[FF] WHITE INK

channr
Source: Google

Tittle     : White Ink

Scriptwriter        : azuream8/Kim

Main Cast            : Park Chan Yeol (EXO), Lim Ho Ji (OCs)

Support Cast      : Huang Na Bi (OCs), Byun Baek Hyun

Genre   : Fluff, Friendship, Angst, Romance, Comedy

Duration              : Vignette

Previous Part     : Love Need Money | Proposal

Rating   : PG

Summary

They said falling in love is the easiest thing to do

As easy as breathe

But for me

It’s so hard

When I realize

I falling for my best friend

 

Semua orang pernah jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pada siapapun, atau apapun. Karena, jatuh cinta adalah hal termudah di dunia. Semudah menghirup oksigen yang tersembunyi dalam lapisan udara.

Tapi, bagi Park Chan Yeol. Jatuh cinta itu sulit. Sesulit ujian kalkulus guru Cho yang tidak pernah menemukan jawaban yang benar, sesulit mengajari Sehun berkata sopan ketika berbicara dengan senior, sesulit menghentikan lelucon Jongdae yang mulai tidak masuk akal, sesulit meyakinkan WuFan kalau dia bukan pelukis.

Jatuh cinta itu sulit bagi Chanyeol. Karena ketika dia menyadari jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, dan itu benar-benar bukan hal yang mudah.

Namanya Huang Na Bi.

Gadis dengan kulit seputih susu, rambut panjang berwarna kemerahan yang seolah terbakar ketika sinar matahari menerpanya, mata bulat dengan iris hitam pekat, hidung yang kecil dan mancung, bibir mungil sewarna ceri, juga gigi kelinci yang terlihat lucu ketika dia tersenyum. Dalam satu kata, cantik.

15 tahun bersahabat, bukan waktu yang singkat. Mengingat betapa sulitnya Na Bi beradaptasi dengan suasana baru, dan butuh waktu baginya untuk memberikan gelar teman pada seseorang, apalagi sahabat.

Tapi Chan Yeol dengan mudah mendapat gelar itu hanya dalam sehari. Sangat singkat. Dan dia naik pangkat menjadi sahabat dalam 3 hari.

Chan Yeol berusia 4 tahun, seorang anak kecil yang menyenangkan. Hingga dia tumbuh menjadi laki-laki jangkung berumur 17 tahun dengan senyum jenaka yang selalu menghiasi wajahnya. Rambut hitam yang sedikit bergelombang dan kulit putih membuatnya selalu sempurna ketika mengenakan pakaian apapun. Sikap konyol dan kekanakan yang selalu mengundang tawa. Membuat siapapun pasti akan dengan mudah berteman dengannya. Termasuk Na Bi.

Butuh waktu cukup lama bagi Chan Yeol untuk menyadari bahwa rasa sayangnya pada Na Bi tidak hanya sekedar sayang pada sahabat. Butuh 15 tahun lamanya bagi Chan Yeol untuk menemukan alasan munculnya rasa menggelitik di dasar hatinya yang timbulkan desiran halus dan buat jantungnya berdetak tidak beraturan. Butuh waktu lama baginya untuk mencerna setiap rasa aneh yang ditimbulkan ketika Na Bi di sampingnya, tersenyum, tertawa, menangis, memeluknya.

Butuh waktu lama.

Dan Chan Yeol menyesalinya.

Karena waktu berlalu terlalu cepat, berlari meninggalkannya di belakang.

Dia menyesal.

Ketika menyadari bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalaskan.

Saat itu musim semi. Hari beranjak senja ketika Na Bi tiba-tiba muncul di kamar Chan Yeol dan memeluknya-yang sedang tidur-erat hingga sulit bernapas.

“Hey! Kau ini kenapa? Aku-ehek-sesak tahu!” Chan Yeol menarik lengan Na Bi yang melingkar di leher dan dadanya.

“Yeol—“ panggil gadis itu dengan senyum mengembang di wajahnya.

“Apa?”

“Yeol—“

“Aku tidak tuli Huang Na Bi!” Chan Yeol mengeram sebal ketika Na Bi memanggilnya tepat di telinga. Membuatnya seperti mendengar suara speaker sekolah yang berdengung ketika akan ada pengumuman.

Na Bi tertawa pelan sebelum melepas pelukannya dan beralih duduk diatas kasur Chan Yeol.

“Ada apa?”

“Dia menembakku Yeol!”

“Hah?” Chan Yeol mengerjap dua kali, lalu bangkit duduk di hadapan Na Bi. Chan Yeol mengerti apa yang dimaksud gadis itu, tanpa Na Bi mengatakan lebih jelas.

Saat itu, Chan Yeol merasa jantungnya berhenti memompa darah ke otak, membuatnya beku sesaat.

“Yeol!” Na Bi menggoyangkan bahu Chan Yeol, masih dengan senyuman terkembang dan rona merah menghiasi pipinya.

Chan Yeol menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Mengerjap. Menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sesak di dadanya.

“Kau tidak memberiku ucapan selamat?” Na Bi mendekatkan wajahnya, menatap Chan Yeol penuh tanya.

Chan Yeol bergeming. Sesak.

Semakin sesak.

Chan Yeol harap ini hanya mimpi. Karena dia berharap cupid tidak datang dan melontarkan panahnya pada Na Bi. Tidak secepat ini. Tidak, ketika dia baru saja merasakan debar-debar menyenangkan yang membuatnya tidak ingin lepas dari gadis di hadapannya. Terus menempel pada Na Bi seperti tentakel gurita dan kaca.

“Selamat.”

Chanyeol mengucap pelan. Seiring puluhan pisau yang menusuk dada kirinya. Rasanya sakit, hingga hampir membuatnya meneteskan airmata. Namun dia berbisik pelan pada hati kecilnya.

 

Ini bukan akhir dunia, dia baru akan berpacaran

Setahun berlalu,

Chan Yeol salah ketika dia membisikkan kata-kata itu di hatinya.

Chan Yeol salah ketika dia menyadari betapa banyak racun merah muda yang dibubuhkan cupid pada panahnya.

Chan Yeol menyesal, ketika dia berdiri di altar dengan sekotak cincin di tangannya.

Chan Yeol menyesal, ketika pasangan itu memasangkan cincin platina di jari manis, mengucap janji setia sehidup semati, dan meninggalkan Chan Yeol dengan segala penyesalannya.

Dua hari setelah kelulusannya dari SMA, Chan Yeol kehilangan Huang Na Bi.

Cinta pertamanya,

Sahabatnya,

Chan Yeol merasa inilah akhir dunia.

Sendirian.

Chan Yeol belum terbiasa.

Dia belum terbiasa hanya berdiam diri di kamar, menonton film pendek Huang Na Bi saat study tour ke Jepang ketika mereka duduk di kelas IX. Biasanya, akan ada gelak tawa gadis itu beserta komentar-komentarnya mengenai betapa lugunya wajah teman-temannya kala itu, menemaninya. Membuat acara menonton menjadi menyenangkan.

Dia belum terbiasa, ketika hatinya kacau setelah mendapat omelan ayahnya agar tidak lagi bermain musik. Omelan yang selalu menyuruhnya untuk berhenti memetik senar-senar gitar dan menuliskan berbait-baik lirik di buku tulisnya, dan tidak ada Huang Na Bi yang bersedia mendengarkan curahan hatinya.

Dia belum terbiasa, ketika menemukan jendela kamar Na Bi gelap. Tidak ada remang kekuningan yang berasal dari lampu tidurnya, atau tirai yang terbuka. Karena gadis itu tidak lagi disana. Dia pergi, bersama pasangannya ke negeri yang jauh. Dan Chan Yeol tidak lagi bisa menjangkaunya.

Chan Yeol menyesal.

Namun hari-harinya sedikit terobati oleh kehadiran sahabatnya yang lain.

Byun Baek Hyun.

Dia laki-laki. Mungil, dengan senyum lucu dan selera humor yang baik. Bersuara-amat-merdu dan teman curhat yang menyenangkan. Baek Hyun sama seperti Na Bi. Dia selalu mengerti betapa cintanya Chan Yeol pada musik. Karena dia juga mencintai musik, sama sepertinya. Mereka sahabat. Berada dalam satu band, Baek Hyun vokalis, dan Chan Yeol gitaris.

Sedikit demi sedikit, Baek Hyun dapat mengisi ruang kosong berlabel sahabat, menggantikan Huang Na Bi di hatinya.

Namun, rasa itu masih ada.

Baek Hyun laki-laki. Dan Chan Yeol tidak mungkin jatuh cinta padanya. Seperti dia jatuh pada pesona Na Bi.

Rasa itu masih ada, dan Chan Yeol ingin segera mengenyahkannya.

Maka Chan Yeol pergi.

Dia menghabiskan satu hari, dua puluh empat jam dalam hidupnya, untuk mencari tinta putih yang dapat menutupi nama Huang Na Bi yang tertulis dengan tinta hitam di hatinya.

Sia-sia.

Bayangan Na Bi masih mengikutinya kemanapun dia pergi.

Baek Hyun mengenalkannya pada seorang gadis di kampus. Mereka sekelas. Namanya Joo Young Jin. Gadis manis dengan lesung pipi yang nampak ketika dia menyunggingkan senyum. Rambut pirang yang ikal dan diikat menjadi satu dengan pita merah muda. Membuatnya terlihat seperti Goldilocks dalam dongeng 3 Beruang.

Satu kali,

Chan Yeol membisikkan dalam hati untuk mencoba.

Dan dia mencoba menutup nama Huang Na Bi dengan tinta putihnya.

Namun, tinta itu tidak terlalu pekat.

Transparan. Dan Chan Yeol dapat membaca nama itu lagi.

Huang Na Bi

Chan Yeol menyerah.

Dua kali,

Baek Hyun kembali mengenalkannya pada gadis lain.

Namun berakhir sama seperti sebelumnya.

Begitu seterusnya…

Dan Baek Hyun menyerah, membiarkan laki-laki itu kembali hanyut akan pikirannya tentang Huang Na Bi.

Tahun berganti,

Musim berganti,

Bulan berganti,

Sampai suatu hari, di musim gugur.

Hati Chan Yeol serasa tersayat, ketika kepingan-kepingan kayu itu menyebar di lantai kamarnya yang dingin.

Gitarnya.

Tempat dia menyimpan sebagian cintanya.

Hadiah ulang tahunnya yang keenam belas dari Huang Na Bi.

Dan ayahnya menghancurkannya.

Chan Yeol kacau.

Tidak tahu harus berbuat apa.

Maka dia pergi. Dengan amarah membuncah. Melangkahkan kakinya cepat di trotoar yang ramai. Berbaur bersama pejalan lain. Tanpa arah. Tidak peduli semburat jingga tidak lagi mewarnai langit di atasnya, atau jam digital di toko seberang yang menunjukkan angka dua puluh dua dan empat puluh tujuh.

Sampai dia tiba di satu tempat.

Chan Yeol memandangi barisan orang yang mengantre tiket untuk pertunjukan musik underground, di satu sudut Seoul yang nyaris tidak terdeteksi dari luar. Jauh tenggelam di dalam bangunan-bangunan tua yang ditinggalkan.

Dia memandangi mereka.

Sampai seorang menarik perhatiannya.

Dia tampak bercahaya dalam balutan hoodie kuning bergambar bebek, celana jeans panjang berwarna biru melekat pas di kaki jenjangnya, rambut sebahu yang berkilau keemasan ketika cahaya lampu meneranginya, bulu mata lentik dan panjang, bibir tipis merah muda, dan hidung kecil yang membuatnya terlihat manis. Kontras dengan orang-orang di sekitarnya yang berpenampilan mengerikan. Tato, rambut di cat warna menyala, dan pakaian serba hitam, juga piercing dimana-mana.

Chan Yeol terpana.

Dia merasa bumi berhenti berputar. Lalu, semua cahaya di sekelilingnya lenyap. Menyisakan satu lampu yang menyorot gadis itu.

Chan Yeol tidak bisa mengendalikannya.

Dia berjalan cepat.

Memotong antrean.

Diam-diam berada di sebelah gadis itu.

Cantik

Chan Yeol membisik pada hati kecilnya.

Rapuh

Chan Yeol menatapnya tanpa berkedip. Bagaimana gadis itu terlihat gugup di tempat gelap dan di kelilingi orang-orang menakutkan.

Ini kedua kalinya, Chan Yeol merasa desiran-desiran halus yang membuatnya bergidik tapi terasa menyenangkan. Jantungnya yang berdentum-dentum ingin keluar dari rongganya, tapi tidak membuatnya khawatir.

Lalu sebuah ide terlintas di benaknya.

Sebuah perkenalan.

Perkenalan yang tidak biasa

Chan Yeol menyeringai penuh makna.

Tangan panjang Chan Yeol merogoh tas gadis itu. Mengambil benda persegi dengan pin golden crown dari sana.

Dalam sekejap, benda itu sudah berpindah-dari tas-ke tangannya. Chan Yeol pergi. Berlari menjauh dari antrean. Mengawasi gadis itu maju, menuju loket.

Chan Yeol memperhatikannya.

Wajah panik itu, mata yang berkaca-kaca, kilatan amarah.

Gadis itu berjalan. Menarik diri dari antrean. Berdiri di bawah lampu kuning sambil mengoyak isi tasnya, mencari benda itu. Benda yang diambil Park Chan Yeol.

Berpura-pura menjadi pencopet.

Satu hal yang baru bagi Chan Yeol. Bukan hal yang baru kalau dia bersikap konyol atau melawak tidak masuk akal seperti Kim Jongdae. Tapi hal baru ketika dia memutuskan menjadi seorang kriminal demi berkenalan dengan seorang gadis.

Dan Chan Yeol tidak menyesal.

Ini pertama kalinya, dia merasa tidak menyesal setelah Na Bi meninggalkannya.

Ini pertama kalinya, dia melakukan hal-hal aneh diluar nalarnya untuk tinta putihnya.

Tinta putih pekat yang tidak hanya menutup nama Huang Na Bi di hatinya. Tapi juga mewarnai lembaran itu, dan membuatnya nampak baru.

Dan Chan Yeol kembali menulis dengan tinta di hatinya.

Lim Ho Ji

Bukan hanya hitam. Tapi merah, biru, kuning, hijau, jingga, dan semua warna yang tertangkap penglihatannya.

Chan Yeol kembali tertawa. Chan Yeol kembali merasakan bahagia. Chan Yeol kembali melucu dan melakukan hal-hal konyol.

Chan Yeol tidak khawatir atau ragu

Ketika cupid kembali melayangkan panah kepadanya

Chan Yeol tahu, itu bukan lagi sebuah panah

Melainkan sepasang

Untuknya,

dan untuk tinta putihnya

“Berhenti memanggilku Chan-nie!”

“Kenapa? Itu bagus kan?”

“Kita ini sepasang kekasih, dan sudah bertunangan.”

“Lalu?”

“Panggil aku yeobo(sayang)!”

“Uh, tidak!”

“Panggil aku yeobo.”

“Astaga Chan Yeol! Aku tidak mau! Lalu, kau mau dipanggil apa ketika kita menikah nanti?”

“Apa? Menikah? Kau ingin cepat-cepat menikah denganku ya?”

“I-itu.”

“Sayang, bagaimana kalau besok saja kita menikahnya.”

“Apa?!”

“Dan aku bisa mendengarmu memanggilku yeobo.”

“Kau gila ya Park Chan Yeol?!”

“Hey, hey! Berhenti memukulku!”

-END-

A/N        : Subhanallah 😀

Dari mana asalnya-ide-filosofi tinta putih dan panah cupid itu? Salahkan imajinasi liar saya yang dibawa terbang karena suara yang pertama kali saya dengan ketika bangun adalah sapaan “cepat bangun” dari Odult -_- #yaLuhan

Tadinya mau bikin sequel yang comedy, tapi malah banjir diksi dan angst. Tapi, pada akhirnya kan ada komedi, walau Cuma seupil 😀 Saya ngetik pake hape supersmart tadi pagi di kamar asrama adek di lantai 4. Pemandangannya super dan suara seksi si Yoda bikin saya semakin melayang sampe EXO Planet #lebay

EXO Saranghaja!

Advertisements

One thought on “[FF] WHITE INK

  1. Hallo 🙂 aku baru berjalan-jalan di blog mu dan seketika terpana pada FF ini karena —omg— ini FF mirip banget sama kisahku awalnya *plaaak*
    Astaga aku lega Chanyeol bisa move on dan jadi happy ending ^^
    Nice fic~~
    Salam kenal, aku Nao. Mind to visit my blog?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s