Galau

Satu, dua…

Ulfa menghitung tempo titik-titik air yang awalnya luruh perlahan. Namun sejemang kemudian mulai turun dengan akselerasi selaras.

Sore inipun, hujan lagi-lagi datang. Ia sudah tidak lagi meragukan ramalan cuaca. Sedang musimnya, tentu hujan akan turun hampir setiap hari.

Biasanya, pukul sebelas pagi Kumulunimbus sudah berdiri berjajar di atas kepala. Pukul duabelas, mereka sudah menyebar membentuk kubah abu-abu. Tinggal menunggu waktu sampai rinai mulai berguguran.

“Hujan tidak pernah ragu.” Pikirnya.

Mereka selalu jatuh dengan mantap. Cinta tanpa syaratnya pada bumi yang menyebabkannya demikian.

Bulir-bulir air itu turun. Kadang menari bersama angin-kadang bernyanyi bersama guntur-barang semenit untuk melepas rindu.

Ah, ia jadi iri pada hujan.

Jangankan untuk berkorban tanpa resah.

Sore inipun ia ragu.

.

.

.

.

Indomi rasa apa yang harus dimasaknya kali ini.

-fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s