The Mar(k): PROLOG

Di luar, suara gemuruh guntur dan kilatan-kilatan cahaya menghiasi langit seperti kelab malam. Bedanya tak ada DJ yang memainkan musik. Melainkan suara bulir-bulir air sedingin es yang menabrak permukaan sebagai BGM. Siulan angin dan gesekan daun ikut meramaikan seperti musik akapela. Sore itu cuaca benar-benar buruk. Jalanan sepi-tak ada pejalan kaki atau pedagang kaki lima yang berjualan. Hanya beberapa mobil yang melaju pelan di jalan raya yang terendam banjir setinggi mata kaki. Orang-orang nekad.

Dari kejauhan, sebentuk bayangan berjalan menyongsong badai. Sepatu botnya berdecit-decit, payung dan jas hujannya melambai tertiup angin. Raven Drew berjalan dengan langkah lebar di trotoar. Tak acuh pada pepohonan yang berlenggok ke kanan dan ke kiri di sisinya. Ada hal yang lebih genting dari badai dan kemungkinan tertimpa pohon di trotoar, dan jangan lupakan suhu air dan udara yang mendekati minus kala musim dingin. Ia beruntung, bukan salju yang turun. Atau hipotermialah yang akan menghentikannya untuk melaksanakan misi hari ini.

Di lampu merah pertama, Raven berbelok ke kiri menuju kawasan pernigaan-yang tentu saja tutup saat badai. Mendesah napas kecewa ketika Raven mendapati pintu kaca Family mart tertutup pintu harmonika. Ini di luar rencana. Swalayan mini itu hampir tidak pernah tutup. Dengan segumpal rasa kecewa dan segunung rasa ingin pulang dan bergelung di dalam selimut tebal nan hangat, Raven melanjutkan langkahnya menyusuri pertokoan yang tutup. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, netranya memandang awas di balik kacamata minus tiganya yang buram terkena air. Dalam hati merutuk karena apartemen murahnya cukup terpencil dan jauh dari fasilitas umum juga pertokoan, ia harus berjalan tiga puluh menit untuk sampai di sini.

Giginya bergemelatuk, bibirnya membiru, dan tubuhnya menggigil hebat. Selusin hot pack yang ditempel dibalik jaket tebalnya tidak sanggup menghalau udara dingin yang menyusup. Tapi ia tetap berjalan-berjalan-dan berjalan-sampai langkahnya berhenti di depan kedai ramen. Papan namanya menyala kuning redup, bergemelontang tertiup angin. Raven beranjak ke dalam kedai setelah memastikan namanya.

Kedai kecil itu sepi pengunjung. Hanya seorang pria bermantel hitam yang tengah duduk di pojok ruangan dan dirinya. Seorang koki ramen paro baya berdiri di belakang meja menyambut dan mempersilahkan Raven duduk. Raven tersenyum kecil sembari melepas jas hujan dan menaruh payung-lalu duduk di samping si pria bermantel hitam.

“Kau nekad nona Drew..” Ucap pria mantel hitam di sebelah Raven sambil memainkan gelas teh hijaunya-menggoyangkannya menimbulkan riak di permukaan cairan teh yang mengepulkan uap.

Raven mengacuhkannya sembari menggosok telapak tangan dan meniup-niup jemarinya yang mati rasa.

Mark- si pria mantel hitam-tersenyum miring. “Berikan nona ini menu yang sama sepertiku..”

Raven mengacuhkannya, tapi masih bergeming-enggan menanggapi. Giginya masih bergemelatuk pelan, kendati bibirnya yang membiru sudah mulai menampakkan warna alaminya-coral.

“Ngomong-ngomong, mana es krim mochi pesananku?” Mark menekuk tangan-bertopang dagu menatap Raven yang hanya meliriknya sekelebat.

“Ayolah Drew… jawab aku…”

Raven masih tak mengindahkan lelaki berambut jingga api yang kini menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

Perempuan itu baru akan bersuara ketika semangkuk ramen panas diletakkan di hadapannya. Alih-alih menjawab Mark, ia berterimakasih pada si koki yang dijawab dengan anggukan sebelum menghilang di balik pintu, memberikan privasi untuk kedua pelanggannya.

“Aku lapar Tuan.” Ucap Raven pelan. Ia meniup-niup sesendok kuah ramennya.

“Fine..”

Lima belas menit berlalu dalam diam. Badai masih berlangsung di luar. Gemuruh guntur tak lagi terdengar namun hujan masih turun dengan lebatnya. Angin kencang membuat pintu kayu kedai berderak tak menyenangkan. Mark mengetuk-ngetuk sol karet sepatu botnya di lantai kayu. Sedang Raven meminum kuah ramennya sampai tandas.

“Aku mulai bosan Rav.”

Raven meletakkan sendok, beralih menyeruput teh hijau-panas-nya yang berubah hangat.

“Harusnya aku tak datang.” Raven memulai. “Kau tahu kan aku cuma mortal yang bisa mati karena hal sepele.”

Mark terkekeh. Sudah mengira  jawaban perempuan di sampingnya akan penuh dengan sarkasme.

“Beritahu aku Tuan, kenapa aku merasa sangat menyesal sudah menyetujui kontrak denganmu.” Lanjut Raven. Menatap tepat ke dua iris Mark yang berkilat merah darah.

“Untuk ukuran mortal, kau terlalu berani, nona.” Mark tersenyum kecil. “Kau menyongsong badai, berjalan kaki tiga puluh lima menit, dengan perlindungan seadanya hanya untuk menemuiku.”

Raven mengangguk setuju. Well, tidak ada gunanya takut ketika kau sudah pernah mati sekali. Tidak akan berbeda untuk kali kedua, bukan? Pikir Raven. Meski harus ia akui bahwa tindakannya menghampiri Mark terkesan sangat idiot.

“Kemarikan tanganmu! Ayo salaman, dan kontrak kita resmi dimulai.” Ucap Mark, ketika Raven menaruh gelas teh hijaunya yang juga telah tandas.

Raven mengerling, lalu duduk menyerong ke arah Mark. Tangan kanannya terulur menyambut tangan laki-laki itu.

“It’s official now! Congratulation for your new life, Miss Drew.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s