Dear You

Kamu yang hatinya diselimuti kabut.

Aku kadang menyesal menjadikan kamu alasan utamaku untuk tidak mengaminkan tawaran berkomitmen. Aku juga kadang menyesal karena sudah sering membuatmu terlempar dari zona nyaman. Aku menyesal menjadikanmu pelarian dikala aku sudah terlampau lelah dengan duniaku. Tapi kamu seperti candu. Membuatku ingin berhenti, namun juga memaksaku untuk kembali. Kamu satu-satunya pengingatku bahwa tidak semua yang kamu mau menjadi milikmu. Kamu bukan barang, tentu saja. Kamu jangkarku. Kamu yang menahanku saat terombang-ambing mencari arah. Kamu disana. Tidak melakukan apa-apa. Namun entah kenapa, kamu adalah satu-satunya yang terlintas di kepala sebagai tempatku bermuara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s