[FF] PROPOSAL

Image

Previous : Love Needs Money

Tittle     : Proposal

Scriptwriter        : azuream8/Kim

Main Cast            : Park Chan Yeol (EXO), Lim Ho Ji (OC)

Support Cast      : Kris Wu (EXO), Baek Sumin (K-Ulzzang)

Genre   : Fluff, Romance, (half tea spoon)Comedy

Duration              : Oneshoot

Previous Part     : Love Need Money

Rating   : PG

Summary

I was wrong

When I want you loves me

Like everyone else loves his lover

I was wrong

Because you could love me

With your own way

***

 

Tidak ada suara kicau burung, atau suara daun yang bergesekan ditiup angin. Hari sudah pagi ketika aku membuka mata. Jam di ponselku menunjukkan pukul 6 kurang 4 menit. Cukup pagi. Namun aktifitas diluar sudah dimulai. Deru kendaraan bermotor terdengar dari apartemenku di lantai 3. Dan ada suara lain yang mengalahkan deru mesin bermotor itu.

DOK DOK DOK!

“Sayaaang… apa kau sudah bangun?”

Suara berat Park Chan Yeol menggema, menembus dinding beton kamarku dan pintu kamarku yang terbuat dari kayu pohon Ek.

“Sayaaaaang….” Panggilnya lagi. Kali ini tanpa disertai suara pintu yang digedor.

Oh ayolah, ini masih pagi. Dan aku belum sempat menguap juga meregangkan otot-ototku. Tapi kekasihku yang tampan tapi sedikit gila itu sudah menggedor pintu kamar dan hey, itu tidak cukup sopan kan? Mengingat aku lebih tua darinya dan ini apartemenku.

“Sayaaang buka pintunyaaaaaa!” Chan Yeol berteriak lagi.

Oh, suaranya yang berat dan keras itu mengalahkan suara alarm yang kusetel. Aku bangkit, duduk dan menyingkap selimutku. Tanpa merapikannya lebih dulu, aku berjalan sedikit terseok ke pintu kamar. Memutar kunci dan memutar handlenya.

Good Morning!” Sapanya begitu pintu terbuka. Dia berdiri di depanku dengan senyum lebar secerah mentari yang bahkan belum bersinar pagi ini. Dan dia sudah rapi, sudah mandi. Aku bisa mencium aroma apel dan mint dari sabun mandi yang biasa dia pakai. Park Chan Yeol, jam berapa kau bangun tadi hah?

“Chan-nie—“ Aku membuka suara, sedikit parau karena, well aku baru bangun dan belum sempat minum air putih. “Terimakasih sudah membangunkanku.” Lanjutku. Dan dia tersenyum lalu memelukku erat.

“Sama-sama, oh ya hari ini giliranmu memasak.” Ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya. Membiarkan paru-paruku dipenuhi aroma-apel mint-Park Chan Yeol, dan itu membuatku nyaman.

“Baiklah—“ Dia melepaskan pelukannya, aku sedikit tidak rela. “Mandilah dulu, lalu memasak sarapan.. oh oh aku ingin English breakfast buatanmu yang enak itu.”

Sekali lagi aku mengangguk.

Dia mengacak rambutku sebelum pergi dari hadapanku.

Aku menarik napas dalam dan membuangya keras-keras. Tiba-tiba perkataan Kris Wu semalam kembali berputar di kepalaku.

“Kau mau sampai kapan berpacaran dengan DongNamChin-Dongsaeng Namja Chingu(pacar brondong)-mu itu?”

“Sampai kapan kau mau menampungnya di rumahmu?”

“Ini bukan Amerika Ji, dia bisa saja meninggalkanmu setelah kau memberikannya semua uangmu.”

Aku menghela napas. Berat, tapi mau tidak mau aku harus mengakuinya.

Ya, sudah setahun lebih aku menampungnya disini. Dan kami resmi berpacaran setahun lalu. Tepatnya, 365 hari 23 jam yang lalu.

Sudah satu setengah tahun. Umurku sudah 23 tahun dan tahun depan aku 24. Bukan saat yang tepat untuk bermain-main dengan laki-laki yang lebih muda. Itu yang Kris katakan kemarin.

Kris sahabatku, kami berteman sejak err masih didalam kandungan? Ibuku dan ibu Kris adalah sahabat sejak mereka sama-sama pindah ke New York ketika masuk SMA. Dia laki-laki, rocker wannabe, dan dia menceramahiku panjang lebar seperti seorang ibu paruh baya yang punya anak perempuan berumur 31 tahun, tentang Park Chan Yeol.

Meski aku masih ragu bagaimana dia bisa melamar Baek Sumin-pacarnya yang seperti preman itu-dengan sangat romantis. Dia melamarnya ketika berlibur ke pulau Nami minggu kemarin. Memamerkan cincin platina murni couple-nya kepada seluruh penghuni restoran lalu mulai menceramahiku tentang betapa sangat bodohnya aku.

“Kau memberikan semua yang dia mau, tapi apa sudah yang diberikannya padamu?”

Jujur saja Kris. Aku pernah menanyai Chan Yeol tentang hal itu. Dan dia menjawab.

“Nae maem(hatiku).” Chan Yeol menatapku dengan mata lebar dan senyum polosnya, sedang tangannya membentuk hati.

Haruskah aku marah padanya kalau malam harinya dia menyiapkan Alio E Olio di meja dengan lilin sebagai penerang acara makan malam kami. Dia romantis dan tahu betul cara melunakkan hatiku. Dan aku benci itu.

Aku lemah pada Park Chan Yeol. Ya. Aku tahu itu.

“Aku sudah mengeluarkan telurnya dari kulkas dan mengiris sosisnya.” Ucap Chan Yeol ketika aku berjalan pelan menuju dapur. Dia sudah duduk dengan manis di kursi makan. Pagi ini dia mengenakan kemeja biru langit dan celana panjang denim blueblack. Rambutnya yang masih setengah basah terlhat acak-acakan dan itu membuatnya semakin tampan.

Aku menyunggingkan senyum ketika dia beranjak dan memakaikan celemek pink bergambar Petty untukku, lalu segera kembali ke kursinya. Menumpukan tangannya di meja, mengekoriku seperti yang biasa kulakukan ketika dia sedang memasak.

“Chan-nie.”

“Hm?”

“Kau masih ingat temanku Kris Wu?”

Dia mengernyit, lalu mengangguk. Kris sering datang ke apartemen untuk menjengukku.

“Dan, apa kau ingat dengan kekasihnya yang err.. seperti preman itu? Baek Sumin.”

Sekali lagi, Chan Yeol mengernyit lalu mengangguk. Chan Yeol pernah bertemu dengan Baek Sumin dan dengan gerakan defensif-dia menarikku ke belakangnya. Baek Sumin memang sedikit menyeramkan. Dan sepertinya Chan Yeol setuju denganku.

“Mereka sudah bertunangan.” Ucapku sambil memasukkan dua lembar roti ke dalam toaster.

Chan Yeol diam.

“Chan-nie?” Aku beralih menyalakan kompor dan memasukkan sesendok margarin ke penggorengan. “Kau mendengarkanku?”

“Ya sayang, aku mendengarkanmu.” Jawabnya.

Aku menghela napas. “Kris melamarnya di pulau Nami, kau tahu kan? Di bawah guyuran daun pine yang berguguran—“ aku menerawang.

“Ya?”

“Itu romantis sekali.” Aku mengerjap, melenyapkan bayangan Chan Yeol yang berlutut di depanku dengan kotak berisi cincin platina di tangannya. Kembali berkutat dengan sosis yang hampir gosong.

“Itu-memang romantis, sayang.” Ucap Chan Yeol.

Aku memecahkan telur dan membuat dua telur mata sapi, menaburkan sedikit garam diatasnya. Minyak panas memercik ke tanganku, membuatku melompat mundur dengan tangan mengacungkan spatula. Oh, tidak sakit, tapi cukup mengejutkan. Tapi lebih mengejutkan ketika aku melihat Chan Yeol sudah menghilang dari tempatnya. Kemana dia?

Aku mengambil dua piring keramik dan mulai menata sarapan kami. English breakfast. Yah, aku hanya bisa masak masakan simpel. Bersahabat dengan chef tidak berpengaruh pada keahlian memasakku. 4 lembar roti untuk Chan Yeol, 2 lembar untukku, satu telur mata sapi untuk masing-masing, 3 sosis untuk Chan Yeol dan 2 untukku, 10 potong kentang goreng untuk Chan Yeol dan 5 potong untukku, dua gelas susu dingin, dan sepasang sendok-garpu. Selesai.

“Chan-nie—“ Aku berteriak sambil melepaskan celemek dan menggantungnya di gantungan di samping kulkas. “Sarapannya sudah siap.” Aku menarik kursi dan duduk. Memotong roti panggangku sampai Chan Yeol muncul dari balik pintu kamarnya, berjalan cepat kearah meja makan, menarik kursi dan duduk berhadapan denganku.

“Maaf sosisnya sedikit gosong.” Aku meringis sambil mengikuti arah pandang Chan Yeol.

Chan Yeol tersenyum dan menusuk kentang gorengnya. “Tidak apa, semua makanan buatanmu pasti enak.”

“Yah, aku tidak perlu khawatir kalau begitu.” Aku tersenyum sambil mengunyah rotiku.

“Sayang, sepertinya—“ Dia menarik tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Aku terlambat, kau tahu dosen literaturku bisa memberikan nilai C kalau aku terlambat di kelasnya.” Dia menyuap sepotong sosis sebelum beranjak dari kursinya.

Aku mengerjap.

Dia hanya memakan separuh sarapannya. Siapa yang menggedor pintu dan berteriak tadi? Minta dibuatkan sarapan dan dia hanya memakan setengahnya.

“Maafkan aku, tapi—nanti malam aku akan memasakkan apapun yang kau mau.” Ucapnya lagi sebelim mengecup pipiku dan berlari pergi sambil memanggul ransel di pundaknya.

Aku mengamatinya, sampai tubuh jangkungnya menghilang dibalik pintu apartemenku.

“Kau harus membuat keputusan Ji! Jangan jadi gadis lemah!”

Lagi-lagi ucapan Kris terngiang di telingaku.

Nanti aku akan bilang padanya supaya berhenti jadi chef dan menjadi konsultan cinta saja.

***

Aku berlari ketika mendung hitam yang sedari tadi bergelayut diatasku meneteskan airmata. Tidak ada perumpamaan yang lebih baik dari itu. Tetesan air yang semakin banyak meningkatkan suhu udara dan memaksaku berlari menghindar dari trotoar dan berteduh di halte terdekat. Tinggal seratus meter lagi, dan aku akan sampai di restoran Italy tempatku bekerja. Tapi hujan di musim dingin ini memblokirku. Dan aku tidak bawa payung.

Aku duduk di bangku halte sambil memandangi kendaraan yang berlalu-lalang. Membayangkan aku berada di dalamnya, dengan peghangat, musik rock mengalun dan Chan Yeol yang duduk di kursi kemudi.

Yah, Chan Yeol bahkan meninggalkanku tadi dan membawa Audi S7-ku bersamanya. Well, aku tidak bisa protes juga, karena itu menyangkut kuliahnya.

Asal tahu saja. Chan Yeol sempat mogok kuliah setelah insiden membanting gitar itu. dia bilang, itu sebagai bentuk protes. Dan dia akan melakukannya sampai ayahnya mau membelikan gitar baru. Tapi, tentu saja kalau dua kutub magnet yang sama tidak akan pernah bisa menyatu. Ayah dan anak sama keras kepalanya. Padahal aku sudah membelikannya gitar dan dia masih berkilah kalau harusnya ayahnya yang melakukannya. Sampai akhirnya dia pergi dari rumah dan tinggal di apartemenku, dia akhirnya mau melanjutkan kuliah. Setelah aku memberi ancaman kalau dia tidak kuliah, aku tidak mau menampungnya. Dan dia setuju. Kuliah di pagi hari, dan bermain music di café bersama band-nya di malam hari.

“Ji?”

Aku kenal suara berat dan sedikit serak, dan kadang out of pitch ketika baru bangun itu.

Kan!

Aku menoleh, dan mendapati Kris sedang berdiri dengan payung di tangannya.

“Sedang apa kau disini?” Dia berjalan mendekat, menurunkan payungnya.

“Berteduh.”

Dia menaikkan satu alisnya. “Bukan itu, maksudku kemana perginya Audi S7 mu yang super mahal itu?” Ucapnya, kali ini dengan ekspresi ingin tahu. “Sudah seminggu kau tidak datang bersamanya.”

Aku menghembuskan napas. Jujur-atau tidak? Kalau dijawab jujur, Kris akan mulai mengomeliku dengan ceramah panjangnya dan aku tidak mau mendengarkannya di pagi yang dingin ini. “Sedang menginap di bengkel, waktunya mengganti oli, kau tahu kan?” itu alasan paling masuk akal yang mampir di otakku.

“Oh, kau mau berangkat bersama? Tapi hanya ada satu payung.” Ucapnya, dia masih berdiri di depanku dengan satu tangan didalam saku coat-nya.

Aku mendengar pekikan tertahan dari—eum well gadis-gadis yang duduk di halte bersamaku. Aku bohong besar kalau Kris jelek. Dia tidak jelek, tidak sama sekali. Bagaimana aku menyebutnya? Eum persilangan antara manusia dan boneka porselen mahal. Begitulah. Kris sangat tampan, tapi Chan Yeol ku lebih tampan. Kalian tahu maksudku, kan?

Aku mengangguk, pura-pura tidak mendengar pekikan itu. bangkit dan menggamit lengan Kris. Menyandarkan kepalaku di lengannya dan tersenyum penuh arti pada gadis-gadis tadi.

“Kau tahu sayang, kau sangat tampan pagi ini.” Aku berucap cukup keras dan membuat gadis-gadis itu menatapku dengan ekspresi paling iri seperti yang sudah-sudah.

Kris tergelak menyadari apa yang kulakukan. Aku memang sering melakukannya. Pura-pura menjadi sepasang kekasih dengannya dan dia dengan senang hati mengikuti permainanku. Well, aku memang sempat naksir Kris. Tapi itu dulu. Sebelum aku menyadari betapa konyolnya naksir sahabatmu sendiri yang kau kenal sepanjang hidupmu dan kau tahu segala hal tentangnya. Itu, err sedikit memalukan.

Kami berjalan meninggalkan halte. Dengan payung Kris yang transparan diatas kepala.

“Kris,”

“Ya.”

“Bisakah kau buatkan aku segelas mocha panas nanti?”

“Ya.”

Kami berjalan dalam diam. Membiarkan simfoni hujan yang mengalun ketika tetesan air itu bertemu dengan sesuatu. Suaranya, entah bagaimana membuatku tenang. Meski aku sedikit tidak nyaman karena udara menjadi semakin menusuk melewati cela-cela coat-ku.

Tidak sampai 2 menit, kami sudah sampai di restoran.

Kris segera berlari ke ruang ganti dan aku ke ruanganku di lantai 2.

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mesin penghangat yang menyala dan kursi empuk juga bantal bulu angsa. Aku menghambur ke kursi superbesarku dan membuang tasku ke meja. Ruangan ini membuatku nyaman.

Ayah-tiri-ku yang mendesain dan membeli semua interiornya. Dia bahkan membuatkan restoran ini untukku. Dia sangat kaya. Aku bahkan tidak berani mengintip akun bank-nya ketika tanpa sengaja dia meninggalkan berkas dokumennya di meja kerja ruangannya di rumah supermewahnya. Aku takut akan mengalami nasib yang sama seperti Zhang Yixing-sekretaris ayahku-yang pingsan setelah melihatnya.

Oke, cukup bercerita tentang ayah tiriku.

“Ji?” Kris dengan seragam chef-nya memasuki ruangan. Di tangannya ada nampan dan segelas Mocha panas yang asapnya mengepul diatasnya juga sepiring croissant keju. Seperti biasanya. Dua makanan itu akan menemaniku sepanjang hari sampai papan di pintu restoran dibalik dari open ke close.

***

Aku masih berkutat dengan angka-angka di layar PC-ku. Sudah 3 jam aku melakukannya. Dan—aku masih saja belum menyelesaikannya. Aku sedang memastikan apakah angka-angka itu sudah sesuai untuk membuat laporan penjualan hari ini. Tapi, entah kenapa bayangan Chan Yeol selalu muncul dan mengacaukan angka-angka di otakku.

Tadi siang, Kris mendadak muncul di ruanganku dan mengantarkan sepiring lasagna untuk makan siang. Tidak, dia tidak menceramahiku. Tapi ada perasaan aneh ketika Kris meletakkan lasagna di meja dan aku melihat kilatan cincin platina yang melingkar manis di jarinya. Aku iri.

Dan seketika itu aku tidak bisa berhenti memikirkan Chan Yeol. Tadi pagi dia berangkat dan tidak menghabiskan sarapannya. Padahal dia biasa menghabiskannya tanpa sisa dan aku harus merelakan beberapa potong sosisku untuknya. Ini pertama kalinya?

Tidak, ini bukan pertama kalinya. Seminggu ini Chan Yeol selalu melakukannya. Sarapan terburu-buru, mengecup pipiku dan menghilang di balik pintu, pergi bersama mobilku.

Aku tidak sempat bertanya karena ketika aku pulang, Chan Yeol sudah tidur di meja belajarnya. Kertas tugas bertebaran di meja dan segelas coklat panas yang sudah habis di samping kepalanya.

Aku merindukannya.

Aku rindu tingkah konyolnya yang selalu mebuatku tergelak. Yang akhir-akhir ini tidak kulihat.

Aku teringat ketika dia dengan lucunya memakai piyama motif leopard yang kubelikan di Hongdae sepulang kerja. Aku ingat ketika pipinya bersemu merah dengan kacamata harry potter dan topi bulu berbentuk serigala di kepalanya. Dia tersenyum, memelukku erat dan berkali-kali mengucap “Aku sangat mencintaimu, kau tahu.”

Aku ingat betul ketika dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dengan gitar yang kubelikan untuknya, dia menyeretku ke balkon dan menyanyikan lagu TeenTop – Be My girl diringi petikan gitar. Suaranya tidak merdu, karena dia seorang gitaris. Tapi berhasil membuatku tersentuh dan menganggukkan kepala tanpa bisa kucegah. Aku tahu dia tulus.

Juga saat kami pergi ke pantai di Gangnung untuk merayakan malam tahun baru. Dia berlarian di bibir pantai sambil merentangkan tangannya dan berteriak “Bada-da(laut)!” sampai dia terjatuh dan tubuhnya basah oleh air asin sedingin es. Dia demam dan kami akhirnya hanya bisa memandangi laut yang gelap dari balkon vila yang kusewa. Chan Yeol yang memelukku dengan tubuh menggigil, kami berbagi selimut dan dia membisikkan “Selamat tahun baru” yang ditutup dengan bersin berkepanjangan. Dan aku yang ikut tertular keesokan paginya. Kami berdua mengawali tahun yang berganti dengan demam dan semangkuk sup jagung hangat sebagai sarapan.

Aku ingat bagaimana dia sangat ngotot untuk dibelikan sweater couple bergambar rusa. Merah untuknya dan biru untukku. Merengek seperti bayi dan menempelkan dahinya di etalase toko. Menunjuk sepasang sweater itu dengan raut seperti anak kecil yang hampir menangis karena tidak dibelikan eskrim. Dan berakhir dengan kemenangannya karena aku tidak tahan dengan ekspresinya yang lebih polos dari Jinri-keponakanku yang berumur 5 tahun.

Atau dia yang berlagak seperti chef ketika memasak daging untuk kami. Memanggang daging dengan ekspresi konyolnya dan membungkuk ketika menyerahkan sepiring samgyupsal yang berwarna keemasan padaku. Menyuapkan ssambbap dengan ekstra gochujang ke mulutku dan menuangkan ocha ke cangkir dengan gaya seperti buttler profesional.

Aku rindu Chan Yeol.

Dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya saat ini.

Aku tidak peduli kalau suatu saat nanti dia pergi meninggalkanku setelah aku memberinya semua uangku seperti yang Kris katakan. Karena aku sudah mengucap rentetan doa agar saat itu masih lama, dan tidak pernah terjadi.

Suara dering ponsel menyentakku kembali ke alam nyata. Restoran sudah tutup sejam yang lalu dan karyawan sudah pulang ke rumahnya. Menyisakan aku dan tugasku.

Aku mengambil ponsel yang mengalunkan Be My Girl. Sebuah telepon dari, Kris.

“Ya Kris?”

“Kau masih di restoran?”

“Ya, aku masih harus mengerjakan tugasku.” Jawabku. Aku melirik jam di dinding, jarum pendek di angka 11 dan jarum panjang di angka 12.

“Cepat pulang setelah mengerjakan tugasmu! Atau kau mau aku menjemputmu?” Tanyanya dengan nada khawatir.

“Tidak, terimakasih Kris ge. Sebentar lagi aku selesai.” Yah, aku akan segera menyelesaikan tugasku setelah ini.

“Baiklah, hati-hati.” Ucapnya.

Aku bergumam “Ya.” Dan dia menutup teleponnya.

Aku menghela napas. Mengambil botol air dan meneguk isinya. Lalu mulai mengerjakan tugasku yang tertunda. Sampai suara deringan ponsel kembali mengagetkanku. Oh Tuhan! Ini sudah larut dan aku sendirian. Wajar kalau aku sedikit berjengit ketika benda itu bergetar diatas meja. Sebuah pesan singkat.

Aku meraihnya.

 

Dari : Chan-nie

Sayang, bisakah kau keluar dari ruanganmu sebentar?

 

Aku mengernyit. Keluar?

Untuk apa?

Hey! Apa mungkin dia sedang di restoran?

Aku mengantongi ponselku dan bergerak bangkit. Merentangkan tangan dan aku bisa mendengar bunyi ‘kretek’ pelan. Aku sudah duduk selama hampir seharian. Lalu berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.

Aku terlonjak dan mengambil satu langkah ke belakang setelah membuka pintu.

Seseorang sedang berjongkok tepat di depanku. Dia mengenakan hoodie abu-abu, topi hitam, celana training hitam dan sebuket kecil bunga di tangan-menutupi wajahnya.

Chajan(Tada)!”

Dia, Chan Yeol.

“Chan-nie?” Aku menghela napas lega setelah menyadari kalau dia kekasihku. “Apa yang—kau lakukan disitu?” aku sedikit membungkuk memandanginya.

Chan Yeol memandangku, perlahan senyumannya memudar, dia berdehem, ekspresinya berubah serius, dan dia mulai berkata,

“Lim Ho Ji, aku mungkin tidak bisa seperti Kkamjong yang suka mengeluarkan ribuan kalimat cheesy untuk merayumu, aku tidak bisa seperti Kris ge yang melamar Baek Sumin di pulau Nami dibawah guyuran daun pine tree—“ dia mengambil napas sebelum melanjutkan ucapannya. “aku belum bekerja dan masih kuliah, selalu memakai uangmu untuk membeli barang-barangku, selalu menyusahkanmu dengan tingkahku yang masih kekanakan, membuatmu khawatir ketika aku tidak pulang dan menginap di flat Baekhyun. Aku belum bisa membalas semua yang sudah kau berikan untukku, aku masih belum punya cukup uang, tapi aku akan mencoba membalasnya sedikit demi sedikit kalau kau—eum…”

Dia berlutut, menyodorkan buket kecil bunganya padaku. Dia tidak tersenyum, ekspresinya sedikit khawatir, dia gugup.   “Will you marry me?”

Aku bergeming, memandanginya dan buket bunganya bergantian. Apa ini mimpi?

Tolong jangan bangunkan aku kalau ini benar-benar mimpi!

“Sayang?” Suara Chan Yeol yang berat kembali terdengar.

Alih-alih mengambil buket bunga kecilnya. Aku malah menangis sambil memandanginya.

“Sayang? Kenapa kau menangis?”

Mata Chan Yeol melebar, rautnya berubah khawatir.

Aku menggeleng pelan. Membiarkan jemari Chan Yeol menghapus airmata yang jatuh di pipiku.

“Sayang?”

Airmataku kembali jatuh membawa berjuta penyesalan. Mengapa aku meragukan Chan Yeol? Mengapa aku harus membandingkannya dengan Kris? Mengapa aku harus mempertanyakan keeksisan cintanya ketika dia selalu meminta dibelikan sesuatu? Mengapa aku tidak bisa mengatakan apapun ketika kalimat sakral itu meluncur dari mulutnya?

“Sayang? Apa, apa aku menyakitimu?” kening Chan Yeol berkerut, masih dengan raut khawatir dia menatapku.

Suaraku tercekat. Aku terisak sambil menarik Chan Yeol dan memeluknya.

“Tidak.”

Chan Yeol mengelus puncak kepalaku, menghembuskan napasnya disana.

Aku bisa mendengar detak jantungnya berdetak tidak karuan.

“Chan-nie.” Cicitku.

“Ya?”

“Bisa kau ulangi yang barusan kau lakukan?”

Chan Yeol melepaskan pelukannya.

“Y-yang mana?”

“Kau berlutut dengan sebuket bunga.” Ucapku. Ada jeda waktu sampai Chan Yeol akhirnya mengangguk, sedikit ragu dia melangkah mundur dan aku kembali ke ruanganku, menutup pintu.

Aku mengambil napas panjang sambil bersandar di pintu, sebelum kembali membukanya. Dan otakku sudah merapal mantra “Tenangkan dirimu Lim Ho Ji” tujuh kali.

Pintu terbuka, Chan Yeol berlutut disana dengan sebuket bunga kecilnya.

Aku mengulas senyum. Sebelum dia berkata-kata lagi, aku menyelanya.

I do, I do, I do!”

Dia melongo. Mengerjap dua kali sebelum akhirnya sadar dengan apa yang sedang terjadi.

Dia menarik kedua sudut bibirnya keatas lalu menghambur memelukku sampai aku tidak bisa bernapas. Tapi tidak apa. Karena aku sangat bahagia.

“Kukira kau tidak mau.” Ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di bahuku. Tentu saja tidak! Aku tidak akan menolak dasar Chan Yeol bodoh!

“Chan-nie?”

“Ya?”

“Aku tidak bisa bernapas.”

Dan dia melepaskan pelukannya.

Lalu aku tidak bisa menahan tawa setelah menyadari apa yang dikenakan laki-laki yang baru saja melamarku ini.

Dia tidak mengenakan setelan tuxedo keluaran Armani atau sepatu mahal buatan Christian Louboutin. Dia malah mengenakan hoodie abu-abu kesayangannya yang sablon-nya sedikit memudar, celana training hitam tebal yang biasa dikenakannya untuk jogging di hari minggu, topi kesayangannya yang kubeli seharga 10000 won di Hongdae, dan sepatu converse keberuntungannya yang berwarna merah.

“Apa ini?”

Aku mengambil buket bunga kecil dari tangannya. Dia tersenyum penuh arti.

“Apa kau membelinya?”

Dia menggeleng, mengulas senyum sok misterius.

Aku menaikkan sebelah alisku.

“Aku menanamnya.” Ucapnya. Dan aku melongo.

“Kau?”

“Ya! Kau tahu, aku sangat khawatir karena bunganya tidak mekar-mekar. Aku menunggunya mekar untuk kuberikan padamu.” Jawabnya.

“Dimana?” aku tidak pernah melihat bunga-bunga mungil ini sebelumnya di apartemen.

“Aku menaruhnya di pot dan meletakkannya di balkon flat Baekhyun. Bunga itu, sempat layu karena Baekhyun lupa memasukkannya ke dalam ketika matahari bersinar sangat terik saat musim panas.” Chan Yeol menerawang. “Tapi untungnya dia masih bisa selamat.” Chan Yeol tersenyum.

Aku mengerjap.

“Aku membelinya setelah kita resmi berpacaran, dia masih sekecil ini dulu.” Chan Yeol mendekatkan ujung jempol dan telunjuknya. “Dia tidak seperti bunga lain, dia butuh waktu lama untuk tumbuh dan berbunga.” Lanjutnya. Seperti aku, yang butuh waktu lama untuk menyadari betapa tulus kau mencintaiku.

“Dan.. dimana cincinnya?” Tanyaku.

“Cincin?” Chan Yeol melebarkan matanya. “Oh ya cincin!” serunya lalu menunjuk buket bunga yang kupegang. “ada didalam situ.” Dia menyentuh sebuah benda bulat berwarna emas dan silver di tengah-tengah bunga mawar pink dan putih.

Aku mengernyit.

“Bukalah!”

Aku mengambil bugkusan itu. membukanya dan menemukan sebuah cincin platina disana.

“Ada ukiran nama kita di baliknya.” Ucap Chan Yeol riang. Aku mengamati cincin itu. Indah sekali.

Dan perasaan haru kembali menyelimutiku ketika Chan Yeol memasang cincin itu di jari manisku. Airmataku kembali jatuh. Dan sekali lagi jemari Chan Yeol dengan lembut menghapusnya.

Aku kembali ke ruanganku untuk mengambil tas setelah mengecup pipi Chan Yeol singkat. Chan Yeol tidak pernah lupa mencium pipiku ketika dia berterimakasih, akan pergi dan ketika dia merindukanku. Aku lupa, aku tidak pernah melakukannya dan itu membuat pipi Chan Yeol sewarna buah peach. Dan itu telihat manis.

Kami berjalan beriringan dengan tangan Chan Yeol melingkar di pundakku. Menuruni tangga restoran yang gelap karena semua lampu sudah dipadamkan.

“Sayang..”

“Ya?”

“Kau tahu, tadi pagi aku memakai mobilmu.” Ucap Chan Yeol pelan.

“Ya.”

“Aku ditilang polisi karena menerobos lampu merah.”

“Apa?”

Aku menoleh. Menatapnya.

“Mobilnya di kantor polisi.”

Aku melongo. “Jadi? Kita pulang naik apa?”

“Bagaimana kalau jalan kaki?” usulnya.

Membuatku langsung membayangkan berjalan di trotoar tengah malam dan dengan udara dingin yang seperti menusuk sampai tulang. Mengerikan!

Sampai Chan Yeol menyampirkan coat-nya di pundakku. Bayanganku langsung sirna. “Ada banyak yang ingin kuceritakan padamu.”

Aku mengangguk. Dia tersenyum dan mulai berbicara. Aku mendengarkannya tanpa menyela sekalipun.

Dia bercerita kalau dia harus berangkat pagi-pagi seminggu ini untuk mengecek apakah bunganya sudah mekar-di flat Baekhyun yang arahnya berlawanan dengan kampus-atau belum. Bekerja sambilan di café sepulang kuliah untuk menambahi uang membeli cincin, bermain musik dengan band-nya sampai malam untuk memasukkan uang ke akun tabungannya yang di atas namakan kami berdua, dan tertidur ketika mengerjakan tugas kuliah karena terlalu lelah.

Lagi-lagi aku terlambat menyadari satu hal. Bahwa, Chan Yeol juga berusaha keras. Bahkan lebih keras dari siapapun yang kukenal. Dia tidak bisa mengumpulkan uang dengan hanya duduk dibalik meja CEO seperti ayah tiriku, atau menghabiskan waktunya di dapur dengan membuat berbagai masakan untuk pelanggan seperti Kris, atau menyusun laporan keuangan dan mengawasi kinerja pegawai seperti yang kulakukan. Chan Yeol punya caranya sendiri. Dia punya cara sendiri untuk membahagiakanku, untuk mencintaiku, untuk melamarku. Dia punya caranya sendiri. Tanpa harus meniru orang lain.

“Kita akan menikah setelah aku lulus nanti.” Tutupnya.

Aku tersenyum, mengecup pipinya dan rona merah itu kembali muncul.

Dan jantungku serasa jatuh ke dasar perut ketika dia membalas ciumanku, kali ini bukan di pipi.

Dan kami tertawa ketika rona merah itu muncul di pipi masing-masing. Udara yang dingin menusuk tidak terasa. Aku hanya merasa nyaman, tidak membutuhkan penghangat portable ketika Chan Yeol di sampingku, memelukku dengan tangannya yang panjang dan aroma apel mint yang menguar dari tubuhnya.

 

I was too worried about his feelings

And dubious the love word he saying while smiling

I afraid losing him

Without knowing he’s trying hard to make me happy behind me

My fear was just an illusion

And his love

Was real

 

-END-

Yehet~

Nggak nyangka saya kembali bawa sequel.. ckckck

Awalnya Cuma iseng, tapi begitu browsing foto Chan Yeol dan nemu fotonya yang seperti di poster abal-abal diatas U.U

Saya jadi kepikiran untuk bikin lanjutannya, dan nggak nyangka akan sepanjang ini

Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca.

Saya nggak janji ada sequel lagi. tapi kalau Chan Yeol bertingkah aneh lagi mungkin—hehe

Okeh

Byeeeee ^^/

#bow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s