Ukubutuk (19/10/15)

998fa03bb6fe65d9b95eb9007a289867

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang kutu buku.

Menurutku, menjadi seorang penjelajah “pasif” adalah hal keren dibanding dengan membuang sepuluh dolar hanya untuk segelas minuman di kafe mahal dan bergosip tidak jelas mengenai keburukan orang lain dan melakukan setidaknya seratus selfie untuk pamer di media sosial(ini metafora pertama yang muncul di kepalaku dan tanpa bermaksud menyinggung). Aku tahu kau akan segera menyanggah dengan bilang bahwa “Kita tidak hanya membuang sepuluh dolar untuk minum secangkir Caramel macchiato, tapi juga kemampuan bersosialisasi dengan mengobrol bersama orang lain selama tiga jam di pojok ruangan”. Untuk itu, aku angkat tangan. Karena aku, well… jadi begini, aku seperti tipikal kutu buku di dalam pikiranmu. Kutu buku anti-sosial yang lebih suka menghabiskan waktu menyendiri ditemani novella tebal, bantal-bantal super empuk, selusin Pocky, dan semug besar kopi krim. Aku tipe yang seperti itu.

Tapi, aku juga suka bersosialisasi. Aku tidak terlalu anti-sosial sampai menolak ajakan teman dekatku untuk nongkrong di waktu luang. Aku akan dengan senang hati meninggalkan sebuah cerita petualangan fiksi dengan obrolan santai sehari-hari bersama teman dekatku, bertukar cerita seru penuh kejutan di dunia nyata, berbagi cerita konyol, sedikit curhat tentang kehidupan pribadi, dan pastinya “sedikit” bergosip atau flirting dengan cowok keren yang kebetulan berada di tempat yang sama dengan kami.

Hey, jangan memutar bola matamu begitu, aku ini perempuan. Dan sahabat terbaik perempuan adalah gosip, juga toilet-aku sempat berpikir bahwa ada aturan tidak tertulis saat para perempuan pergi ke toilet setelah kencan buta adalah hal wajib.

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang kutu buku.

Bagiku, yang salah adalah caramu memandang titel dan bagaimana kau menyikapinya. Aku tahu, kau yang bukan kutu buku pasti punya semacam stereotip mengenai kaum kami-yang sebenarnya sebentuk manusia sama sepertimu dan bukannya parasit kecil penyebab bau apek dan suka menggerogoti buku tua. Jangan biarkan stereotip yang cenderung memberimu nilai minus memengaruhimu. Menjadi kutu buku bukan berarti menutup kehidupanmu di dunia nyata dan mengabaikan kehidupan sosial. Kau juga butuh teman, setidaknya orang lain yang bisa kau mintai tolong selain petugas 911 saat terjadi keadaan darurat. Seperti saat kau diajak kencan di jumat malam oleh cowok yang kau suka dan kau sama sekali buta soal fashion dan make-up.

Jadi intinya, menjadi seorang kutu buku tidaklah buruk. Selama kau tidak mengarahkannya ke arah yang salah (aku ini ngomong apa sih?). Pokoknya, kau juga harus memerhatikan kehidupan sosialmu, keluar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan orang lain. Tidak harus pergi ke kafe mahal dan menghamburkan sepuluh dolar untuk segelas kopi. Hanya, cobalah ke luar. Oke? ;).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s