Pekat

54ac500fa39457397b0cf30b15018fdb
cr. Pinterest

Perempuan dan gengsinya yang selangit.

Mungkin ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Relatif, tergantung situasi. Seperti perempuan bernama Joanna yang beberapa bulan terakhir terus menyita malam-malamnya yang biasa dipenuhi dengan mempelajari materi untuk mengajar esok. Joanna, perempuan Indonesia yang tinggal dua blok dari flatnya. Perempuan bersurai cokelat tua sepanjang leher, berkulit pucat dan beriris hazel. Perempuan yang ternyata sempat satu sekolah dengannya ketika di Indonesia dulu.

Joanna mungkin satu-satunya perempuan yang melupakan apa itu gengsi. Perempuan yang tidak mau repot menjaga imej di pertemuan pertama. Perempuan yang kadang bisa tertawa keras atau diam tanpa suara mengamati sekitar. Perempuan yang entah bagaimana mulai menginvasi sudut kosong di hati dan kepalanya setelah pertemuan mereka di acara buka bersama di kedutaan Indonesia tahun lalu.

Aras mengacak rambut ikalnya frustasi. Matanya memandang kesal pada layar ponsel yang menyala. Ponselnya berdenting. Satu notifikasi chat baru masuk di grup alumni yang dikelolanya. Aras melirik isi pesan itu kilat lalu menyentuh tanda centang dua berwarna biru. Sesuai dugaan. Nama Joanna termasuk dalam daftar.

Aras kembali meghela napas panjang. Mengantukkan kepalanya pada meja. Ia teringat dengan percakapannya bersama ibu via telepon minggu lalu.

“Kamu ndak pengen rabi ta, Le? Umurmu iku wes nyukupi, kerjamu yo wes enak, gajimu yo lumayan, ngenteni opo meneh? (Kamu nggak pengen nikah, Le? Umurmu sudah cukup, kerjamu juga sudah enak, gajimu juga lumayan, nunggu apa lagi?)” Lagi, ibu menanyainya soal pernikahan. Wajar sebenarnya kalau sang ibu khawatir. Tahun ini ia dua puluh sembilan tahun, single, merantau ke Brunel setelah lolos sebagai penerima beasiswa Chevening tiga tahun lalu dan memilih menetap di Manchester sebagai tenaga pendidik di sebuah SMA. Gajinya lumayan, belum ditambah kerja sampingannya di luar mengajar. Masih bisa untuk mengirim ibu di kampung halaman, juga ditabung untuk masa depan.

Sejujurnya ia ingin sekali menikah. Tapi jangankan melamar, untuk memulai chat saja ia tidak berani. Joanna mungkin perempuan paling realistis yang pernah ia temui. Saat teman-teman mereka menjodohkannya dengan Aras. Joanna terang-terangan menolak mengikuti arus. Ia teguh menutup diri dan hanya sesekali menimpali. Namun Aras tahu, begitulah cara Joanna menjaga perasaannya. Caranya memang ekstrim, ibarat melempar bogem mentah tepat diwajahnya. Joanna ingin memberi pesan tersirat, bahwa ia tidak mau menjadi pemberi harapan palsu. Perempuan itu terlalu baik untuk menerima lamaran seseorang lantaran kasihan.

Anehnya, sikap defensif dan logis Joanna membuatnya semakin tertarik dengan perempuan itu.

..

ja, auf wiedersehen..”

Aras menatap lekat Joanna yang tengah berpamitan dengan pasangan Jerman yang ditemuinya di luar Sport Center.

“Apa?”

“Nggak..” Jawab Aras setelah pulih dari keterkejutannya. Yang dibalas Joanna dengan deheman.

Joanna dan kemampuannya berkomunikasi. Masih menjadi misteri tentang berapa banyak bahasa yang dikuasai perempuan itu. Aras menyadarinya saat geng Indonesia tengah berkumpul. Seringkali ia mendapati Joanna tengah bercakap-cakap dengan orang asing. Dengan bahasa berbeda. Rautnya terlihat serius saat menyimak, tersenyum dan mengerling manis saat menjawab. Lidahnya terlalu fasih mengucap kata-kata asing yang terdengar sangat rumit di telinga Aras.

“Yang lain nggak ikut?” tanya Joanna sambil menali sepatunya.

“Nggak.. kayaknya.” Jawab Aras. Ia sempat menangkap raut kecewa Joanna sebelum perempuan itu menyembunyikannya dengan senyum.

“Kamu nggak mikir ini konspirasi mereka supaya.. you know.” Aras membayangkan Joanna akan berkata seperti itu. Namun nyatanya, perempuan itu justru berdiri dan mulai melakukan pemanasan. Ini Joanna. Dia nggak akan mau ditinggal sendirian di situasi yang awkward.

Aras memilih diam. Mengikuti Joanna menuju lapangan bulutangkis.

Joanna dan isi kepalanya yang tidak bisa ditebak.

“Apa yang bikin kamu tertarik sama aku, Ras?” Tanya Joanna tiba-tiba. Ekspresinya serius, sorot matanya penuh dengan rasa ingin tahu. Membuat Aras tersedak ludahnya sendiri.

Seusai bermain bulutangkis, Aras dan Joanna memilih duduk-duduk di kafe di seberang Sport Center. Matahari sudah sepenuhnya menghilang. Cuaca Inggris yang selalu identik dengan gerimis tak peduli musim membuat Joanna enggan pulang. Ia tidak suka kedinginan. Hujan menjelang musim semi masih cukup membuatnya bergidik meski tubuhnya sudah berbalut coat tebal dan syal.

Joanna mendesis, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Aras. Membuat laki-laki yang tengah duduk di sampingnya itu terbatuk semakin heboh.

Wajah Aras merah padam saat batuknya reda.

Sorry… i mean it. I mean.. i was confused,” Joanna masih menatapnya dengan raut khawatir.

Aras memilih menenggelamkan wajahnya di balik gelas kopinya, meneguk cappuccinonya sedikit lalu menghela napas panjang. “Kamu unik Na.” Buka Aras. “Kamu otentik, logis, cerdas, lucu.. cantik.” Sambung Aras tanpa peduli jantungnya berdentum keras saat matanya menangkap iris hazel Joanna. Untuk pertama kali, Aras melihat Joanna menciut di depannya. Pipi perempuan itu bersemu, iris hazelnya bergerak-gerak.

“am not.. but thanks.”

“Nggak peduli berapa dan siapapun orang yang bilang begitu, kamu pasti masih nggak akan percaya kan?”

“Ya..” Joanna beralih menatap kosong ke luar jendela.

“Why? Segitu nggak percayanya kamu kalau yang mereka bilang itu bener.” Ujar Aras, lebih seperti pernyataan.

Joanna bergeming. Netranya menyapu jalanan di depan Kafe yang tidak terlalu ramai.

“Apa yang bikin kamu takut menjalin hubungan Na?”

Joanna tersenyum masam. “Aku bisa enam bahasa asing Ras.”

“Hah?”

“Dan tiga bahasa daerah.”

Aras terdiam. Menatap lekat figur Joanna.

“Kamu tahu aku selalu skeptis dengan hubungan romantis antar manusia. Otakku selalu menolak percaya bahwa ada orang yang benar-benar cinta sama aku. Karena kalau mereka benar cinta, mereka akan berjuang kan? Mereka nggak akan biarin aku nunggu dalam ketidakpastian, berjuang sendirian, dan akhirnya berhenti. Aku capek terlibat drama, apalagi jadi pemeran utama.”

“Kalau aku perjuangin kamu dan nggak menyerah, apa aku bisa punya kesempatan?”

“Kamu nggak tahu siapa aku Ras.. seperti apa aku sebenarnya ketika aku lepas topeng. Kamu nggak akan cinta sama aku.”

“Maka dari itu, kasih aku kesempatan untuk mengenal kamu. Aku nggak bisa janji sehidup semati, terlalu klise dan kamu nggak akan percaya. Tapi seenggaknya ijinin aku untuk memperjuangkan kamu.” Sorot mata Aras melembut menatap manik hazel Joanna yang juga tengah menatapnya kosong. Perempuan itu mengerling, lalu bibirnya mengulas senyum tipis.

“Kamu tahu, aku udah kasih kamu kesempatan dari dua bulan lalu.” Kali ini Joanna benar-benar tersenyum. Senyum tulus yang memamerkan dua gigi depannya. Membuat perempuan itu terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.

Begitu saja.

Aras merasa lega luar biasa. Laki-laki itu berdehem, lalu balas tersenyum malu-malu dengan semburat merah muda di wajahnya.

.

.

.

.

Little did he know,

The doubt Joanna feel to open up for someone other than Rayan.

 

 

 

 

 

-Fin

 

 

 

Ps:

Saya nulis ini tanpa riset sama sekali. Asal nulis aja yang penting jadi. Kalo istilah gahoelnya sih #justwriteit. Urusan bagus jelek itu belakangan. Yang penting nggak ada typo aja :3

Sudah lama sekali nggak ngeblog. Jadi, bermodal tekad dan pengetahuan saya yang minim tentang Inggris, jadilah cerbung ini. Sebenernya sih saya bikin 2 draft. Yang satu seperti biasa, fokus ke dua pemeran utama Joanna-Rayan. Dan satunya ya ini. Karena ketika nulis Narayan tiba-tiba mood saya hilang. Akhirnya mau nggak mau, yang ini harus selesai. Dan untuk fotonya, susah euy nyari yang sesuai keinginan saya, terpaksa pakai itu.

Makasih sudah berkunjung~

-azure

Advertisements

2 thoughts on “Pekat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s