Jinx

Alan tidak menyangka kalau hari ini ia mendapat lebih banyak kejutan dari biasanya.

Teman?

Teman? Aku mulai meragukan titel berpangkat tinggi yang diagung-agungkan para homo sapiens. Aku mulai ragu kalau aku punya satu yang berwujud manusia.

Lonceng

Ia di sana. Duduk menyendiri di tengah perpustakaan yang ramai pengunjung. Lelaki beraroma kopi dan kayu manis. Ia tak pernah pindah dari posisi favoritnya. Sebuah single sofa dan meja kecil dengan vas bunga segar di atasnya. Terletak di sayap kiri perpustakaan, tepat berseberangan dengan jendela dengan pemandangan mengarah ke jalan raya.