DOA (20/10/15)

165f6384230bc7d7074d5472432ece70

Hampir dua jam lebih tiga menit berlalu tanpa hasil.

Kass mendongak setidaknya semenit sekali ke arah Fontana di Trevi di depannya. Ia mulai tidak sabar, kakinya bergerak impulsif menghentak-hentak tegel batu di bawahnya.

“Lima menit lagi kalau dia tidak juga muncul, aku pergi dari sini.” Gumamnya dengan tatapan yang masih melekat ke arah kumpulan turis di depan air mancur legendaris itu.

Kass menutup buku yang dibacanya, mendekap How Animals Grieve erat dengan tangan kiri sedang tangan kanan menumpu tubuhnya, siap beranjak saat lima menit yang lebih terasa seperti lima belas detik berlalu tanpa hasil.

Kass sudah menunggunya, tepat pukul tiga ia datang dan duduk di spot kesukaannya. Spot dimana ia bisa dengan bebas memandangi turis-turis yang berdatangan tanpa gangguan. Namun penantiannya sia-sia.

Sudah menjadi kebiasaan sejak ia pindah ke Trevi-empat bulan lalu-untuk pergi ke tempat wisata itu. Awalnya ia datang karena ingin merasakan sensasi menjadi turis, melempar koin dengan membelakangi air mancur dengan harapan bisa kembali mengunjungi Roma. Meski nyatanya ia tinggal hanya sepuluh menit jalan kaki dari sana.

Hari berikutnya ia kembali ke Fontana di Trevi. Pukul setengah empat sore, Kass kembali duduk di spot yang ditemukannya kemarin. Kali ini dengan peralatan menggambar-pensil arang dan buku sketsa-sambil memandang ke arah patung-patung di sekeliling air macur ia mulai memikirkan ide sketsanya. Namun, perhatiannya teralihkan oleh sosok laki-laki yang tengah memejamkan mata sembari melempar koin ke dalam kolam. Laki-laki yang sama seperti yang dilihatnya kemarin.

Kass buru-buru menorehkan pensil ke buku sketsanya, alih-alih menggambar patung indah di sekeliling air mancur, ia justru menggambar laki-laki itu. Tak sampai lima menit, sketsa kasarnya sudah selesai. Di saat yang sama laki-laki itu beranjak dari tempatnya.

Tiap sore sepulang kerja di La Famiglia milik keluarganya, sudah menjadi kebiasaan bagi Kass untuk datang ke Fontana di Trevi. Memotret, menggambar, membaca buku, dan memerhatikan laki-laki itu. Kass dibuat penasaran dengan laki-laki yang selalu datang dan melempar koin ke dalam kolam, namun ia tidak berani bertanya langsung alasan laki-laki itu melakukannya. Jadi, di sini, di spot favoritnya, ia akan menunggu laki-laki itu datang-mengamatinya-lalu pergi.

Begitu selama hampir tiga bulan.

Hari ini dengan rencana yang sama, ia pergi ke Trevi. Berbekal buku karya Barbara J. King, ia menunggunya.

Namun laki-laki itu tidak datang.

Dengan murung, Kass beranjak. Merogoh koin lima euro di kantung jaketnya, melemparnya ke dalam kolam.

“Kalau benar kolam ini bisa mengabulkan permohonan, aku berharap agar kakek Jenkins baik-baik saja dan bisa kembali ke sini besok sore.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s