The Mar(k): PROLOG

Di luar, suara gemuruh guntur dan kilatan-kilatan cahaya menghiasi langit seperti kelab malam. Bedanya tak ada DJ yang memainkan musik. Melainkan suara bulir-bulir air sedingin es yang menabrak permukaan sebagai BGM. Siulan angin dan gesekan daun ikut meramaikan seperti musik akapela. Sore itu cuaca benar-benar buruk.

Teman?

Teman? Aku mulai meragukan titel berpangkat tinggi yang diagung-agungkan para homo sapiens. Aku mulai ragu kalau aku punya satu yang berwujud manusia.

Lonceng

Ia di sana. Duduk menyendiri di tengah perpustakaan yang ramai pengunjung. Lelaki beraroma kopi dan kayu manis. Ia tak pernah pindah dari posisi favoritnya. Sebuah single sofa dan meja kecil dengan vas bunga segar di atasnya. Terletak di sayap kiri perpustakaan, tepat berseberangan dengan jendela dengan pemandangan mengarah ke jalan raya.