duitan seperti dia.

Setelah kejadian mencopet gagal itu. 2 hari setelahnya, dia akhirnya memutuskan pergi dari rumah dan melanjutkan karir bermusiknya bersama teman-teman band-nya. Dan tebak! Dia pergi kemana?

Yap! Benar sekali. Dia mengetuk pintu apartemenku jam 2 dini hari. Jam 2!!! Disaat aku baru saja terlelap setelah memastikan kalau laporan posisi keuanganku sudah seimbang. Menjadi manajer sebuah restoran  butuh ketelitian ekstra.

“Chan-nie..”

“Ya?” dia menoleh, menatapku dengan manik mata berkilat seperti Morth di film Madagascar.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?”

Dia mengerjap satu kali. “Tentu.”

Aku menarik napas dalam dan membuangnya. “Kau mencintaiku atau uangku?”

Lagi-lagi dia mengerjap. Alisnya bertaut dan keningnya berkerut. Lihat! Dia bahkan tidak bisa memberikan jawaban spontan. “Aku..” dia menatapku dan menarik ujung bibirnya keatas. “aku mencintaimu dan segala yang kau punya.” Dia tersenyum sampai lesung pipi samar di pipinya terlihat.

Yeah,

it means something

Love need money

And my money can buy Chan Yeol’s love

“Aku tidak mencintai uangmu, aku mencintaimu-”

“Yang benar?”

“Ya! Oh oh, kau jadi datang kan?”

“Kuusahakan.”

“Tapi, bisakah aku mendapat piyama itu meskipun kau datang?”

“Chan-nie—“

Arasseo(aku mengerti), saranghae(aku mencintaimu).”

 

 

-END-

Advertisements

One thought on “[FF] LOVE NEEDs MONEY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s