Potret Mei (27/10/15)

Iona Leonidas tidak suka foto.

Terasa aneh baginya untuk melihat cerminan dalam bentuk kertas. Foto itu ibarat mesin penghenti waktu. Menangkap momen dan memerangkapnya dalam satu frame. Bagi Iona, itu menggelikan, juga menyeramkan. Bayangkan saat kau melihat satu potret-sama persis-yang juga memandang balik ke arahmu.

Ironisnya, ia memiliki suami seorang barista yang punya hobi fotografi. Jun tentu saja kebalikan dari istrinya. Ia suka sekali mengambil foto dan mencetaknya. Meski begitu, ia tidak terlalu peduli pada kualitas kamera. Baginya, kamera polaroid tua miliknya sudah cukup. Yang penting adalah siapa pengambil fotonya, bukan apa yang digunakan-begitu nasehat kakek tua pemilik studio foto tiga generasi sebelah rumahnya.

Iona dengan celemek abu-abu terang, rambut dikuncir kuda, satu tangan memegang spatula, dan yang lainnya erat memegang gagang wajan. Perempuan itu sedang memasak sarapan ketika Jun menuruni tangga bersama kamera tua kesayangannya di tangan.

Perempuan yang kini beralih menuang nasi goreng sosis ke wadah besar di meja makan otomatis memutar bola matanya jengah, namun tidak berkomentar. Jun yang memerhatikan ekspresi Iona hanya tersenyum geli. Perhatiannya lalu teralih pada meja makan yang sudah dipenuhi makanan. Nasi goreng, nugget goreng, telur mata sapi, bacon, secangkir teh melati (tercium dari aromanya), segelas susu hangat, dan satu mug besar berisi seduhan kopi untuknya.

Jun lalu duduk dan menyeruput kopinya. Hampir membuka suara ketika terdengar suara langkah kaki kecil dari belakanganya. Seorang gadis kecil dengan rambut awut-awutan, mata setengah terbuka, tangan mungil yang mengucek kelopak mata sedang berjalan ke arahnya. Langkahnya sempoyongan karena kantuk. Jun mengulas senyum lebar, sedangkan Iona sudah terkikik melihat penampilan baru bangun putri mereka yang baru berusia empat tahun itu.

Menahan tawa, Iona menyapa gadis kecil yang sekarang berusaha duduk di kursi makan.

“Hey princess… did you sleep well last night?”

Mei, si gadis cilik hanya mengangguk masih dengan mata enggan terbuka lebar.

Jun yang sedari tadi mengamati putrinya itu kini tengah bersiap dengan kamera di tangan. Bersiap menangkap momen apik setiap saat.

“Tapi kenapa masih ngantuk gitu?” Tangan kiri Jun bergerak menyodorkan mug besar berisi seduhan kopi ke hadapan Mei. “Mei mau coba minum kopi ayah? Supaya ngantuknya hilang.” tawar Jun seraya menaik-turunkan alis. Di seberangnya, Iona menyorotnya dengan tatapan paling tajam. Bisa jadi berarti “Kamu mau mati ya ngasih Mei kopi??!!!”. Tapi Jun tidak menggubris. Perhatiannya masih tertuju pada Mei yang kini mulai penasaran.

Gadis itu tahu benar ayahnya suka minum cairan panas berwarna hitam-kadang cokelat-yang mengeluarkan bau aneh itu. Baunya khas, tapi aneh. Dan ia tidak pernah sedekat ini dengan minuman ayahnya itu. Didorong rasa penasaran, Mei menarik mug besar hangat itu dengan dua tangan. Dengan mata melebar, ia mengamati cairan itu beriak ketika ia menggerakkan wadahnya. Saat sudah di dekatnya, dengan hati-hati si mungil memiringkan gelas, menghirup perlahan isinya.

Satu teguk. Mei menjauhkan mug. Cairan seduhan kopi masih belum ditelan. Pipinya menggembung menahan cairan itu agar tidak langsung masuk kerongkongan, tangan kanan memegang mug sedang tangan kiri sebagai tumpuan menopang kepalanya. Alisnya sedikit menyatu akibat aktifitas otaknya yang kini-mungkin-sedang mengolah informasi yang diterima melalui indera pengecapnya.

Meski setengah mati Jun ingin tertawa keras melihat tingkah putrinya, ia dengan tenang mengarahkan kamera, mebidik momen lucu di depannya dengan kamera tuanya.

Iona yang duduk di seberang mereka tak lagi menatap tajam Jun. Alih-alih menatap penasaran Mei yang menelan kopi pelan-pelan. Ia penasaran dengan reaksi Mei pada kafein pertamanya.

“Coba lihat ini deh…” Jun mendengus geli sembari menyerahkan selembar foto pada Iona. “Dia lucu banget sih!”

Iona-dengan sedikit enggan-mengambil lembaran foto itu.

Tak jauh beda dari Jun. Iapun terbahak seketika melihatnya. Ia harus mengakui kalau potret hitam putih itu menangkap momen dengan sempurna. Tawa itu menular. Ruang makan menjadi riuh oleh suara tawa orang dewasa.

Sedangkan Mei.

Gadis cilik itu hanya diam sambil menatap mug berisi seduhan kopi di hadapannya.

.

.

.

.

“Rasanya aneh!”

 

 

12109235_1012398948820758_5590723414470875272_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s