The Bridge (02/04/15)

amazing-lovely-night-fantasy-decoration-with-clouds-tree-house-light

The untold fairytale

“Aku tidak mau menjadi dewasa.” Sosok di sampingku bersuara.

Sejemang, aku terdiam, lalu menoleh menatapnya yang sedang memainkan ujung rok biru mudanya.

Kuloloskan kekeh pelan, tak kuasa menahan rasa gemas “Kenapa?”

Iris pekatnya bergerak gelisah, menyorotku dengan ekspresi menimbang.

“Aku….” ia tampak ragu.

“Tak apa, kalau kau tidak mau memberitahuku.” Potongku, mengalihkan pandangan ke langit cerah di atas.

Gadis di sampingku sontak mengerucutkan bibir.

“Aku mau memberitahumu.. tapi..”

Aku bergeming, memandangi awan berarak. “tapi?”

“Tapi, kau harus janji satu hal padaku.” Lanjutnya.

“Apa? Aku tidak mau..” balasku kelewat cepat.

Ekspresinya berubah murung dalam milisekon. Aku suka menggodanya, melihat ekspresi kesalnya yang kelewat lucu. Tapi, kali ini ia tak terlihat kesal, alih-alih memunggungiku, membuatku tak bisa melihat ekspresi macam apa yang ditampilkannya.

Namun figur sampingnya yang sedikit bergetar sudah cukup menjawab rasa penasaranku.

Ia menangis.

Untuk pertama kalinya dalam 8 tahun eksistensinya di Neverland.

Alice menangis.

“Hey…” panggilku, mencoba menyita atensinya.

Masih memunggungiku, ia bergumam pelan.

“Aku takut, Peter… menjadi dewasa, kurasa aku tidak akan bisa.” Ujarnya muram. “Kalau aku dewasa, aku akan seperti para manusia itu. Wonderland dan Neverland hanya dunia rekaan dari imajinasi para pembuat dongeng. Aku akan melupakan eksistensi dunia ini dan menertawakan betapa konyolnya imajinasiku saat masih anak-anak.”

Dalam hati, aku menyetujui ucapan Alice.

Pun begitu, pada akhirnya kami harus keluar dari kedua dunia  ini. Suatu saat nanti. Supaya ada Peter dan Alice selanjutnya yang bisa memimpin dan menegaskan esensi imajinasi.

Sore itu, konversasi kami terputus. Alice kembali ke Neverland. Mungkin kembali bertualang dengan Tinker Bell, atau mencari harta karun bersama The Lost Boys. Aku bersyukur tak menemukannya di jembatan penghubung kedua dunia kami. Sepertinya ia sudah lupa mengenai percakapan kemarin.

 

 

Seminggu berlalu.

Aku sudah tak bertemu Alice selama itu.

Barangkali ia sudah benar-benar lupa dengan ketakutannya.

Aku sedang memandangi kastil Ratu Hati dari pucuk pohon saat Cheshire Cat tiba-tiba muncul dan memberitahuku kalau Alice tengah berada di jembatan.

Saat itu aku tahu, Alice belum lupa.

Jika ia keluar dari Neverland, ia harus siap tinggal di rumah penampungan bersama anak-anak yatim piatu yang lain. Tapi jika Alice sudah dewasa, maka tak ada tempat untuk kembali. Tidak di dunia fana, pun Neverland.

Aku memahami ketakutannya. Akupun hanya bisa keluar masuk ketika Wonderland membutuhkan. Suatu saat nanti ketika pintu gerbang tertutup, aku juga tidak akan bisa kembali lagi. Sama seperti Alice. Aku tidak akan punya tempat untuk kembali.

Alice duduk di atas jembatan, kedua lengannya melingkari lutut. Kepalanya ia sandarkan ke tumpukan lengannya. Kedua netranya memandang kosong ke cakrawala.

Sepulang dari pertemuanku dengan Alice saat itu, aku pergi menemui Kelinci. Berharap mendapat solusi atas ketakutan Alice, juga ketakutanku.

Ada ketakutan lain, jauh di lubuk hatiku.

Aku takut tak bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

“Peter?” Alice memanggil saat aku sudah berada di dekatnya. Suaranya parau dan sedih.

Dulu, bola mata Alice selalu berbinar. Memancarkan rasa ingin tahu, semangat, dan kebahagiaan yang menular. Kini, sepasang obsidian itu terlihat kosong. Menatapku sendu.

Aku terhenyak ketika menatap lekat sosoknya yang hampir transparan.

Waktuku tak banyak.

Jika Alice sudah seperti ini. Aku sudah tidak bisa menunda pertukaran  dengannya.

Hari di mana aku menemui kelinci, ia memberitahuku satu cara agar kami tidak lenyap. Sekalipun kutukan dewasa membuat Alice terusir dari Neverland.

.

.

 

“Kau tahu, semesta tidak hanya sebatas Neverland.” Ucapku. “Ada juga Wonderland di seberang jembatan ini.”

 

.

 

.

 

Ya, Wonderland akan tetap menerimanya. Gadis periang yang penuh rasa ingin tahu dan jiwa petualang yang amat besar.

Dengan konsekuensi hidup abadi dan terjebak di dunia yang sama selamanya. Selamanya menjadi anak-anak dan tidak beranjak dewasa. Selamanya hidup dalam dunia di mana magis dan petualangan adalah hal pertama yang didapati kala membuka mata. Namun, saat pertukaran terjadi, maka jembatan penghubung akan lenyap. Dan kami terpisah, selamanya.

.

 

.

 

Alice di Wonderland..

.

 

.

 

Peter Pan di Neverland..

.

 

.

 

.

 

“Memang begitu kan seharusnya?”

 

 

 

 

­-FIN-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s