Paman Mus (18/01/16)

e65b63ba1baa0b3587d8f9f69aa1134d

Damar masih ingat betul saat ia pertama kali bertemu dengan Paman Mus.

Hari itu mendung bergelayut setia mengiringi pemakaman ayah dan ibu. Damar baru lima belas saat dua orang petugas satuan lalu lintas mengetuk pintu rumahnya. Ia bahkan belum sempat berganti pakaian sepulang bermain bola sepak di lapangan bersama teman-temannya. Selang dua jam, ambulans yang membawa jenazah orangtuanya sudah terparkir di pelataran. Keluarganya sudah berkumpul membaca Yasin. Tetangga bergotong-royong menyiapkan pemakaman. Bendera kuning diikat di pagar kayu di depan rumah, memberi kabar tersirat bahwa rumah itu tengah berkabung.

Hari itu, Damar tidak hanya kehilangan ayah dan ibu. Secara ajaib, ia juga ikut kehilangan keluarga. Masih segar di ingatan saat keluarganya menunjukkan gestur enggan dan penolakan halus dengan alasan yang jelas dibuat-buat ketika hak asuh Damar diserahkan kepada keluarga pihak Ibu. Ayah Damar sebatang kara. Tidak ada warisan yang ditinggalkan. Rumah yang mereka tinggali hanya rumah kontrakan sederhana yang masa sewanya akan jatuh tempo dalam dua minggu. Damar tidak punya apa-apa.

Damar bukan anak bodoh, ia paham betul mengapa orang yang berhubungan darah dengannya menolak menjadi wali. Tidak ada jaminan. Tidak ada uang yang ditinggalkan untuk Damar. Jika Damar tinggal bersama mereka, maka akan bertambah anggota yang harus dihidupi, bertambah kebutuhan, bertambah beban yang harus ditanggung.

Damar mencoba mengerti. Tapi ia tetap sakit hati.

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kekecewaan Damar saat itu. Ditolak oleh keluarga sendiri. Sebatang kara dan tak punya apa-apa. Mimpi buruk yang terasa terlalu nyata.

Namun, luka hatinya berangsur sembuh saat Paman Mus datang. Paman Mus sahabat ayah sejak kecil. Ayah sering bercerita padanya sebelum tidur tentang kisah petualangan Paman Mus. Paman Mus lelaki tangguh, pintar dan lincah-cerita ayah. Dulu, Damar hanya bisa menerka-nerka seperti apa rupa Paman Mus. Apa seperti tokoh Superman yang pernah ditontonnya di teve? Atau seperti tokoh Woody Toy Story?

Paman Mus terlihat tangguh seperti yang ayah ceritakan. Tubuhnya tinggi dan bugar di umurnya yang melebihi setengah abad. Paman Mus terlihat baik dengan sorot teduh dari kedua matanya. Tangannya terasa kasar saat Damar menyaliminya, namun juga terasa hangat dan nyaman.

“Kamu nanti tinggal sama siapa Damar?”

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Semua pelayat sudah pulang. Menyisakan Damar dan Paman Mus yang duduk di kursi teras.

Damar terdiam. Rasa sesak di dadanya kembali muncul ke permukaan. Dirinya sebatang kara. Ia sendirian. Keluarganya tidak menginginkannya. Dalam sekejap, pikiran-pikiran itu sudah memenuhi kepala Damar. Membuatnya linglung.

Damar terdiam. Matanya memandang kosong ke pelataran. Kerutan di dahi Paman Mus terlihat semakin dalam. Seolah bisa membaca situasi, Paman Mus lalu melanjutkan.

“Kalau Damar mau, Damar bisa tinggal dengan Paman.”

Begitu saja. Damar serasa disentak paksa dari lamunan. Lehernya bergerak impulsif menoleh menatap laki-laki paro baya yang duduk di sampingnya.

Paman Mus sahabat ayah. Meski baru pertama bertemu, Damar yang biasanya canggung dengan orang asing alih-alih merasa nyaman. Tidak ada canggung. Mungkin karena jauh sebelum ia bertemu paman Mus, Damar sudah “kenal” dari cerita-cerita ayah.

“Paman Mus itu orang paling baik yang pernah ayah kenal.”

Lima detik, Damar hanya memandang Paman Mus tanpa berucap. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat.

“Damar bisa tinggal dengan Paman, di rumah paman. Di Sumatera.”

Advertisements

6 thoughts on “Paman Mus (18/01/16)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s