Jinx

Alan tidak menyangka kalau hari ini ia mendapat lebih banyak kejutan dari biasanya.

Berawal dari pagi ini ketika ia berangkat ke kampus. Alan terlibat aksi kejar-kejaran dengan seekor German Shepherd dan berakhir dengan dirinya yang terperosok ke lubang galian di taman. Ponsel baru yang kreditnya belum lunas terlindas roda truk pengangkut sampah ketika terjatuh dari kantong celananya saat ia berusaha kabur dari si anjing. Kupon makan siang yang diambil paksa oleh si tukang palak-Carlie Lee, meninggalkan Alan merenungi nasib buruknya hari ini di sudut gelap perpustakaan.

Salah apa dirinya sampai kejadian tidak menyenangkan menghampirinya bertubi-tubi. Alan sedang duduk bersandar di rak buku, ketika sebuah buku tebal bersampul keras mencium kepalanya sampai benjol. Mengeluh belum selesai dan nasib buruk kembali menghampirinya. Membuat laki-laki dua puluh lima tahun itu makin putus asa. Mungkin nenek moyangnya pernah membahayakan tanah air dulunya, dan ialah yang menerima karma. Pikir Alan.

Lelah dengan kegiatannya hari ini. Alan berjalan gontai ke halte bus, menunggu dalam diam yang tidak menyenangkan. Sepuluh menit, persegi biru beroda itu berhenti di depannya. Alan memilih duduk di kursi paling depan. Meringkuk seperti kucing kedinginan dengan kepala disandarkan pada kaca jendela, sorot matanya sayu memandang trotoar.

Lima belas menit kemudian, Alan sudah berada di rumah kontrakannya yang dibiarkan gelap. Di sofa ruang tamu, laki-laki itu bergelung dengan selimut berusaha tidur dan melupakan hari buruknya. Dua puluh menit ia bergerak-gerak tidak nyaman sampai kantuk akhirnya datang. Namun, suara ketukan pintu-lebih tepatnya dobrakan-dari luar membuatnya seketika terjaga.

Alan berjalan malas menghampiri pintu. Tidak peduli yang bertamu adalah perampok atau pembunuh berantai. Laki-laki itu langsung membuka pintu tanpa mengintip dari peep hole atau jendela.

Mata Alan melebar melihat seseorang di hadapannya. Seorang gadis basah kuyup dengan luka baret di lengan dan…. apa itu glitter yang di rambutnya?

Refleks, Alan mundur selangkah sembari mengatupkan mulutnya yang sedikit terbuka.

“Alan Carter… keberatan tidak kalau aku masuk?” Tanya  si gadis berpenampilan berantakan itu

Alan bergeser ke samping, menyilakan Velvet Stark memasuki rumahnya. Meninggalkan jejak air dan glitter yang beterbangan di sekeliling tubuhnya yang basah kuyup.

Lima belas detik, Alan terdiam. Pikirannya kosong. Sampai Velvet-si gadis tetangga yang aneh dan pembuat onar-meneriaki namanya, menanyakan di mana toilet tamu.

Alan tersadar, menutup pintu rumah dan berjalan gontai menghampiri Velvet yang berdiri tak sabar karena kedinginan.

Gosh!! What am i getting myself into?

 

 

c524476514ae21de0ea251311e95fbfc
The prompt
Advertisements

2 thoughts on “Jinx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s