Mentari

Malam kian larut. Namun Mentari masih enggan beranjak dari atas karpet dan pergi tidur. Ia lelah dan mengantuk. Tapi keduanya masih tidak cukup membuatnya terlelap begitu tubuhnya bertemu bantal dan kasur. Karna sekalipun ia lelah luar biasa, sel-sel berpikirnya masih bekerja. Sedang ia sudah sangat malas untuk sekedar menorehkan isi kepalanya di atas kertas.

Jadi ia tetap di sana. Duduk memeluk lutut, berselimut kegelapan.
Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Saling bertabrakan menimbulkan reaksi stres yang berlebihan. Belakangan, hidupnya stagnan. Kurvanya stabil membentuk cekungan. Ceruk dalam yang menjadi manifestasi mimpi buruknya. Kuliah, ekonomi, cinta.. semuanya seolah berbalik dan berlari menjauh.

Namun, ia terlalu sadar untuk menyalahkan Tuhan, pun menyalahkan orang lain atas skenario yang telah dituliskan.

Maka, ditengah keremangan lampu ia beranjak. Sudah saatnya untuk berbicara pada Tuhan.

-fin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s