PLUVIOPHILE

source: Google
source: Google

***

Kereta listrik jurusan Bandung-Yogyakarta berjalan tenang di tengah hamparan sawah. Dalam gerbong kelas eksekutif, seorang perempuan pertengahan dua puluh tahun memandang kosong ke luar jendela. Kedua netranya menyorot sendu pada langit mendung di luar sana. Sejemang kemudian, titik-titik air mulai berjatuhan, mengalir membuat alur acak di kaca jendela membuat Canis sedikit berjengit dan memalingkan wajahnya. Ia tidak suka hujan. Hujan membuatnya basah dan kedinginan. Meski banyak orang menyukai petrichor yang menguar kala bulir air mencium tanah, aroma khas itu justru membuat kepalanya mendadak pening. Suara hujan yang kata orang bisa membuat perasaan tenang, alih-alih membuatnya tak nyaman.

Canis mengorek duffle bag-nya, mengambil iPod, menyumpal telinganya dengan earphone lalu mulai mendengarkan lagu. Selain aroma dan suara hujan, Canis juga benci perubahan suasana yang ditimbulkan. Saat hujan turun, tiba-tiba segalanya menjadi terkesan muram. Canis benci hujan. Ia benci perasaan sesak yang timbul saat ingatannya tertuju pada seseorang. Seseorang yang begitu mencintai hujan. Seseorang yang bahkan di saat terakhirnya diantar oleh hujan.

Canis mendesah, lalu menyandarkan kepalanya pada jendela. Tak berapa lama, ia sudah terlelap.

“Kamu nggak kesepian?” Tanya Canis. “Kamu nggak kesepian apa, nggak ada temen main selain aku? Apa segitu nggak sukanya kamu bergaul sama orang lain?”

“Aku nggak kesepian selama ada kamu.” Jawab Leo membuat Canis tertegun. Sementara Leo mendengus geli sebelum melanjutkan, “Kalo sama kamu, aku udah ngerasa kayak lagi ngobrol sama lima eh-enggak sepuluh orang.” Leo kembali tertawa saat melihat ekspresi Canis yang berubah kesal.

“Kok gitu sih? Segitu berisiknya ya aku?” tanya Canis lagi. “Serius deh Yo!”

Leo terdiam lama. Ia memandang jauh ke langit malam yang ditutupi mendung. Perlahan ujung bibirnya terangkat membentuk senyum simpul. “Aku nggak mau berbagi kenangan sama orang lain. Cukup kamu.”

Canis merasakan pipinya menghangat,

“Aku lebih suka Cuma ada banyak kenangan dengan satu orang yang bisa aku inget sampe akhir, daripada sama banyak orang dan aku nggak bisa inget semuanya.” Lanjut Leo.

Canis mengerjap setetes airmata yang memaksa keluar. “Kamu ngomong kayak gitu udah kayak mau mati aja. Kesel!!!” Ia mencubit gemas lengan Leo.

“Umur manusia nggak bisa ditebak Nis, bisa aja sekarang kita becanda-becanda besok aku udah nggak ada.” Ucap Leo masih dengan mimik serius.

“Bodo ah! Kenapa jadi melow gini sih? Mentang-mentang lagi ujan.” Canis beranjak dari teras. Udara terasa semakin dingin membuatnya mulai menggigil. Sampai di ambang pintu, Canis berhenti dan berbalik, memandangi Leo yang asyik bermain air hujan dengan tangannya.

“Yo!!! Masuk nggak?? Gue kunci nih!”

Leo terkekeh mendengar perubahan panggilan aku-kamu menjadi elo-gue, pertanda Canis sedang benar-benar kesal.

“Iya-iyaa..” Dengan enggan Leo beranjak dari teras, mengusap tangannya yang basah pada kaos lengan panjangnya menghampiri Canis yang kini bersedekap sembari melayangkan tatapan tajam padanya.

“Besok aku kerja, siapa yang mau ngurusin kamu kalo sakit gara-gara ujan?!”

Leo tersenyum lebar, merangkul bahu Canis dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.

Sayup-sayup, Canis mendengar suara pengumuman dan orang-orang berbicara bersahutan. Bukan dari earphone, tetapi suara para penumpang kereta. Perlahan, Canis membuka mata, mecopot earphone setelah mematikan iPod dan memasukkannya ke dalam tas.

Mendung masih bergelayut di langit Yogya saat kereta berhenti di stasiun Tugu. Canis beranjak setelah mengusap pipinya yang sembab, memasang rayband hitam dan ikut mengantri ke luar kereta. Tanpa sadar, ia menautkan jemarinya. Canis tersenyum kecut saat ujung telunjuknya menyentuh permukaan cincin yang-sampai sekarang masih-melingkar di jari manisnya.

.

.

.

.

Your favorite is rain,

while mine is dry.

Missing you causing so much pain,

even after you said a proper good bye.

–Canis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s