Ayahku Seorang Nelayan (01/10/15)

paper_boat_by_tiveery-d6o4ii3

Ayahku adalah seorang nelayan.

Dan aku benci laut.

. . .

Kau mungkin bertanya-tanya mengenai kenyataan bahwa ayahku yang bekerja sebagai nelayan dan aku yang membenci laut. Kalau jadi aku, kau pasti mengerti.

Menjadi nelayan, berarti kau harus bersiap menjadi basah karena air asin. Tak peduli dengan musim, baik itu air hangat saat musim panas, atau air sedingin es saat musim dingin. Tak peduli apapun, karena bagaimanapun kau tidak bisa lari ke rumah dan bergelung di kasur empuk bersama keluarga dengan selimut hangat membungkusmu. Kau tidak bisa lari, karena sekelilingmu hanya ada air, jauh dari rumah.

Satu alasanku membenci laut.

Menjadi nelayan, berarti kau harus pandai menjaga diri. Kau harus pintar dan tangguh (ini adalah sebagian kecil hal yang kukagumi dari ayah), kau harus jeli dan peka. Kau harus bisa membedakan rasi bintang dan membaca arah angin. Dua pengetahuan dasar, dua hal superpenting. Karena dua hal itu sesuatu yang paling penting saat berada di tengah samudera. Saat kau sudah terlalu jauh dari rumah, saat kau terlalu jauh dari siapapun. Kau membutuhkannya untuk bertahan hidup, selain air tawar.

Dua alasanku membenci laut.

Menjadi nelayan, berarti kau harus ekstra sabar. Kau harus tetap bersyukur, saat hasil tangkapanmu tidak terlalu banyak. Kau harus tetap tenang, saat penghasilanmu tidak cukup untuk makan seluruh keluarga selama seminggu. Kau harus kuat, kau tidak boleh marah.

Tiga alasanku membenci laut.

Menjadi nelayan, berarti kau harus pergi saat matahari tenggelam. Saat aku tidur, kau berada di atas kapal dengan jala besar penangkap ikan. Menunggu sepanjang malam. Dan kembali pulang kala pagi menjelang.

Empat alasanku membenci laut.

Menjadi nelayan, berarti kau harus selalu siap dengan segala kemungkinan. Seringkali aku berpikir untuk menambahkan bakat peramal dalam syarat-syarat menjadi nelayan. Bakat peramal mungkin berguna, saat kau meninggalkan pantai dalam cuaca supercerah namun tiba-tiba badai datang. Ombak menggulung tinggi-tinggi, saling kejar dan bertabrakan. Kau tidak pernah tahu. Dan tetap datang.

Lima alasanku membenci laut.

Menjadi nelayan, berarti kau harus mencintai laut. Mencintainya melebihi apapun. Sama seperti ayah yang mencintai laut, dan tidak pernah kembali.

-END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s