Lelaki Beraroma Kopi

d2d1e8279761c5fd3e371eef4d85138b

Tahu tidak susahnya jadi perempuan idealis?

Terlalu sering tidak sependapat dengan orang lain. terutama tentang prinsip dan pandangan hidup.

Aku perempuan idealis. Dan aku tidak percaya dengan akhir bahagia.

Aku tidak percaya bahwa ada orang yang benar-benar mencintaiku dengan tulus.

Aku sudah sering terlibat dengan roman picisan yang penuh drama. Tentu saja aku jadi satu-satunya yang terluka dan tidak tahu apa-apa.

Entah karena sudah terlalu lama hidup mandiri. Aku jadi merasa curiga ketika ada seseorang datang menawarkan bantuan. Lengan untuk bersandar, tubuh untuk dipeluk.

Tapi semua itu hanya kedok dari bagian terdalam dariku. Aku juga ingin merasakan bagaimana dicintai balik oleh orang yang kucintai. Aku juga ingin akhir hidup bahagia seperti yang lainnya. Aku ingin menikah dan punya anak dan menua bersama. Tapi lalu nyatanya hidup tidak semudah itu. Aku bukan penulis skenario, aku hanya pelakon yang bergerak sesuai kehendak pencipta. Ceritaku juga kehendak-Nya. Aku bukan apa-apa.

Aku selalu menahan diri untuk tidak jatuh cinta. Seumur hidup, aku hanya pernah jatuh cinta dua kali. Cinta monyetku saat masih SD dan cinta yang lain yang bertepuk sebelah tangan saat kuliah dulu. Mungkin aku trauma. Mungkin karena cintaku tidak pernah berbalas aku jadi merasa tidak layak dicintai.

Tapi semua persepsiku mulai luntur ketika bertemu dengannya.

Laki-laki beraroma kopi.

Debaran-debaran tak diundang itu datang membawa virus merah jambu transparan yang perlahan-lahan berubah pekat. Adrenalin rush yang kukira hanya datang ketika terjun dari ketinggian saat bungee jumping atau skyfdiving justru berada di titik puncak saat aku menatap kedua netra cokelatnya. Atau saat kaki kami tidak sengaja bersentuhan, atau ketika lengannya menyenggol lenganku. Detak-detak tidak masuk akal yang dulu membuatku kelimpungan. Yang sampai sekarang masih membuatku kebingungan.

Babe..” suara berat agak serak itu menyadarkanku dari lamunan. Kepalaku menoleh ke sumber suara yang kebetulan berada di samping kiriku. Ia menatapku dengan raut penasaran. Seperti berusaha menyusup masuk ke dalam pikiranku dan membacanya. Membuatku tersenyum kikuk. Membalasnya dengan gumaman pelan.

“Lagi mikirin apa lagi? Aku kan disini.” Ucapnya jemawa. Mengundang batuk-batuk yang dibuat-buat dari meja kami. Aku meringis pada teman-teman yang lain. Sedang ia hanya mengedik acuh lalu menyeruput Aceh Gayo tanpa gulanya.

Laki-laki beraroma kopi. Mungkin ia hanya distraksi lain yang Tuhan kirimkan untukku. Atau satu dari beberapa episode cinta tak berbalas yang akan kualami. Atau justru akhir bahagiaku. Entahlah. Sampai aku tahu jawabannya, aku akan tetap disini. Barangkali ia, pun aku berubah pikiran nantinya.

-fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s