DEMON SERIES | 5th Don’t Say Goodbye (End)

Tittle      : 5th Don’t Say Goodbye

Cast       : Kim MyungJin, Choi JunHong, Kim MyungSoo, Moon JongUp

Cameo  : EXO member’s, Infinite member’s, Cho KyuHyun, CN Blue member’s, F(x) member’s

Genre   : Fantasy, Fluff, Alternative Universe, Li’l Bit Romance, Family

Rated    : General

Length  : Chaptered

Disc        : This FanFiction is Originally Mine, I own the Plot and Story, The cast too ^^

Preview : 1st Wish for Demon | 2nd First Wish | 3rd A Long Journey | 4th The Reason

5th Don’t Say Goodbye

Even if you begging to me

Even if you cry all night long

It wont change anything

I’m sorry

Goodbye my love

 

Oppa(kakak)…” MyungJin berjalan pelan menuruni tangga rumahnya. “Oppa odiya(dimana)?” MyungJin kembali memanggil nama kakaknya. Tapi tidak ada sahutan.

Oppa?” MyungJin terseok mendekati dapur. Ada siluet seseorang disana. Mungkin MyungSoo, pikirnya.

O? sudah bangun.” JunHong muncul di sela-sela pantry dan wastafel. “Kau kenapa?”

MyungJin menarik kursi didepan pantry dan duduk diatasnya. Tangannya bergerak mengambil sebotol air mineral yang berada di meja, membuka tutupnya dan meminum isinya.

“Aku habis menonton film.” Jawab MyungJin. JunHong menautkan alisnya, belum mengerti dengan jawaban singkat MyungJin.

“Apa hubungannya menonton film dan matamu yang bengkak itu?”

“Bukankah kau bisa baca pikiranku?”

“Tidak seru, kau saja ceritakan padaku.” JunHong menyodorkan sepiring roti bakar yang tadi dibuatnya. “Makanlah! Hanya ini makanan yang bisa kutemukan.”

MyungJin mengambil selembar roti dan menggigitnya. Roti yang hampir gosong dengan selai coklat dioleskan banyak-banyak diatasnya.

“Kemarin SaRa meminjamiku DVD. Kau tahu film Miracle in Cell No. 7?” Ucap MyungJin.

“Kau menangis karena menonton film itu?”

“Eumm.”

“Kau bahkan tidak menangis sampai matamu bengkak di pemakaman ayahmu sendiri.” JunHong menarik kursi dan duduk dihadapan MyungJin.

Ooo… itu aneh kan?”

JunHong mengangguk menyetujui ucapan MyungJin.

“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Aku merasa seperti gadis kecil di film itu.. kehilangan orang yang paling berharga.”

JunHong tertunduk, menatap kosong gelas didepannya.

“Ngomong-ngomong, dimana oppa?” MyungJin mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Kau lupa ya? Hyung kan ada pekerjaan, makanya kita kembali pagi-pagi sekali tadi.” JunHong berdecak, tapi kemudian meringis ketika MyungJin mengerucutkan bibirnya.

“Aku lupa… lalu, kenapa kau ada disini?”

Hyung menyuruhku menemanimu disini.”

“Percaya sekali dia padamu, atau kau melakukan sesuatu padanya?” MyungJin mencondongkan wajahnya kearah JunHong. Membuat anak laki-laki itu memundurkan wajahnya, semburat merah samar terlukis di pipinya.

“Aku tidak seburuk itu.” jawab JunHong. Perlahan MyungJin memundurkan wajahnya.

“Siapa tahu.. kau kan demon.” Ucap MyungJin, JunHong terkikik.

“Benar juga.”

Cham(oh ya).. ada apa dengan rambutmu? Kau mengecatnya kembali ke semula?” MyungJin menangkap surai hitam yang menyembul dari balik topi yang dikenakan JunHong.

O(iya).. aku mengubahnya tadi.” JunHong menyentuh kepalanya. “Otte(bagaimana)?”

MyungJin mengamatinya. Ada perasaan asing menyelinap ketika JunHong membuka topi, memperlihatkan rambut hitamnya. Ia merasa sangat familiar dengan sosok itu. rambut hitam pekat, kulit seputih susu dan mata hazel kecil yang selalu terlihat berbinar. Untuk beberapa saat ia terpaku, membiarkan sel otaknya meresapi apa yang tengah dilihatnya saat ini.

JunHong juga tidak berniat mengganggu apa yang dilakukan gadis dihadapannya. Ia balas menatap MyungJin. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum tipis. Pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam, ketika mereka masih di Incheon untuk berkemah di pantai. Menikmati akhir pekan di musim panas.

“Mengaku! Kau apakan aku selama tidur tadi?!” MyungJin berkacak pinggang, menatap tajam JunHong yang sedang asik menulis namanya di pasir dengan sebatang kayu yang ditemukannya terdampar di pantai.

“Aku hanya mengamatimu saja, lalu tidur di sebelahmu karena kau tidak bangun juga.” Ucap JunHong, masih sibuk dengan kegiatannya.

“Jangan bohong! Perasaanku tidak enak sekali sekarang.” MyungJin mengikuti JunHong yang kini sedang berjalan menyisir garis pantai sambil membuat garis diatas pasir yang dilewatinya.

“Aku tidak bohong, sungguh.”

“Aku tidak percaya! Kau pasti melakukan yang tidak-tidak padaku kan?”

JunHong menghela napas lalu menghentikan langkahnya dan berbalik.

Keurae(baiklah), aku memang melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu. Lalu kau mau apa? Aku ini demon lho.” JunHong melangkah maju, kepalanya dicondongkan kearah gadis yang tengah berdiri didepannya, perlahan mengeliminasi jarak diantara mereka. MyungJin refleks melangkah mundur sambil menatap demon didepannya takut-takut. Baru sepuluh menit yang lalu ia menatap tajam laki-laki itu, tapi sekarang ia seperti kehilangan keberaniannya tadi. Melupakan fakta bahwa laki-laki berambut blonde didepannya adalah demon.

“A-aku.. ya! Kenapa kau semakin mendekat?!” MyungJin tetap melangkah mundur, matanya masih menatap demon itu. Tapi dengan sorot ketakutan.

“Cih! Lihat! Begini saja sudah setakut itu, aku bahkan belum melakukan apa-apa padamu.” JunHong berhenti, mendekatkan wajahnya ke wajah MyungJin. “Bagaimana kalau kucium?” Demon itu menyeringai licik sambil memiringkan wajahnya.

“Y-yaaa!” MyungJin mendorong JunHong mundur, lalu berlari menuju tenda.

JunHong terkekeh. Bukannya ia tidak tahu kalau jantung MyungJin berakselerasi gila-gilaan tadi.

Bagaimana kalau kucium?

JunHong kembali melangkahkan kakinya, menyusul MyungJin yang sekarang sedang sibuk dengan sebungkus kembang api yang sempat dibelinya ketika perjalanan ke pantai.

“Jarak satu meter! Kau tidak boleh lebih dekat dari itu!” MyungJin berteriak tanpa melihat JunHong. Berpura-pura tidak mendengar, JunHong malah menghempaskan tubuhnya pada kursi tiup disamping MyungJin.

YAA!! Kau ini bodoh atau bagaimana?!” MyungJin menggeser tubuhnya menjauhi laki-laki yang tengah menyeringai jahil itu.

“Aku tidak mau mematuhi keputusan sepihak.” Jawab JunHong.

“Cih.. kau sendiri sering membuat keputusan sepihak dan memaksaku menurutinya.”

“Kalau soal itu… aku kan demon, demon bukan malaikat nona Kim.”

ISH!”

“Tampilan luarmu sangat polos dan manis, siapa yang mengira kalau gadis sepertimu suka sekali mengumpat.”

“Apa kau bilang?”

“Kau tidak dengar? Mau kubisikkan untukmu?” JunHong menggeser tubuhnya mendekati MyungJin. MyungJin ikut menggeser tubuhnya, menjauhi JunHong. Tapi…

Bruk

“Ah..”

“K-kau.. hahahahahaha.” JunHong tergelak ketika MyungJin menggeser tubuhnya tanpa tahu kalau sudah tidak untuk ruang untuk duduk dan malah terjatuh ke tanah.

“Gara-gara kau!!! Sudah, jangan dekat-dekat denganku lagi!” MyungJin bangkit, menepuk-nepuk bajunya untuk menghilangkan pasir yang menempel.

“Sudah kubilang, aku tidak mau mematuhi keputusan sepihak.” Jawab JunHong enteng.

“Jangan mengikutiku!”

“Tidak mau.”

“Jangan!”

“Tidak mau.”

“Kubilang jangan!”

“Kubilang aku tidak mau..”

MyungJin menghentakkan kakinya, kesal. Lalu mengambil sebatang kembang api dan menyalakannya. Percikan bunga api mulai muncul ketika batang campuran belerang itu terbakar. MyungJin menatapnya takjub. Sudah lama sekali sejak ia menghabiskan malam musim panas dengan bermain kembang api di pantai.

Saat itu ayahnya masih hidup. MyungSoo yang baru duduk di bangku SMP mengajaknya bermain kembang api. Tapi satu insiden kecil terjadi. Ketika sedang menyalakan kembang api, jari MyungJin ikut terbakar dan membuat panik semua orang. MyungSoo bahkan menangis sambil menjambaki rambutnya ketika melihat jari MyungJin yang melepuh. Padahal MyungJin sendiri tidak menangis. Ia malah tertawa senang karena bunga api yang berpendar dari kembang api yang dibakar dan ditancapkan ayahnya di sekelilingnya.

Ya! Perhatikan tanganmu!” JunHong mengambil paksa kembang api menyala yang dipegang MyungJin dan membuangnya.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Jangan melamun sambil membawa benda berbahaya! Kau ini ceroboh sekali!”

“Ish! Kau merusak khayalan indahku!” MyungJin berdecak lalu mengambil sebatang kembang api dan membakarnya, lalu berjalan menuju bibir pantai. Membiarkan kakinya menyentuh pasir dan tersapu ombak kecil. Di musim panas, air laut dan pasirnya terasa hangat. Dan menurut MyungJin, itu membuatnya sangat nyaman.

“Kim..” MyungJin menggerakkan tangannya, seperti sedang menulis. “Myung… Jin.”

Sa-rang-hae(aku-men-cintai-mu).” JunHong ikut menggerakkan tangannya sambil memegang kembang api yang berpendar.

“Apa?” MyungJin menoleh, menatap JunHong dengan ekspresi yang tidak terbaca.

Saranghae.” Ulang JunHong.

MyungJin masih menatapnya heran. Kata-kata itu tidak asing di telinganya. Bukan, bukan karena ia tidak pernah mendengar seseorang mengucapkan ‘saranghae’. Tapi, satu kata yang diucapkan JunHong itu membuatnya merinding. Suara itu familiar

“Kau tidak tahu arti saranghae?” JunHong menoleh, menatap MyungJin setelah membuang kembang apinya yang sudah habis terbakar.

“Tidak.. aku tahu.” Jawab MyungJin sambil memalingkan wajahnya.

Mendadak suasana menjadi lebih aneh. MyungJin memilih untuk diam sambil duduk diatas pasir. Memandangi langit yang malam itu dipenuhi titik-titik putih yang berkelip cantik. Sedangkan JunHong duduk di dekat api unggun sambil mengorek-ngorek arang dan menyingkirkannya.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” JunHong bergumam. “Besok adalah hari terakhir, bagaimana ini? kenapa dia tidak ingat sama sekali.” JunHong menatap kobaran api didepannya. “Apa ingatan yang sudah dihapus tidak bisa di-restore?” JunHong mengacak rambutnya, kesal.

Tiin tiiiin!!

Tiba-tiba terdengar suara klakson. Mobil Infinite, atau lebih tepatnya mobil VW berbentuk persegi yang bercat biru muda dan putih itu menepi. Mobil yang membawa Kim MyungSoo dan rombongan band-nya dari acara pesta prom di sekolah adik manajernya.

“Kau sedang apa duduk sendiri begini Jun? mana adikku?” MyungSoo yang pertama keluar dari mobil berlari kecil menghampiri JunHong dan menepuk pundaknya.

Hyung.. dia sedang bersantai disana.” JunHong menunjuk kearah pantai. Disana MyungJin terlihat sedang berbaring sambil menatap langit.

“Bagaimana perkembangannya?” MyungSoo mengambil posisi duduk di sebelah JunHong. Ia melambai singkat pada teman-teman band-nya yang berjalan terseok menuju tenda. Mereka terlalu lelah karena ternyata antusiasme para siswa di sekolah Lee Sungjong sangat luar biasa bagus. Membuat mereka hampir kehilangan tenaga untuk sekedar berjalan.

“Perkembangan apa? Dia sama sekali tidak megingatku.” JunHong menendang cangkang kerang kosong didepan kakinya.

“Kalau kau menyerah, perjuanganmu selama ini akan sia-sia.” MyungSoo menerawang. “Untuk apa kau kembali? Kau bahkan tidak mengubah apapun.” Lanjut MyungSoo.

JunHong tertunduk dalam. Mencerna perkataan MyungSoo barusan.

“Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan hyung.” Ucap JunHong lirih. “Perjanjian dengan demon terdahulu tidak bisa dibatalkan begitu saja.. ada harga yang harus dibayar untuk itu.”

“Andai aku bisa membantumu.” Ucap MyungSoo pelan. Ia menepuk pundak JunHong berkali-kali, menghiburnya. “Aku sudah mencoba membiarkannya mengingat sendiri, tapi ..”

JunHong menunduk semakin dalam. Pikirannya sedang berkecamuk karena memikirkan cara agar gadis itu kembali mengingatnya, walau hanya sehari. Ia sudah mengorbankan lima ratus harinya untuk hari ini. Berlatih menjadi demon amat tidak mudah. Berkali-kali ia datang dan memohon untuk bisa bertemu MyungJin, tapi demon yang menolongnya saat itu tetap tidak mengijinkan sampai waktunya datang.

“Tidak ada cara lain untuk mengingatkannya tentangmu?” Tanya MyungSoo. “Mungkin satu kenangan yang paling kuat tentangmu dan adikku.”

JunHong menjambak rambutnya, kesal.

Tapi sedetik kemudian seulas senyum terlukis di bibirnya.

“Ada hyung!” Jawab JunHong. “Kau ingat ketika kami pertama bertemu?”

MyungSoo mengernyit, mencoba mengingat kejadian yang dimaksud. “Busan Aquarium?”

JunHong menjentikkan jarinya. “Bukankah kenangan pertama bertemu selalu menjadi kenangan terkuat hyung?”

MyungSoo memiringkan kepalanya, lalu tersenyum. “Kalau begitu, coba saja.”

Tanpa buang waktu, JunHong segera bangkit dan berjalan kearah MyungJin yang tengah berbaring diatas pasir. MyungSoo memperhatikan punggung JunHong lalu beranjak menuju tenda.

Ctak

JunHong menjentikkan jarinya. Seketika langit yang tadinya bertabur bintang itu dipenuhi puluhan cahaya kembang api berwarna-warni. Membuat suasana yang tadinya amat hening, menjadi sedikit ramai.

MyungJin memandang langit diatasnya dengan mata berbinar senang. Ini pertama kalinya ia melihat kembang api sebesar itu di langit secara langsung. Selama ini, kakaknya juga melarangnya pergi melihat festival kembang api karena trauma akan tragedi kembang api saat mereka masih kecil.

“Cantiknya..” Seloroh MyungJin. Ia tersenyum, masih memandangi pemandangan diatasnya tanpa berkedip.

JunHong ikut berbaring disamping MyungJin. tersenyum dan menolehkan kepala, menatap gadis itu.

“Kau mungkin tidak ingat tentang apa yang akan kukatakan…. Tapi, setidaknya kau mendengarkanku.” Ucap JunHong. MyungJin menggerakkan kepalanya, menatap JunHong sebentar lalu kembali ke posisi semula.

“Aku medengarkanmu.” Jawab MyungJin.

JunHong tersenyum, lalu mulai bercerita. Pertemuan pertama mereka.

MyungJin menatap lamat-lamat patung hiu raksasa yang menggigit tulisan “Busan Aquarium” di depannya. Ini pertama kalinya ia kemari, dan gadis kecil bertopi jerami ini sangat antusias. Setelah ayahnya membeli tiket, mereka masuk kedalam bangunan. Sesuai namanya, di dalamnya ada akuarium raksasa berisi berbagai jenis ikan dengan berbagai ukuran.

Mata MyungJin langsung melebar ketika melihat gerombolan ikan berwarna-warni berenang kesana-kemari. Tanpa sadar, ia sudah menempelkan dahinya di kaca akuarium. Menatap ikan-ikan itu takjub.

“MyungJin-ah, ikannya cantik sekali ya?” Ayah MyungJin tiba-tiba muncul, ia mengelus topi anak perempuannya itu sambil tersenyum.

“Ikannya cantik, ayah.” Ucap MyungJin senang. Ia menunjuk seekor ikan badut yang berenang dibalik kaca.

Appa… aku mau lihat pertunjukan hiu!” MyungSoo yang baru saja datang menarik-narik lengan baju ayahnya. “Temani aku appa.”

“Iya.. ayo pergi, Jinni.”

“Tidak mau, aku mau lihat pororo.” Ucap MyungJin.

“Aku mau lihat hiu.”

“Aku mau lihat pororo.”

Aigoo…”

Appa ayo cepat! Pertunjukannya akan dimulai!” MyungSoo kembali menarik-narik lengan ayahnya.

“Ayo Jinni… setelah melihat hiu, kita lihat pororo, ya?”

“Pororo..”

“Jinni, lihat hiu dulu ya?” Rayu appa lagi. tapi gadis kecil itu bergeming, melipat tangannya didepan perut sambil mengerucutkan bibirnya.

“Tidak mau!!! Kalau appa dan oppa ingin lihat hiu, lihat saja! aku mau lihat pororo.” MyungJin tetap bersikeras pergi ke kolam penguin. Appa hanya bisa menatap kedua anaknya, bingung. Harus menuruti yang mana.

“Kalau begitu, kau ke kolam penguin sendiri. Oppa dan appa akan ke pertunjukan hiu, nanti kami kesana.” Usul MyungSoo.

MyungJin mengangguk semangat atas usul kakaknya. Lagipula, kolam penguin tidak jauh dari tangki hiu. Dan tempat ini terlalu kecil untuk membuatnya tersesat.

“Baiklah, jangan kemana-mana Jinni, appa dan oppa segera menyusulmu nanti ya.” Appa menatap putrinya ragu. Tapi kemudian ia menggandeng MyungSoo dan membawanya ke tempat pertunjukan memberi makan hiu.

MyungJin sendiri sudah beranjak dari tempatnya, menuju kolam penguin. Disana, ada puluhan penguin sedang berkumpul untuk menerima makanan dari pelatihnya. MyungJin segera menempel ke pagar, ikut mengamati tingkah lucu penguin-penguin itu seperti pengunjung lainnya.

Ia masih menatap takjub penguin yang berjalan lucu menghampiri pelatihnya untuk meminta makanan. Cara berjalannya itu amat lucu, dan entah kenapa MyungJin merasa kalau penguin kecil itu seperti hampir menangis karena lapar. Ia jadi teringat dirinya sendiri.

“Heungg…. Heung…”

“O? penguinnya menangis?” MyungJin makin menempel pada pagar kaca didepannya.

“Hheungg… heunggg..” Suara itu terdengar lagi. Tapi bukan berasal dari penguin kecil yang tadi diamatinya. Serta-merta MyungJin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Para pengunjung yang melihat penguin tadi sudah mulai beranjak dari tempatnya.

“Huaaaa…”

MyungJin mundur selangkah, lalu berbalik. Mencoba mancari asal suara.

Eomma..”

Suara itu terdengar lagi. dia meneriakkan eomma.

“Bukan penguin.” Ucap MyungJin sambil memandangi asal suara. Seorang anak laki-laki berseragam TK terlihat sedang terisak sendirian di sudut ruangan. Anak laki-laki itu menatap takut sekelilingnya.

Tanpa memperdulikan pesan ayahnya untuk tetap di kolam penguin, MyungJin melangkahkan kakinya mendekati anak laki-laki itu.

“Kau kenapa?” MyungJin sudah berdiri didepan anak laki-laki itu. ia menundukkan kepalanya supaya bisa melihat wajah anak itu lebih jelas.

“Aku tersesat nuuna….” Jawabnya sambil terisak.

“C-h-o-I Jun-Hong.” MyungJin mengeja nametag yang tersemat di seragam anak itu. “Namamu Choi JunHong?”

Anak laki-laki didepannya mengangguk.

“Mau kutemani mencari ibumu?” Tawar MyungJin seraya mengulas senyum.

JunHong menatapnya sebentar, lalu mengusap airmata di pipinya asal dengan punggung tangan dan mengangguk.

“Ayo!” MyungJin mengulurkan tangannya. Menggandeng JunHong dan mulai berkeliling bangunan untuk mencari perempuan dengan ciri-ciri yang disebutkan JunHong.

“Mau istirahat sebentar?” sudah 15 menit mereka berkeliling, tapi perempuan yang dimaksud belum ketemu juga. MyungJin mulai lelah karena harus mengitari ruangan berkali-kali. “Akan kubelikan es krim, kesana yuk!”

MyungJin menarik JunHong menuju kantin didalam ruangan. Ia memesan satu patbingso dan eskrim cone rasa vanilla untuk JunHong.

“Terimakasih nuuna…” JunHong tersenyum, memperlihatkan sepasang lesung pipi samar. MyungJin menatapnya, balas tersenyum.

“Jinni..”

MyungJin menoleh dan mendapati ayahnya juga MyungSoo yang menatapnya dengan raut khawatir.

“Kau kemana saja? oppa takut sekali.” MyungSoo berlari kearah MyungJin dan memeluknya.

Oppa berlebihan.”

“Kau ini! Appa sudah bilang jangan kemana-mana Jinni.” Appa menghampiri kedua anaknya sambil mengulas senyum, lega.

“Maafkan aku, appa.” MyungJin meringis menatap ayahnya. “Tadi aku menemani JunHong mencari ibunya.” Lanjutnya sambil menoleh kearah JunHong yang asik menjilati eskrimnya yang mulai meleleh.

“JunHong?” Appa menautkan alisnya, tidak mengerti.

“Dia bilang tersesat, jadi aku membantunya mencari eomma-nya.” Jelas MyungJin. MyungJin memang terlalu pemberani dan cerdas—kata ayahnya—jika dibandingkan dengan MyungSoo. Meskipun MyungSoo memang lebih pintar secara akademik dibanding MyungJin. Tapi gadis itu memang terlihat sedikit lebih dewasa, caranya bicara dan bertindak sama sekali tidak seperti anak kelas satu SD.

“Apa eomma-nya sudah ketemu?” Tanya appa sambil menarik kursi dan duduk disamping MyungJin.

“Belum, aku lelah sekali.. jadi aku mengajaknya istirahat.” Jawab MyungJin. Ia membiarkan MyungSoo menyendok patbingsoo-nya.

“Bagaimana kalau setelah ini kita ke ruang informasi? Mereka mungkin bisa membantu JunHong menemukan ibunya.” Appa mengelus rambut MyungJin yang lembab karena keringat.

“Benarkah? Apa mereka yang biasanya berbicara dengan suara keras itu? mmm… speaker.”

Appa mengangguk sambil tersenyum.

“Kau pintar sekali.”

“Tapi aku lebih pintar, appa..” Sahut MyungSoo.

“Kalian berdua anak yang pintar.” Appa terkekeh, mengacak rambut MyungSoo.

Nuuna, tanganku kena eskrim.” JunHong menunjukkan tangannya yang sudah penuh lelehan krim vanilla.

“Biar kutemani cuci tangan.” MyungSoo beranjak dari kursi dan menghampiri JunHong. Lalu keduanya berjalan beriringan menuju toilet pria.

“Apa JunHong akan bertemu eomma-nya, appa?” tanya MyungJin sepeninggal JunHong.

“Tentu saja, kalau kita semua membantunya.” Jawab appa. MyungJin menarik sudut bibirnya keatas.

“Aku cengeng sekali saat itu.” JunHong terkekeh. “Dan kau sangat keren… padahal usia kita hanya berbeda setahun.”

MyungJin memiringkan badannya, menatap JunHong. Pertunjukan kembang api yang dibuat JunHong sudah selesai. Suasana kembali hening. Suara debur ombak dan desiran angin musim panas yang bertiup terdengar begitu jelas di telinga.

“Kau, abeoji dan MyungSoo hyung benar-benar membantuku mencari eomma.” Lanjut JunHong.“Aku ingat sekali wajah lelahmu karena harus menunggu disana sampai tempat itu tutup.”

Demon itu menerawang, menatap langit yang seolah sedang memutarkn film tentang awal pertemuan mereka.

“Karena tidak ada hasil, abeoji akhirnya mengajakku pulang ke rumahmu.” JunHong tersenyum tipis. “Aku tinggal bersama kalian selama 3 hari sampai akhirnya saudara dari pihak ayahku datang ke rumahmu untuk menjemputku.”

MyungJin menatap profil samping JunHong setengah menerawang.

“Saat itu aku tidak mengerti, kenapa aku tidak bisa menemukan eomma.” JunHong menghela napas. “Tapi aku sudah mengerti sekarang… eomma sengaja meninggalkanku disana, eomma tidak menyukaiku.”

JunHong menggerakkan tubuhnya, menatap MyungJin dengan satu tangan yang dijadikan sandaran.

“Terimakasih Kim MyungJin…” JunHong terdiam sesaat, mengalihkan pandangannya kearah lain. Lalu kembali menatap gadis didepanya. “Terimakasih sudah membantuku, nuuna.”

Selama beberapa saat, keduanya saling tatap. Diluar kesadarannya, JunHong mencondongkan wajahnya kearah MyungJin.

BLAR

Jantung MyungJin seperti hampir copot saat mendengar suara itu. detik berikutnya, kembang api raksasa kembali terlihat di langit. JunHong mengambil kesempatan ketika MyungJin sudah kembali mengagumi cahaya warna-warni di langit untuk mengambil napas. Ia beringsut mundur, lalu bangkit, menepuk bajunya untuk menyingkirkan pasir yang menempel dan berjalan menuju tenda.

MyungJin masih memandangi langit diatasnya. Perlahan senyuman tipisnya memudar. Ekspresinya berubah datar. Kata-kata JunHong kembali terngiang di telinganya.

“Kau sedang apa?” MyungJin menatap heran JunHong yang sibuk memasukkan es batu kedalam kantung kompres.

“Untuk mengompres matamu yang bengkak itu, apa lagi memangnya? Demon tidak bisa sakit.” Jawab JunHong. MyungJin membulatkan bibirnya sambil bergumam “o” pelan.

“Ini! cepat kompres.. kau tidak mau ke sekolah dengan mata sebengkak itu kan?” JunHong menyodorkan kantung kompres yang sudah diisinya dengan es batu.

MyungJin memandangi kantung kompres itu tanpa berniat menerimanya. Mendadak sebuah ide terlintas.

“Kau saja yang kompres.. aku malas.” MyungJin bangkit dari kursi dan berjalan menuju sofa ruang tamu.

JunHong menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Ia sudah tidak bisa membaca pikiran gadis itu lagi. ini hari terakhirnya, kesempatan terakhirnya.

“JUN!” Teriak MyungJin dari ruang tamu.

JunHong terkesiap ketika MyungJin memanggil satu suku kata nama depannya.

“Junsu oppa!!!” Pekik MyungJin, matanya menatap layar televisi dengan antusias. Ia sedag memindah-mindah channel untuk mencari acara yang layak ditonton, dan tidak sengaja melihat MV personil JYJ itu. MV lama, tapi ia sangat menyukai lagunya.

Demi mendengar kata kedua dan ketiga yang diucapkan MyungJin, JunHong hampir saja berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya. Jun adalah nama panggilan JunHong dulu. Hanya MyungSoo dan MyungJin yang memanggilnya demikian.

Oppa tampan sekali….” MyungJin memekik pelan sambil menonton MV Junsu.

JunHong menghela napas berat. Lalu kembali membereskan meja makan. Mencuci piring dan mengikuti MyungJin ke ruang tamu.

JunHong menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah MyungJin dan meletakkan kantung kompres yang tadi diisinya dengan es batu ke mata gadis itu.

YAAA!!!”

“Sudah! Diam! Setidaknya jangan buat orang takut melihatmu dengan keadaan mata seperti ini.” JunHong semakin menekan kantung kompres itu, membuat MyungJin memberontak karena kedinginan.

“Ini dingin sekali, bodoh!!!” MyungJin menarik tangan JunHong. Demon itu malah tergelak.

Setidaknya, aku bisa mengerjaimu nuuna

Ish!”

“Mengumpat saja terus.” JunHong masih tertawa melihat ekspresi marah MyungJin. Dengan mata yang bengkak seperti itu, matanya yang memang tidak terlalu lebar itu berubah menjadi segaris. Dan itu terlihat amat lucu bagi JunHong.

“Demon menyebalkan!” MyungJin menghentakkan kakinya, melempar remote ke sofa dan beranjak menuju dapur. Sekarang selain sakit kepala, matanya juga terasa nyut-nyutan karena ulah JunHong barusan.

“Jinni… ayo berkencan denganku!” Teriak JunHong.

“HA??! Ehek ehek!” MyungJin yang sedang meminum air, mendadak tersedak. “Ken-ehek-can?”

“Ayolaah… bagaimana kalau ke Heundae? Melihat sunset, kau kan tidak sempat melihat sunset kemarin karena tidur seharian.” Kata JunHong lagi. MyungJin menatap demon yang sedang memandanganginya dengan aegyo itu dengan sebelah alis terangkat.

“Kau lupa mataku bengkak seperti ini?”

“Ayolaah, hanya sekali ini saja.” Lagi-lagi JunHong menatapnya dengan aegyo. “Sekali ini saja….” Kali ini JunHong mengacungkan telunjuknya, matanya membulat dengan alis menyatu. Persis seperi Puss in boots.

MyungJin menggigit bibir, lalu mendesah. Sejak kapan Demon ini bisa aegyo? Dan kenapa dia kelihatan imut sekali???!

“Ba-baiklah.” Kata MyungJin. Membuat JunHong mengangguk semangat. MyungJin mengambil napas, lalu berkata penuh penekanan. “Tapi awas saja kalau kau menjahiliku nanti!”

“Ini akan jadi kencan pertama kita…” terdengar JunHong berkata lagi, tapi kali ini nadanya terdengar muram. “Sekaligus yang terakhir.”

Tangan MyungJin yang sedang memegang gelas mengendur. Gelas itu jatuh ke dalam bak cuci piring. Tidak pecah, tapi suara yang ditimbulkan cukup mengagetkan. Jantung MyungJin serasa berhenti berdetak ketika mendengar kata-kata itu. ia menatap kosong sofa yang tadinya di duduki JunHong. Sekarang laki-laki itu sedang berada di garasi untuk mengambil sepeda.

“Terakhir?” Lirih MyungJin, ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir jatuh melalui pipinya. Buru-buru ia mengusap airmata yang jatuh tanpa sadar itu, lalu berlari menuju kamarnya untuk berganti baju.

JunHong berdiri didepan gerbang rumah MyungJin dengan sepeda disampingnya.

“Astaga!” Ia sedikit terlonjak ketika MyungJin datang dengan raybane hitam lebar yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

“KENAPA???!!” Sembur MyungJin.

“Kau mirip stalker!!” Jawab JunHong, sambil mengamati gadis didepannya dari atas sampai bawah. Selain kacamata hitam, ada topi lebar yang menutupi kepala MyungJin. Gadis itu memakai dress selutut motif bunga berwarna biru dan sandal jepit warna hitam.

“Sudah untung aku mau berkencan denganmu!” MyungJin segera melompat ke boncengan tanpa aba-aba, membuat JunHong yang tengah memegangi sepeda sedikit oleng.

“Baiklah, kau sepertinya bersemangat sekali di kencan pertama kita.” JunHong tersenyum lalu menaiki sepeda dan mengayuhnya.

Angin musim panas bertiup pelan, menggerakkan dedaunan yang masih menempel di cabangnya. Sinar matahari sore yang tidak terlalu terik menerobos masuk dari celah rimbun daun polar diatas mereka.

“Sudah lama sekali aku tidak naik sepeda.” Ucap JunHong.

Ya! Kau tidak akan membuat kita celaka kan?” MyungJin memukul punggung JunHong pelan.

JunHong terkekeh. “Tentu saja tidak, aku kan demon.”

MyungJin ikut tersenyum. Ia menatap punggung JunHong didepanya. Ragu, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh punggung itu. lagi-lagi perasaan asing itu kembali menyelinap. Pemandangan di depannya terasa amat familiar. Tapi sel memori di otaknya tidak merespon. ia menarik tangannya, kali ini MyungJin melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu, lalu menyandarkan tubuhnya di punggung JunHong. Aroma peppermint menyeruak dari kaos yang dikenakan laki-laki itu. ia merasa sangat familiar. Tapi lagi-lagi, sel memori di otaknya tidak merespon.

JunHong merasa tubuhnya membeku ketika MyungJin menyandarkan kepala di punggungnya.

“Tidur ya?” Tanya JunHong, masih tetap mengayuh sepedanya menyusuri jalanan kecil yang biasa dilewatinya ketika pergi ke Heundae. Jarak rumah MyungJin dan pantai itu memang tidak terlalu jauh. Hanya 10 menit dengan sepeda.

MyungJin bergeming. Ia memejamkan matanya.

“Kau gampang sekali tidur, nuuna.” Ucap JunHong pelan. Seulas senyum kembali terukir di wajahnya.

Setelah sepuluh menit bersepeda, JunHong dan MyungJin akhirnya sampai di pantai Heundae. Ratusan parasol warna-warni tertancap memenuhi pantai dengan orang-orang dibawahnya. Pemandangan biasa ketika musim panas. Semua orang berebut sinar matahari di pantai sampai pasirnya tidak terlihat karena banyaknya orang yang datang. Menjelang matahari tenggelam begini, para pengunjung yang lelah bermain di siang hari sudah mulai pergi meninggalkan pantai. Meninggalkan puluhan parasol tidak berpenghuni disana.

“Lauuuuut!!!!!” JunHong berteriak ketika kaki telanjangnya menyentuh pasir pantai Heundae. MyungJin yang berjalan pelan di belakangnya hanya tersenyum melihat demon yang terlihat seperti anak kecil di depannya.

“Norak sekali kau ini.” Cibir MyungJin. Ia mengambil posisi duduk dibawah sebuah parasol yang sudah ditinggal pengunjung sebelumnya.

“Aku rindu sekali pantai ini.” JunHong merentangkan tangannya lebar-lebar sambil memejamkan mata, bermaksud menikmati hawa laut. Ia belum sempat bernostalgia ke tempatnya bermain semasa hidupnya dulu.

“Ayo kita kesana!” Sahut JunHong penuh semangat sambil menunjuk kearah laut.

“Tidak! Aku kesini untuk melihat sunset, bukan bermain air.” MyungJin menggelengkan kepalanya. “Kemarin kan sudah.”

JunHong berjalan menghampiri MyungJin. “Kemarin kan kita tidak sedang berkencan.” Ia mengulurkan tangannya kearah MyungJin.

MyungJin memandangi tangan JunHong lalu mendesah. “Ck, kau ini.” MyungJin menerima uluran tangan itu. JunHong menariknya berdiri. Keduanya berjalan beriringan di garis pantai.

“Kau tidak akan menjahiliku kan?” MyungJin menyaruk pasir dibawah kakinya. “Kau sudah janji.”

JunHong menarik napas dan menghembuskannya keras-keras. Hatinya sedikit tidak rela kalau tidak menjahili MyungJin.

“Janji..”

JunHong mengangguk pasrah. Memang, kalau dipikir-pikir selama ia kembali menjadi demon. Belum pernah sekalipun ia menepati janji dan menuruti perkataan gadis yang tengah berjalan disampingnya.

Tahu-tahu, MyungJin berhenti melangkah. Ia menoleh kearah JunHong dan menarik tangan laki-laki itu untuk mengikutinya.

“Mataharinya hampir tenggelam.” Ucapnya sambil menunjuk matahari berwarna oranye di seberang laut dihadapan mereka.

MyungJin dan JunHong duduk dibawah parasol. Memandangi momen yang kemarin mereka lewatkan. Sunset di Heundae. Meskipun jaraknya cukup dekat, tapi MyungJin jarang sekali ke pantai itu.

“Warna matahari tenggelam itu seperti kuning telur.” Ucap JunHong.

“Aku jadi lapar..” Sahut MyungJin. JunHong menoleh, menatapnya.

“Kau ini! tidak bisa ya menikmati momen indah seperti ini.” Ucap JunHong.

“Kau sendiri yang mulai. Kuning telur.” MyungJin menautkan alisnya, balas menatap JunHong.

“Kau tidak bertanya kenapa aku mengajakmu berkencan?” Tanya JunHong. Ia sudah kembali menatap matahari yang bergerak pelan. Terlihat seperti tenggelam di laut.

“Karena kau menyukaiku, kan?” MyungJin ikut memandangi sunset dihadapannya.

“Aku tidak hanya menyukaimu..” Ucap JunHong pelan.

“Apa kau akan selamanya berada di sisiku?” Tanya MyungJin.

JunHong menoleh, menatap MyungJin yang menerawang kearah semburat jingga yang tersisa setelah matahari sepenuhnya tenggelam.

“Tidak.” Jawab JunHong singkat.

MyungJin mengalihkan pandangannya sambil menelan rasa pahit yang mendadak memenuhi mulutnya. Ia tidak akan bertemu demon itu lagi. seharusnya ia merasa lega. Tapi hatinya berkata lain.

“Ini kencan pertama dan terakhirku.” Sambung JunHong. “Kemungkinan bertemu denganmu lagi, akan sangat kecil nona stalker.”

JunHong menghela napas berat. “Bahkan mungkin, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi.”

Sekali lagi, MyungJin merasa jantungnya berhenti berdetak lalu jatuh dari rongganya. Rasanya, ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi ia sendiri tidak bisa mengingatnya.

“Aku mau mengaku padamu..” Ucap JunHong. “Karena ini hari terakhir kita bertemu.” JunHong mengulas senyum getir.

Suara MyungJin seperti tercekat di tenggorokan. “Apa?” Ucap MyungJin akhirnya. Sekuat tenaga ia menahan airmata yang sudah menggenang agar tidak jatuh. Beruntung raybane hitam besar yang dikenakannya cukup untuk menutupi area matanya. “Kau mau mengaku soal yang kemarin?”

JunHong menggeleng pelan dan menoleh, menatap gadis disampingnya. “Mungkin selama ini kau bingung kenapa aku datang padamu.”

“Penjelasanmu tidak bisa kuterima Choi JunHong.” Ucap MyungJin. Ia menggigit bibir, lalu mendesah. “Aku.. aku tidak pernah mengerti apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini.”

JunHong memandangi MyungJin. Mencoba menebak apa yang dipikirkan gadis itu saat ini.

“Kau selalu bercerita padaku, tentang masa kecil, pertemuan pertama, dan JongUp.” MyungJin menarik napas dan menghembuskannya keras-keras. “Tapi aku tidak pernah bisa mengingatnya…aku, aku tidak punya riwayat kecelakaan sebelumnya. Kepalaku tidak pernah terbentur terlalu keras, aku juga bukan orang yang pelupa.”

JunHong mengangguk mengerti.

“Aku merasa suaramu sangat familiar, wajahmu, lesung pipi yang muncul ketika kau tersenyum.. apalagi setelah kau merubah warna rambutmu.” Lanjut MyungJin. “Lima hari terakhir ini, terasa seperti de javu bagiku.”

Untuk sesaat, keduanya terdiam. Saling menatap. JunHong menatap MyungJin lekat, mencoba membaca ekspresi gadis itu.

“Aku..” JunHong menelan ludahnya susah payah. “Aku… bukan demon yang datang untuk mengabulkan permintaanmu.” Ucap JunHong. “Aku datang untuk menyelesaikan urusanku… denganmu.”

MyungJin mengerjap.

Debur ombak cukup besar, membuat ujung kaki MyungJin basah terkena air laut. MyungJin bergerak memeluk kakinya. Menyandarkan kepala pada lutut sambil menatap JunHong. Perlahan ia melepas kacamata hitam dan topi lebarnya.

“Hari itu.. ketika kau pergi dengan JongUp hyung ke taman hiburan… aku berencana menembakmu juga.” JunHong tertawa, miris. “Tapi, tenyata hyung bergerak lebih cepat dariku. Aku mengikuti kalian, sampai kalian berdua masuk ke bianglala. Sampai disitu, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, seperti pengecut, aku tidak jadi menyatakan perasaanku padamu.” JunHong mengerjap ketika setitik air jatuh membasahi pipinya. “Aku berjalan pulang sambil mendengarkan lagu, menyetel volumenya keras-keras, berharap rasa sakitnya berkurang, tapi…” JunHong memotong ucapannya. Matanya menerawang. “Andai saja aku tahu kalau itu hari terakhirku melihatmu, aku menyesal sekali karena tidak bisa mengatakannya padamu. Demon itu mendatangiku yang sedang putus asa, menawarkan bantuan.. dia akan mengabulkan apapun yang kuminta, dan tanpa sadar kuminta agar aku bisa selalu bersamamu. Dia mengabulkannya, tapi dengan cara yang salah. Dia ikut membawamu ke dunianya, dan untuk membawamu kembali pada MyungSoo hyung, aku menukar jiwaku dengan satu permohonan lagi.”

MyungJin bergeming.

“Demon itu setuju, dia mengembalikanmu pada MyungSoo hyung… dan aku bisa menemuimu lagi.. tapi sebagai gantinya, ingatanmu tentangku akan terhapus.”

JunHong mendengus geli. Tidak ada yang lucu, ia merasa hidupnya sedang dipermainkan oleh demon yang menolongnya.. tidak, demon itu menjebaknya.

“Dan ini, hari terakhir aku muncul sebagai demon di hadapanmu.” JunHong mengulas senyum. “Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang mengganggu ketentraman hidupmu.”

MyungJin menatap JunHong tanpa berkedip. “Kau senang?” tanyanya pelan.

JunHong mengernyit, menatap MyungJin dengan ekspresi tidak mengerti.

“Kau senang karena urusanmu sudah selesai.” setitik air menetes melewati pipi MyungJin. “Bodoh!” MyungJin beranjak dan berlari meninggalkan JunHong yang menatapnya nanar.

“CHOI JUNHONG BODOH! MENYEBALKAN!” MyungJin menendang pasir dibawah kakinya sambil berteriak. Airmata yang tadi ditahannya, tumpah begitu saja. ia menendang-nendang pasir sampai akhirnya jatuh terduduk. Menangis terisak. Dadanya seperti dipenuhi udara, dan rasanya sesak sekali.

Nuuna?” JunHong berjalan mendekati MyungJin. Ragu, ia menyentuh pundak gadis yang tengah terisak itu.

“Kau gila ya Jun??!!!” teriak MyungJin disela tangisnya, suaranya bergetar.

Nuuna..” JunHong menunduk memeluk MyungJin.

“DASAR BODOH!!!” MyungJin memukul lengan JunHong yang melingkari pundaknya.

Nuuna.. kau, sudah ingat?”

“Ingat apa? Dasar bodoh! Jun bodoh! Laki-laki brengsek!” MyungJin berhenti memukuli JunHong, ia membalas pelukan JunHong.

“Maaf…maafkan aku nuuna.” JunHong ikut terisak. Beban di pundaknya seperti terbang sedikit-demi sedikit.

“Jangan pergi—” Ucap MyungJin pelan. Tangisnya mulai mereda.

“Maaf—“

“Kubilang, jangan pergi…”

“Sungguh maafkan aku…”

“Kau mau aku hidup seperti sebelumnya?”

JunHong terdiam.

“Kau mau aku hidup dengan ingatan palsu?”

JunHong semakin mengeratkan pelukannya. Ia sendiri takut sekali kalau sampai gadis ini menjalani hari-hari seperti sebelumnya. Sebelum ia datang sebagai demon.

“Kau jahat sekali.”

Sa-rang-hae-yo.” Sahut JunHong. “Jinsimuru(benar-benar tulus).. saranghaeyo Kim MyungJin.”

MyungJin kembali terisak. Darahnya seperti mengalir terlalu deras ke jantungnya, membuat dadanya seperti mau meledak.

“Aku juga, Jun… aku juga—” Teriak MyungJin pilu, ketika menyadari bahwa yang dipeluknya adalah udara.

“Jinni!!!” MyungSoo berlari kencang kearah MyungJin yang terisak semakin dalam. “Jinni, Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja.. ada oppa disini.” MyungSoo bergerak memeluk adiknya. Mengusap kepala MyungJin, mempererat pelukannya.

Oppa.. oppa…” MyungJin menangis. Suaranya terdengar memilukan. Perlahan airmata MyungSoo ikut menitik. Ia sudah hampir lupa kapan terakhir kali MyungJin menangis seperti ini.

“Jangan menangis.. semua akan baik-baik saja.”

Oppa… bagaimana ini? aku harus bagaimana?”

 

Not our first met

But, our last met

That became the strongest memory

Tiga bulan kemudian…

MyungJin menatap lekat patung hiu raksasa yang menggigit tulisan “Busan Aquarium” didepannya. Rasanya, sudah lama sekali ia tidak mengunjungi tempat ini. bangunan melingkar yang terletak disamping pantai Heundae.

“Ayo masuk!” MyungSoo menepuk punggung adiknya sekembalinya membeli tiket masuk.

Mereka berdua memasuki bangunan itu dan disambut oleh tangki raksasa. Mata MyungJin langsung melebar begitu melihat biota laut yang berwarna-warni dibalik akuarium raksasa didepannya. Tanpa sadar, ia sudah menempelkan dahinya ke kaca akuarium.

MyungSoo terkekeh. “Kau ini… memangnya anak kecil?”

MyungJin mencibir, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai memotret ikan-ikan itu sementara MyungSoo mengamatinya dari belakang dan tersenyum hangat. Setelah puas memotret, MyungJin segera berjalan menuju kolam penguin tanpa menunggu MyungSoo.

Disana, puluhan penguin dengan berbagai ukuran sedang berkumpul untuk menerima makan dari pelatihnya. MyungJin segera menempel ke pagar dan kembali memotret dengan ponselnya.

“Katanya, penguin itu hewan yang sangat setia dengan pasangannya lho.” Tahu-tahu MyungSoo sudah berada disamping MyungJin, memandangi sepasang penguin yang sedang menyuapi anak mereka yang masih kecil. Penguin kecil itu memiliki bulu berwarna abu-abu. “Romantis ya.”

MyungJin mengangguk setuju, lalu ikut menatap keluarga penguin yang harmonis itu, teringat keluarganya sendiri. Dulu, sebelum ayahnya meninggal.

“Jinni, oppa mau kesana dulu.. mau lihat pertunjukan hiu, kau mau ikut?” MyungSoo menunjuk kearah kumpulan pengunjung yang berdiri didepan akuarium berisi ikan hiu. MyungJin tersenyum. Sama seperti dulu, MyungSoo selalu suka pertunjukan memberi makan hiu.

“Tidak… aku mau lihat para penguin itu saja.” MyungJin menggeleng pelan sebagai jawabannya.

“Baiklah.. oppa kesana dulu ya.” MyungSoo setengah berlari menuju kerumunann itu. MyungJin menatap punggung kakaknya sampai hilang diantara kerumunan pengunjung, lalu berbalik. Kembali mengamati tingkah lucu penguin yang sedang memakan makanan mereka.

“Zelo… kau dimana?”

Sebuah suara terdengar.

“Zelo…..”

MyungJin yang tadinya tidak tertarik dengan suara laki-laki yang memanggil-manggil nama ‘Zelo’ akhirnya menoleh. Seorang laki-laki awal tiga puluhan berkacamata minus terlihat sedang berjalan mondar-mandir di belakangnya.

MyungJin menatap laki-laki itu sebentar. Merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

“Permisi… apa anda melihat seorang laki-laki jangkung berkulit putih dan berambut hitam?” Laki-laki itu menangkap mata MyungJin sebelum gadis itu sempat berbalik.

“Apa anda lihat? Dia setinggi ini.. dia memakai topi berwarna hitam dan jaket baseball…” Jelas laki-laki didepannya. “Kalau anda menemukannya, tolong bawa dia ke ruang informasi, terinymakasih sebelumnya.” Ucap laki-laki itu lalu berbalik dan pergi dari hadapan MyungJin dengan langkah lebar-lebar.

Sepeninggal laki-laki itu. MyungJin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ada satu dorongan kuat yang memaksanya untuk mencari laki-laki dengan ciri-ciri yang dimaksud tadi. Meski ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

MyungJin melangkahkan kakinya menjauhi kolam penguin, menyusuri terowongan bawah laut. Ia mengamati setiap laki-laki bertopi yang dilihatnya. Tapi tidak ada yang sesuai dengan ciri-ciri yang dimaksud laki-laki tadi.

MyungJin kembali melangkah, kali ini tujuannya adalah kolam berang-berang.

MyungJin berhenti didepan kolam berang-berang. Hewan lucu itu terlihat berenang dengan senang di kolam buatan didepannya.

Long time no see—

Sebuah suara terdengar dari arah samping. MyungJin menoleh.

“Lama tidak bertemu ya?” Seorang laki-laki jangkung dengan jaket baseball dan topi hitam tengah mengamati berang-berang yang sedang berenang. Laki-laki yang berbicara dengan berang-berang.

MyungJin menatap laki-laki itu lekat-lekat.

Tiba-tiba laki-laki itu menoleh. Seulas senyum terukir di bibirnya, dibarengi sepasang lesung pipi samar yang muncul ketika laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya keatas.

Nuuna—” laki-laki itu tersenyum memperlihatkan giginya lalu mengedipkan sebelah matanya.

MyungJin merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.

 

 

-END-

Advertisements

2 thoughts on “DEMON SERIES | 5th Don’t Say Goodbye (End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s