A COMMENT

E-Den-3-3-eden-lc9-34584458-496-630(Maroon5 ft Christina Aguilera – Moves Like Jagger)

“Selalu seperti ini..” ucapnya sambil memandang foto yang baru saja ku posting di Facebook.

“Apanya?”

“Senyummu…”

Aku menaikkan sebelah alis, tidak mengerti.

“Semuanya palsu.” Jawabnya cuek, hampir terdengar monoton. Tanpa peduli akibat yang ditimbulkan pada hatiku.

Satu hari di musim dingin akhir bulan November, aku mendapat komentar paling berpengaruh pada kehidupan sosialku dari salah satu temanku tentang foto-fotoku yang sedang tersenyum.

***

 

Uh!!!

Dia benar-benar berhasil menjatuhkanku. Rasanya seperti seseorang sedang menelanjangimu di jalan raya, oh itu terlalu sadis. Pokoknya rasanya amat sangat ‘aneh’?. Seolah dia baru saja membuka rahasia terbesarku.

Ucapannya benar-benar merubah hidupku setelah itu. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi yeah itulah kenyataannya.

Baik, biar kuperjelas.

Di benar-benar mengubahku. Sejak hari dia berkomentar-ehem-mengenai senyum palsuku, aku tak pernah lagi berfoto sambil tersenyum. Kecuali saat candid.

Aku tak lagi mem-posting fotoku.

Ucapannya benar-benar menohok.

Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Menyebalkan!!

Egoku memang cukup tinggi. Hey, aku hanya manusia biasa, oke.. tak ada satupun manusia di Bumi maupun di Planet di Galaksi lain yang egonya tidak setinggi lapisan Eksosfer.

Dan yang lebih menyebalkan adalah, dia bahkan tidak mau repot-repot memberitahuku alasan di balik komentarnya. Maksudku, kami bahkan tidak begitu dekat. Hanya sesekali chatting di WhatsApp dan makan siang bersama karena kantornya yang berada tepat di atas kantorku. Obrolan kami bahkan hanya seputar pekerjaan, atau general topics. Bagaimana mungkin dia bisa berkomentar setepat itu mengenai diriku?!

Dia membuatku kesal dan penasaran di saat bersamaan.

Sekali lagi, ini menyebalkan!!!

Dan yang lebih parah, aku bahkan tidak bisa menemuinya. Well, secara tiba-tiba dia mendapat pekerjaan di luar LA-daerah New Orleans-selama dua minggu.

Just great.

Aku tidak bisa memuaskan rasa penasaranku, selama dua minggu!

Adakah yang bisa lebih buruk dari ini?

“Hai, Blue..”

Kurasa aku baru saja dapat jawabannya. Betapa beruntungnya aku!!!

Aku memutar bola mata secara otomatis ketika suara beratnya dan suara gesekan kaki kursi terdengar.

Aku bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop dengan grafik penjualan berwarna-warni.

Seriously Blue, kau kerja di jam istirahat?”

Aku berusaha konsentrasi pada angka miliaran pada grafik, yang ternyata sangat sulit!! Apalagi mendengar suaranya yang lebih ceria dari biasanya.

“Laporan penjualan bulan ini, deadline nya nanti sore.” Jawabku sedatar mungkin.

Dari sudut mata, aku bisa melihatnya mengangguk-angguk dengan tangan terlipat di dada.

“Kau sudah pesan?”

Setelan Armani serba hitam dan rambut dirty blonde yang sedikit berantakan. Urgh!!!! Tidak bisakah dia terlihat normal?

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Blue.”

Aku hampir mengetikkan sesuatu, “Apa?”

“Kau sudah pesan?”

Aku mengangguk dan melanjutkan mengetik.

Sepuluh menit berlalu,

Sesekali, terdengar suara alat makan yang beradu dari arah depanku.

“Kupikir kau ke sini untuk makan siang?”

Aku pura-pura tidak dengar dan memasukkan kentang goreng ke mulutku, mengunyahnya pelan.

Am i pissing you off, Blue?”

Biarkan saja… jangan dijawab..

“Kau tidak pernah mem-posting fotomu ke Facebook akhir-akhir ini.”

Apa maunya orang ini sih?!

“Apa karena komentarku waktu itu?”

Tepat sekali tuan sok tahu!

Hey… aku hanya bercanda kau tahu..”

Sayangnya aku tidak tahu.

“Blue, dengar.. aku hanya bercanda soal waktu itu.. tapi…”

Dia sengaja menggantungkan ucapannya supaya aku berhenti mengetik dan mengacuhkannya.

Jadi, kututup laptop-ku dan memasukkannya ke dalam tas.

“Tapi?”

“Tapi aku lebih setuju kau tidak mem-posting foto-fotomu di Facebook.” Ucapnya lalu mengunyah sepotong kentang goreng.

Ooooo…kay..dia mulai membuatku bingung. Dan rasanya situasi ini sangat familiar..

Tunggu! Apa dia sedang flirting?!!

Okee… baiklah, kita lihat sejauh mana kau bisa pergi.

“Kenapa?”

Nothing specific, hanya saja aku tidak suka wajah tersenyummu dilihat banyak orang.”

Uhhh!!! Boleh aku muntah sekarang?

Setengah mati aku menahan diri untuk tidak menggaruk wajahnya yang dihiasi seringai nakal itu.

Kau boleh, bahkan sangat boleh menganggapku sebagai wanita paling melankolis yang kelewat sensitif di seluruh semesta-meski kedengarannya amat sangat berlebihan-karena, mungkin memang begitu kenyataannya. Dan kau juga boleh sekali membenarkan komentar pria yang sedang asyik menyesap Cappuccino panasnya di depanku ini, kalau senyumku palsu, karena sebenarnya aku memang orang yang eumm… chic? Begitulah.

Kalau dipikirnya menggodaku adalah hal yang mudah. Akan kutunjukkan kalau dia salah.

“Apa ini modus barumu untuk menggoda wanita, Eden?”

Pria di depanku tertawa.

“Kau tidak lelah dengan love-hate relationship ini, Blue?”

Huh? Love-hate kepalamu?!

Aku mengedikkan bahu.

“Berhentilah bersikap sinis padaku, Blue..”

Aku mengedikkan bahu, lagi.

Kualihkan pandanganku ke sekeliling. Beberapa mahasiswa terlihat terpesona oleh ketampanan-oh anggap bukan aku yang mengatakannya-Eden, sesekali melirik dan bergosip dengan teman semejanya.

“Bisa kupertimbangkan…” aku beralih menatapnya, “asal kau berhenti bersikap seperti ini.”

Dia balik menatapku dengan sorot sok polosnya. “Seperti ini? Seperti apa?”

Oh.. come on, Eden..” aku tidak tahan untuk tidak memutar bola mataku.

Anehnya, dia malah tergelak. Apanya yang lucu sih??!

Pria ini memang benar-benar tahu bagaimana cara untuk mengikis kesabaran seseorang.

Aku melirik jam di pergelangan tangan. 5 menit lagi jam istirahat habis.

Saved by the bell!

“Sudah mau pergi?” tanyanya senseless. “Tapi, makananmu belum habis dan aku belum selesai makan, Blue.”

Aku berhenti membereskan kertas file dan menatapnya.

“Temani aku sebentar lagi?”

Aku menggaruk pelipis, memasukkan map berisi file ke dalam tas, lalu beranjak-setengah tersenyum sebelum melangkah ke dekatnya. Sedikit membungkuk, mengancingkan kancing teratas kemejanya dan merapikan dasinya, tanganku menepuk-nepuk bahunya menyingkirkan debu tak kasat mata dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.

Listen Eden,” kataku setengah berbisik. “Harusnya kau melakukan riset lebih dulu untuk mengetahui siapa yang kau dekati.”

Aku mengangkat satu tangan, memperlihatkan diamond ring di jari manisku.

Dan dengan satu tepukan di bahunya aku pergi ke luar dari restoran.

Terbersit keinginan untuk menoleh dan melihat reaksi syok pria itu, namun aku memilih untuk mengabaikannya dan melenggang kembali ke kantorku.

Oh! Dan kupikir, aku sempat mendengar dia mengumpat tadi..

Atau mungkin, tidak?

Entahlah..

-FIN-

Advertisements

6 thoughts on “A COMMENT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s