YOU

exoFandom_-1215761510
Source: EXO Fandom

Beberapa tahun ini, aku menulis sebuah daftar. Daftar panjang yang yah… bisa dibilang keinginanku. Dan kurasa semua pasangan normal melakukan semua yang kutulis dalam daftarku. Namun saat aku menengok kenyataan, aku hanya bisa menelan ludah dan membuka mataku lebar-lebar. Aku tidak bisa melakukannya. Maksudku hey, aku bisa melakukannya sendiri tapi.. bagaimana bisa disebut kencan kalau hanya seorang yang berpartisipasi.

Diam-diam, aku menulisnya setiap kali aku pulang dari bekerja atau sedang berbelanja. Seringkali aku harus menghela napas berat ketika melihat para pasangan itu melakukan kencan normal mereka. Tapi, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada saat Jongin menemukan daftarku dan membacanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari senyum miring penuh kepedihan di wajahnya, wajahnya yang murung dan ekspresi amat sangat bersalah itu muncul.

Kami sedang duduk di teras rumah atap, duduk bersisian, dengan kepalaku bersandar pada lengannya saat ia menanyakan pertanyaan itu padaku.

“Kau menyesal ‘kan?”

Saat itu aku tahu, dia sudah membacanya.

“Kau tahu Jongin, betapa aku sangat tidak suka ketika kau bertanya seperti itu?”

Jongin mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepalaku.

“Asal kau tahu ya, aku sama sekali tidak iri dengan mereka.”

“Kau tidak perlu berbohong lagi.”

“Aku tidak berbohong. Memangnya siapa yang mau berkencan dan berjalan keluar setiap hari, itu terlalu mainstream Jongin.” Aku sudah lelah menangis, aku tidak akan menangis dan membuat Jongin semakin merasa bersalah. Karena pada kenyataannya itu memang bukan salahnya, sama sekali bukan.

“Kau tahu, kau bisa pergi mencari pria lain. Tinggalkan aku disini—“

“Dan membiarkanmu mati menangisi kepergianku?” potongku sarkastik.

Kudengar dia mendengus geli.

“Kita mungkin tidak bisa pergi jalan-jalan dan berkencan seperti pasangan normal lainnya. Tapi, memangnya kenapa? Kita masih bisa melakukannya di rumah. See.. kalau mau makan pasta seperti di restoran Itali Chanyeol aku bisa memasaknya untukmu, kalau kau mau pergi sauna dan minum sikhye aku bisa mengubah kamar mandi kita menjadi jimjilbang, kalau kau mau naik Viking seperti di Lotte World kita hanya perlu berpindah ke ayunan buatanmu disana itu dan berayun sepuasnya, kalau kau mau memasang gembok cinta seperti di menara Namsan kita bisa memasangnya di pagar, kalau kau ingin piknik di taman kita juga punya taman kecil di pojok itu, kalau kau ingin ke observatorium untuk melihat bintang kita hanya perlu berbaring disini dan melihat ke atas, kalau kau ingin menonton film aku bisa pinjam proyektor Sehun dan memasangnya di ruang tamu, kita bahkan tidak perlu melangkah terlalu jauh dari rumah agar bisa berkencan seperti mereka…”

Lama Jongin terdiam. Pelan, kudongakkan kepala untuk bertemu dengan tatapannya yang teduh lengkap dengan senyum super manisnya. “Kau tidak tahu betapa bersyukurnya aku menikah denganmu.”

“Dan kau cukup tidak peka betapa aku mencintaimu Jongin, meski sudah kukatakan berulang kali.”

“Maafkan aku….”

“Aku akan memaafkanmu kalau kau berhenti meragukanku. Kau pikir lima tahun itu waktu yang singkat dan aku tetap bertahan disisimu?” Balasku dengan nada marah yang kubuat-buat.

Kali ini Jongin tertawa. Aku ikut tersenyum sambil memeluk erat lengannya, menghirup aroma cologne-nya yang menyegarkan.

Kalau kau tanya padaku apakah aku menyesal menikah dengan laki-laki ini. Jawabannya, tentu tidak. Tidak ada yang perlu disesali. Meski Jongin hanya bisa duduk di kursi rodanya dan hanya bisa memandangiku, pun tidur di ranjang dan hanya mampu berkedip, aku tidak menyesal. Kami sudah melakukan banyak hal bersama selama 18 tahun. Dan untukku, itu waktu yang cukup lama. Kebahagian yang diberikannya pun tak sebanding, tidak dapat diukur dengan waktu. Kalau sekarang Jongin tidak bisa berlari mengejarku karena aku mengambil sandwich isi bacon dan kejunya, tak apa. Kami sudah pernah melakukannya. Kalau kau tanya apa aku rindu saat Jongin masih bisa berlari dengan kedua kakinya, tentu aku rindu. Namun, hanya dengan mengingat kenangan, itu sudah mengobati rasa rinduku. Aku bisa melakukan segalanya dengan Jongin, seperti saat sebelum dia kehilangan kemampuan menggerakkan kakinya, karena yang harus kulakukan hanya mengingat dan mengingat. Dan kalau mengingat saja tak cukup, maka aku akan menjadi tangan dan kakinya, juga sayapnya untuk membuat segalanya menjadi nyata.

For me,

to be happy doesn’t mean i need to always have a smile on

nor have everything i don’t

But it just means i need to always have you

-END- 

Advertisements

18 thoughts on “YOU

      1. ya kan cuma suka.. bukan berarti aku udah bikin banyak atau gimana.. tapi emang ada sih beberapa draft tapi belum selesai dan belum ada niatan mau nyelesaikan 😀
        mau serius kuliah nih, sudah semester tua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s