FLUFF | GONE

Image

Tittle     :Gone

Scriptwriter        : azuream8/Kim

Main Cast            : Kim Minseok (Xiumin EXO), Kim You Jung

Genre   : Fluff, Angst, Sad

Duration              :Ficlet

Rating   :T

Summary

In the place where memories rest

Even in the warmth left at the tip of my fingers

You are there, you are there

Your scent, your face

 

Ada suatu saat dimana aku sangat merindukan seseorang, tanpa bisa kucegah. Aku merindukanmu. Ya, sangat merindukanmu.

Aku merindukanmu

Saat jemarimu menuntunku menekan tuts-tuts piano tua ayah, saat kau menyuapkan permen bersalut gula pasir rasa buah, saat dentingan piano tua ayah mengalunkan lagu ciptaanmu. Walau aku tidak bisa melihat sosokmu. Aku merindukanmu. Seperti rasa haus akan air, aku merindukanmu. Seperti pesawat yang merindukan langit, seperti musim dingin yang merindukan salju, seperti matahari yang merindukan bumi.

Aku merindukanmu

“Namaku Kim Minseok.”

Suaramu mengalun merdu seperti simfoni yang kau mainkan. Menenangkan, dan membuat jantungku berdebar tidak karuan.

Kau mungkin berjengit kaget ketika ayah memukulkan tongkat kayunya ke badan piano saat kau salah memainkan nada. Kau mungkin mengumpat dalam hati karena sikap ayahku yang kelewat tegas ketika mengajar. Mungkin. Karena, ya aku melakukannya. Tapi, kau tidak mendapatkan omelan ayah sesering aku mendapatkannya. Karena kau berbakat. Dan, kau bisa melihat. Kau bisa melihat deretan tuts putih-hitam itu, kau bisa melihat kertas partitur dengan berbagai not balok yang tercetak disana. Kau bisa memainkan satu lagu tanpa kesalahan hanya dalam dua hari.

Kau tidak tahu,

Ayahku selalu memujimu ketika kau tidak ada. Membanggakan bagaimana kemampuan bermain pianomu yang semakin baik tiap harinya. Tersenyum diam-diam di belakangmu—mungkin. Tapi, kau tidak tahu. Karena ayah melakukannya diam-diam.

Aku merindukanmu

“Letakkan jarimu diatas tuts.”

Kau mendatangiku setelah ayah pergi. Mengajariku membuat alunan nada yang indah, agar ayah tidak lagi memarahiku. Kau meletakkan jemarimu diatas jemariku, menuntunku, dan bergerak memindahkannya untuk menghasilkan nada yang berbeda.

Lalu kau menghilang.

Dan kembali duduk di sampingku ketika beliau pergi. Bercerita betapa kagetnya ayahku ketika aku memainkan satu lagu tanpa kesalahan. Dan kita tertawa. Atas keberhasilanku.

Aku merindukanmu

“Ayo bilang aaaa—“

Aku membuka mulut, dan kau menyuapkan sebutir permen rasa buah bersalut gula pasir-yang biasanya ada diatas piano-ke mulutku. Permen itu yang menghiburku ketika suara ayah yang menggelegar membuatku takut. Permen itu membantuku mengecap rasa manis ketika bermain piano. Namun, aku tidak lagi membutuhkannya ketika kau bersamaku. Karena kau lebih manis dari permen-permen itu, kau lebih menghibur dari permen stroberi kesuakaanku yang rasanya sedikit asam.

Aku merindukanmu

“Sudah aman, ayo kemari! Ah —iya.“

Kau mengajakku ke suatu tempat di rumah yang tidak pernah kudatangi sebelumnya. Menggenggam erat tanganku dan kau tidak henti-hentinya berbicara-pelan-memperingatkan apa saja yang ada di depanku. Kau sengaja berjalan pelan agar aku bisa mengikutimu, menggenggam erat tanganku agar aku tidak tersesat, memperingatkanku agar aku tidak terjatuh atau terantuk sesuatu.

Dan kita disana. Di halaman belakang rumahku. Duduk di lantai kayu dengan kaki meggantung diatas rerumputan. Berbagi cerita.

Kau mendeskripsikan bagaimana aku di matamu.

“Kau sangat cantik, rambutmu hitam dan berkilau juga lembut dan wangi, kulitmu seputih susu-ah apa kau tahu warna putih? matamu indah dan berbinar seperti bintang di langit, bibirmu sewarna permen stroberi yang biasa kau makan, dan kau cukup tinggi atau aku yang pendek karena tinggimu sebatas telingaku—“

Dan aku hanya bisa meraba wajahmu. Mendeskripsikan apa yang kurasakan dengan telapak tanganku.

“Hidungmu mancung, bibirmu tipis, pipimu sedikit tembam, dan—kulitmu seperti buah kiwi, ada bulu halus yang menyelimutinya dan kulitmu sehalus guci porselen ayah.”

Kau tidak bisa menahan tawa. Dan memprotes kenapa harus buah kiwi. Lalu kita kembali tenggelam dalam percakapan tentang sekolah dan sesekali melontarkan tawa.

“You Jung-ah, apa kau mau mendengar simfoni?

Saat itu, aku hanya memiringkan kepala ,menatapmu?-entahlah-tidak mengerti apa yang kau maksud, sampai kau meraih tanganku, meletakkannya di dada kirimu.

“Simfoninya tidak indah—“

Kita berdua diam. Membiarkan suara detak jantungmu yang tidak berirama mengalun sebagai musik latarnya. Aku terdiam, karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku tidak tahu kalau detak jantungmu yang tidak beraturan itu perpaduan antara sakit yang kau derita dan jatuh cinta.

Jemari kita saling bertautan. Dan tiba-tiba terlepas ketika seperti ada sesuatu yang menarikmu. Kau menghilang.

Aku merindukanmu

Ada rasa kecewa yang teramat sangat ketika kau tidak muncul di ruang tamu dan bermain piano seperti biasanya. Tapi, tidak apa. Kau mungkin terlambat. Kau mungkin sedang ada urusan sehingga kau tidak datang tepat waktu. Tidak apa, aku menunggumu.

Satu jam

Dua jam

Tiga jam

Aku tetap menunggumu. Sampai tanpa sadar aku terlelap di sofa.

Enam jam

Seharian aku menunggumu. Tapi kau tidak datang.

Aku merindukanmu

Aku masih menunggumu. Sepulang sekolah, setelah mandi dan berganti pakaian. Aku duduk di sofa ruang tamu.

Satu jam

Dua jam

Tiga jam

Empat jam

Dan aku tertidur.

Aku bangun. Duduk di sofa. Menunggumu.

Satu jam

aku bangkit, berjalan mengelilingi sofa. Memegang botol pil-mu yang tertinggal ketika terakhir kali kita bertemu-di halaman belakang.

Dua jam

Aku duduk di lengan sofa. Hampir menangis, karena kau tidak juga datang.

Tiga jam

Aku hampir menyerah. Saat suara deritan pintu terbuka membekukanku.

Kau datang. Menghempaskan tubuhmu di kursi dan bermain piano. Memainkan lagu ciptaanmu. Hingga tanpa terasa airmataku meleleh. Aku sangat bahagia.

Kau datang disaat terakhir aku hampir menyerah. Aku duduk di sofa, dan kau di seberangku, disana bersama piano tua ayah yang berdenting menyanyikan lagumu.

Aku merindukanmu

DENG!

Suara aneh itu terdengar. Suara tuts piano yang ditekan bersamaan. Seperti ada yang jatuh menimpanya.

Airmataku kembali jatuh. Aku kecewa karena lagumu tiba-tiba terhenti. Aku masih ingin mendengarnya.

Terdengar suara pintu terbuka, dan sol sepatu yang beradu dengan lantai kayu. Kemudian hening.

Dan lagu itu kembali terdengar.

Aku mengulas senyum.

Kau bilang lagu itu untukku. Sebuah lagu cinta. Dan kau berjanji memainkannya hanya untukku. Jadi aku kembali menunggumu keesokannya. Menantimu memainkan lagu itu, dengan piano tua milik ayah.

Aku merindukanmu

“You Jung-ah, dia tidak akan datang, berhentilah menunggunya.”

Suara ayah yang berat terdengar. Aku sedang duduk di sofa, menantimu. Seperti sebelumnya. Entah sudah berapa lama.

“You Jung—dia tidak ada.. kau harus berhenti menunggunya.” Suara ayah kembali terdengar.

Bulir-bulir air jatuh mengalir ke pipiku, ketika satu perasaan aneh menyelinap masuk ke ruang kecil di dadaku. Memenuhinya, membuatku sesak. Bulir-bulir itu terus menetes, dan aku tidak ingin menghapusnya.

Aku bukannya tidak tahu apa yang dimaksud ayah. Aku bukannya tidak tahu kau tidak akan datang, menemuiku, bercerita, dan memainkan lagumu untukku. Aku bukannya tidak tahu.

Aku hanya merindukanmu. Aku terbiasa saat kau menggenggam tanganku, aku terbiasa saat kau menyuapkan permen buah bersalut gula pasir ke mulutku, aku terbiasa dengan kehadiranmu di sisiku. Aku terlalu terbiasa.

In the place we were together

In the moments that I started to resemble you

I was so happy even though I couldn’t sleep at night

But you’re not here, you’re not here

How can I live as I empty you out?

In the times that we should have walked together

In the places where our future and my hopes still have to be made

I’m standing there because I miss you so much

 

-END-

A/N :

HAIIIIIIII!!!! 😀

FF ini mungkin agak kadaluwarsa ya dilihat dari judul dan cast-nya XDD

Terimakasih untuk yang sudah baca dan komen ^^ terima kasih banyakkkkkkk….. #deepbow

 

Advertisements

2 thoughts on “FLUFF | GONE

  1. GIMANA AKAMU BISA BILANG INI FLUFF AZURA? FLUFF DARI MANA KALO AKHIRNYA SAD ENDInG BEGINI HEH?

    sori ya, dateng malah ngerusuh. em well,maybe I’ll be back sometime and give you the proper comment 😀

    1. AHEHEHEHEHE :p
      iyaya, bagaimana bisa itu Fluff XDD
      maaf, aku khilaf.. U.U

      iyaaaaa ^^ see you next time yaa~
      makasiiih sudah baca dan komeeennn….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s